La Galigo adalah salah satu karya sastra tradisional yang menceritaan kisah kepahlawanan dalam bentuk syair (Epos). Cerita kepahlawanan La Galigo tidak kalah hebat dengan cerita Mahabarata dan Ramayana dari India. Kisahnya Buku ini berisi kisah orang Bugis, asal Sulawesi Selatan, di masa lalu lengkap dengan sejarah, kebudayaan hingga dongeng-dongeng. Salah satunya menceritakan tentang kisah kepahlawanan, Sawerigading, seorang pahlawan yang gagah berani. Namun, cerita dalam La Galigo bukan sejarah. Hal itu karena di dalam cerita La Galigo penuh dengan mitos dan peristiwa-peristiwa yang sangat luar biasa.Meskipun demikian, La Galigo cukup berjasa karaena dapat memberikan gambaran kepada ahli sejarah mengenai kebudayaan Bugis sebelum abad ke 14. Karya sastra La Galigo ditulis dengan bahasa Bugis asli Galigo. Konon bahasa Galigo saat ini hanya dipahami oleh kurang dari 100 orang. La galigo kini sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Pada tahun 2...
Tolotang (kadang ditulis Tolottang) adalah sebuah kepercayaan yang terutama dianut di Kabupaten Sidenreng Rappang (disingkat menjadi Kabupaten Sidrap), Sulawesi Selatan. Sekitar 5000 warga di wilayah amparita, Kabupaten Sidrap menganut kepercayaan yang sudah turun temurun. Karena pemerintah Indonesia hanya mengakui enam agama, selebihnya dikategorikan sebagai Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, dan penganut Tolotang tidak mau disebut sebagai aliran kepercayaan, mereka menggabungkan diri dengan Agama Hindu. Itulah sampai sekarang dikenal dengan nama Hindu Tolotang. Sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Tolotang
Main Ilu Apui Nama permainan ini adalah “Ilu Apui” (bahasa Lampung yang artinya sebagai berikut Ilu = minta, Apui = api. Jadi dapat diartikan ke dalam bahasa Indonesia = “Minta Api”). Permainan ini dilakukan oleh anak laki-laki dan anak perempuan, tetapi lebih sering dilakukan oleh anak-anak perempuan. Usia para peserta permainan ini adalah berkisar antara 7 sampai dengan 12 tahun dan dimainkan oleh paling sedikit 4 (empat) orang anak. Tidak dipergunakan alat, tetapi dapat pula digunakan alat bantu berupa sepotong kayu atau sepotong tongkat pendek. Kadang kala tanpa memerlukan sama sekali alat bantu tersebut di atas. Jalannya Permainan Mula-mula peserta permainan ini berkumpul dan mengadakan undian atau suit. Mereka yang terakhir kalah dalam suit maka dialah yang menjadi “tukang rampas” dalam permainan ini. Kalau misalnya terdapat 5 orang anak yang mengikuti permainan ini, berarti ada 4 orang anak yang menang dan yang terakhir 1 (satu) orang anak....
Sulawesi selatan salah satu provinsi yang ada di Indonesia yang mempuyai 24 kabupaten dan kota, terbagi atas berapa suku dan bahasa, meskipun demikian banyak yang menjadi dasar patokan kebudayaan yang ada di Sulawesi selatan. Adapun suku-suku tersebut adalah suku bugis, Makassar dan toraja yang paling terkenal dan mempunyai bahasa, bugis, Makassar, toraja dan kojo. Dari berbagai cara inilah yang menjadikan Sulawesi selatan mempunyai banyak keanegaragaman. Selain bahasa, suku, dan yang mencakup kebudayaan adapula rumah adat yang mempunyai makna yang sangat mendalam bagi masyarakat. Rumah adat merupakan bangunan asli di daerah tersebut khususnya Sulawesi selatan. Rumah adat balla lompoa salah satunya adalah rumah adat suku bugis dan Makassar yang membedakan keduanya adalah pemaknaan dan filosofi dari rumah adat di setiap daerah. Di bantaeng ada rumah adat yang paling terkenal yakni balla lompoa tetapi adapula yang...
Rambu Solo’ adalah salah satu upacara adat yang sangat besar di Tana Toraja. Suku yang ada di sini akan melakukan upacara pemakaman secara besar-besaran. Upacara rambu solo biasanya memerlukan persiapan hingga bertahun-tahun bagi mereka yang kurang mampu. Bagi yang berasal dari bangsawan persiapan akan berlangsung selama beberapa bulan saja. Pada upacara ini, keluarga akan melakukan penyembelihan banyak sekali kerbau. Hewan ini biasanya didapatkan dengan harga mahal sehingga tidak jarang rambu solo’ memerlukan dana hingga miliaran rupiah. Sumber: https://www.boombastis.com/pemakaman-unik-indonesia/78979
Paraga merupakan permainan dan olah raga, sekaligus kesenian tradisional asal Bugis-Makassar, Sulawesi Selatan. Berbeda dengan permainan dan olahraga tradisional sepak takraw, paraga dimainkan tidak untuk dipertandingkan, melainkan sebagai atraksi unjuk kebolehan. Paraga juga dimainkan secara beregu dengan jumlah anggota minimal 6 (enam) orang. Dalam paraga, bola rotan dipantul-pantulkan tidak hanya menggunakan kaki, tapi juga kepala dan tangan. Keberadaan passapu, topi segitiga yang diberi lapisan kanji agar mampu menegak, sangat membantu para pemain paraga saat melakukan olah bola dengan kepala. Para pemain paraga juga kerap memanfaatkan sarung yang menjadi bagian dari kostum mereka untuk mengolah bola paraga. Posisi pemain dalam mengolah bola paraga pun beragam. Mulai dari berdiri, duduk, jongkok, hingga berbaring! Paraga pun dimainkan dalam berbagai formasi. Salah satunya, formasi menara yang terbentuk dari tumpukan para pemain yang berdiri di atas bahu pemain lainnya hi...
Berbicara mengenai Masjid Taqwa Tompong, Tentu tak terlepas dengan nilai sejarah perkembangan Islam di Butta Toa itu sendiri. Untuk mengetahui perkembangan Agama Islam di Butta Toa, maka tak salah jika Masjid Taqwa Tompong, yang terletak di Jalan Bete-bete No 11 kelurahan Letta, Kecamatan Bantaeng ini, menjadi salah satu pilihan referensi kita menyelusuri perkembangan islam di Kabupaten ini. Tak hanya itu, kita juga bisa menjadikan wisata spritual. Memasuki Masjid ini, kita akan disamput dengan dua gapura. Gapura ini berbentuk setengah lingkaran.Di dalam mesjid, mata kita akan terpesona dengan relief kuno serta kaligrafi yang diukir di sejumlah sudut masjid ini. Mesjid kuno ini, memiliki atap yang berbentuk tumpang tiga dan berwarna Merah ,Khas bangunan jaman dulu, yang juga mirip atap Masjid Agung Demak. Tak hanya itu, masjid yang didirikan Tahun 1885 ini, dengan panjang sekitar 31 Meter ,serta le...
Sambal Maluku Makassar (sumber: E-book Mahakarya 5000 Resep Makanan dan Minuman di Indonesia)
Sumber: Mahakarya Kuliner - 5000 Resep Makanan & Minuman di Indonesia Suryatini N. Ganie 13 Mei 2013 Gramedia Pustaka Utama