Gunungan adalah sebuah gambar wayang yang menyerupai gunung. Di bawah gunungan ini terlihat gambar pintu gerbang yang dijaga oleh dua raksasa yang memegang pedang dan juga perisai, gunungan ini memperumpamakan sebuah pintu gerbang istana sewaktu wayang main, gunung ini dipergunakan sebagai istana. Di sebelah atas gunungan terdapat sebuah pohon kayu yang dibelit seekor ular besar dan juga berbagai binatang hutan. Gambar di dalam gunungan ini keseluruhannya melukiskan sebuah keadaan di dalam hutan. Menurut riwayatnya, gunungan ini melambangkan keadaan dunia serta isinya. Sebelum wayang dimainkan, gunungan-gunungan ini ditancapkan di tengah-tengah kelir dengan cenderung sedikit ke kanan, yang berarti lakon wayang belum dimulai. Sesudah wayang ini mulai dimainkan, maka gunungan-gunungan ini akan dicabut dan dijajarkan di sebelah kanan. Gunungan ini juga dipakai sebagai sebuah pertanda akan bergantinya cerita atau lakon, untuk melakukan keperluan ini gununga...
Gunungan adalah sebuah gambar wayang yang menyerupai gunung. Di bawah gunungan ini terlihat gambar pintu gerbang yang dijaga oleh dua raksasa yang memegang pedang dan juga perisai, gunungan ini memperumpamakan sebuah pintu gerbang istana sewaktu wayang main, gunung ini dipergunakan sebagai istana. Di sebelah atas gunungan terdapat sebuah pohon kayu yang dibelit seekor ular besar dan juga berbagai binatang hutan. Gambar di dalam gunungan ini keseluruhannya melukiskan sebuah keadaan di dalam hutan. Menurut riwayatnya, gunungan ini melambangkan keadaan dunia serta isinya. Sebelum wayang dimainkan, gunungan-gunungan ini ditancapkan di tengah-tengah kelir dengan cenderung sedikit ke kanan, yang berarti lakon wayang belum dimulai. Sesudah wayang ini mulai dimainkan, maka gunungan-gunungan ini akan dicabut dan dijajarkan di sebelah kanan. Gunungan ini juga dipakai sebagai sebuah pertanda akan bergantinya cerita atau lakon, untuk melakukan keperluan ini gununga...
Bipang Jangkar merupakan salah satu camilan khas Pasuruan, Jawa Timur. Saking populernya penganan satu ini sering dijadikan sebagai oleh-oleh khas dari daerah Pasuruan. Produk Bipang Jangkar ini dari bahan utama seperti beras pilihan, gula asli, esen dan pewarna khusus makanan. Produk satu ini tidak menggunakan bahan pengawet sehingga hanya bisa bertahan kurang lebih 2 bulan dalam kondisi suhu ruangan. Bila terkena panas berlebihan atau kemasannya dibiarkan terbuka, bipang atau pop corn beras ini cepat rusak. Supaya bipang bisa tahan lama, masukkan bipang ke dalam wadah tertutup, lalu masukkan ke dalam freezer . Bipang akan tetap renyah dan tahan lama. Bipang jangkar pada awal tahun produksinya bernama Bipang Djangkar. Pilihan rasanya pun masih terbatas, antara lain seperti Djangkar Biru (DB), Djangkar Hijau(DH), dan Djangkar Merah(DM). Bipang DB dan DH merupakan bipang rasa vanila. Inilah “ original flavour ” dari bipang. Kemudian rasa vanila dicoba dikombina...
Makanan ini seperti sudah menjadi ikon makanan khas dari kota Pacitan. Tahu tuna bukanlah makanan baru, bentuknya sama dengan tahu bakso hanya saja bakso di dalam tahu ini dibuat dari gilingan ikan tuna. Menu tahu tuna banyak dijumpai di warung-warung makan di Pacitan. Selain dimakan di tempat, tahu tuna juga bisa dijadikan oleh-oleh satu plastik berisi potongan tahu tuna berjumlah 10 biji dijual dengan harga sekitar 7-8 ribu. Cara membuat tahu tuna tidak sulit jadi kita bisa mencoba untuk membuatnya sendiri di rumah, berikut ini bahan-bahan dan cara pembuatannya; Bahan-Bahan : 300 gr tahu putih 200 gr ikan tuna tanpa duri, giling 3 sendok makan tepung terigu 2 sendok makan tepung sagu 2 siung bawang putih, haluskan 1 sendok teh garam ½ sendok teh merica bubuk ½ sendok teh gula pasir Minyak goreng Bahan Pelengkap : Cabai rawit/merah Saus tomat/cabe/mayonnaise Cara Membuat : Pe...
Gunung kelud yang berada di Kediri Jawa Timur ini terakhir meletus pada tahun 2007 lalu. Gunung ini menjadi obyek wisata menarik yang patut dikunjungi jika anda sedang liburan di kota Kediri, banyak kisah dan keindahan alam yang tersimpat disini salah satunya adalah kusah unik sebuah sejarah dan legenda gunung kelud . Cerita Rakyat Kediri Bagi warga Jawa Timur, Gunung Kelud mempunyai legenda panjang. Menurut Sejarah gunung kelud bukan berasal dari sebuah gundukan tanah meninggi secara alami, seperti Gunung Tangkuban Perahu di Bandung, Jawa Barat. Namun legenda dan asal usul Gunung Kelud terbentuk dari sebuah mitos pengkhianatan cinta seorang putri bernama Dewi Kilisuci terhadap dua raja sakti bernama Mahesa Suro dan Lembu Suro. Informasi dari berbagai sumber, dari desa setempat menceritakan kala itu, dikisahkan Dewi Kilisuci anak putri Jenggolo Manik yang terkenal akan kecantikannya dilamar dua orang raja. Namun yang melamar sang dewi bukanl...
Konon pada jaman dahulu kala ketika kerajaan majapahit mengalami serangan dari berbagai daerah penduduk pribumi kebingungan untuk mencari tempat tinggal hingga pada akhirnya mereka terpisah menjadi 2 bagian yan pertama menuju ke gunung Bromo, kedua menuju Bali. Ke 2 tempat ini sampai sekarang mempunyai 2 kesamaan yaitu sama – sama menganut kepercayaan beragama Hindu. Disebut suku Tengger di kawasan Gunung Bromo , Nama Tengger berasal dari Legenda Roro Anteng juga Joko Seger yang diyakini sebagai asal usul nama Tengger itu. “Teng” akhiran nama Roro An-”teng” dan “ger” akhiran nama dari Joko Se-”ger” dan Gunung Bromo sendiri dipercaya sebagai gunung suci. Mereka menyebutnya sebagai Gunung Brahma. orang Jawa kemudian menyebutnya Gunung Bromo . Di sebuah pertapaan, istri seorang Brahmana / Pandhita baru saja melahirkan seorang putra dengan fisiknya sangat bugar dengan tangisan yang sangat keras ketika lahir, karenanya...
Misteri Buaya Putih di Sungai Brantas Kediri . Cerita tutur tentang keberadaan buaya putih di aliran Sungai Brantas sejak zaman kerajaan kuno Kediri hingga sekarang masih saja menjadi misteri yang tak terpecahkan. Sebab sungai yang digunakan sebagai lalu lintas air sejak masa Empu Sindok pada masa Mataram Hindu selalu minta korban nyawa manusia. Berulang kali orang tiba-tiba kalap di sungai yang pernah ditumbali oleh Mpu Baradah saat memecah Kerajaan Kahuripan menjadi dua yakni Kerajaan Panjalu dan Jenggala sekitar tahun 1009. Dan yang terakhir, yang menjadi ‘tumbal’ Sungai Brantas Kediri adalah dua bocah bernama Deny Kurniawan (12) dan Dwi (11), warga Kelurahan Balowerti, Kecamatan Kota, Kediri pada 20 September 2011 lalu. Keduanya tiba-tiba terbawa arus di areal pembangunan proyek Jembatan Brawijaya Kediri yang difungsikan sebagai pengganti jembatan lama yang pada 18 Maret nanti berusia 144 tahun. Cerita tentang penunggu buaya putih ini juga banyak dic...
Pada zaman dahulu di kawasan ujung timur Propinsi Jawa Timur terdapat sebuah kerajaan besar yang diperintah oleh seorang Raja yang adil dan bijaksana. Raja tersebut mempunyai seorang putra yang gagah bernama Raden Banterang. Kegemaran Raden Banterang adalah berburu. “Pagi hari ini aku akan berburu ke hutan. Siapkan alat berburu,” kata Raden Banterang kepada para abdinya. Setelah peralatan berburu siap, Raden Banterang disertai beberapa pengiringnya berangkat ke hutan. Ketika Raden Banterang berjalan sendirian, ia melihat seekor kijang melintas di depannya. Ia segera mengejar kijang itu hingga masuk jauh ke hutan. Ia terpisah dengan para pengiringnya. “Kemana seekor kijang tadi?”, kata Raden Banterang, ketika kehilangan jejak buruannya. “Akan ku cari terus sampai dapat,” tekadnya. Raden Banterang menerobos semak belukar dan pepohonan hutan. Namun, binatang buruan itu tidak ditemukan. Ia tiba di sebuah sungai yang sangat bening airnya. “He...
Wayang Topeng merupakan tradisi budaya dan religiusitas masyarakat Jawa sejak zaman Kerajaan Kanjuruhan yang dipimpin oleh Raja Gajayana sekitar abad ke 8 M. [5] Topeng waktu itu yang terbuat dari batu adalah bagian dari acara persembahyangan. [5] Kemudian pada masa [[Raja Erlangga, topeng dikontruksi menjadi kesenian tari. [5] Topeng digunakan menari waktu itu untuk mendukung fleksibilitas si penari. [5] Sebab waktu itu sulit untuk mendapatkan riasan (make up), untuk mempermudah riasan, maka para penari tinggal mengenakan topeng di mukanya. [5] Wayang Topeng Malangan ini mengikuti pola berfikir India , karena sastra yang dominan adalah sastra India. [5] Jadi cerita Dewata, cerita pertapaan, kesaktian, kahyangan, lalu kematian itu menjadi muksa. [5] Sehingga sebutan-sebutannya menjadi Bhatara Agung . Jadi itu peninggalan leluhur kita, sewaktu leluhur...