Rindik; alat musik yang terbuat dari bambu utuh dengan panjang yang berbeda-beda yang diletakkan berjejer, dimainkan dengancara dipukul, sehingga menghasilkan suara yang merdu, bisa digunakan untuk mengiringi tari hiburan bernama joged bungbung.
Ceng-Ceng; alat musik yang berbentuk seperti 2 buah keping simbal yang terbuat dari logam, yang dimainkan dengan caramemadukan keping simbal tersebut, dipakai mengiringi gamelan maupun rindik.
Pereret; alat musik ini terbuat dari kayu, yang dibuat menyerupai terompet. Asalnya dari Jembrana -------------------- https://qlapa.com/blog/info-lengkap-alat-musik-bali Pereret merupakan alat musik tradisional Bali kuno yang berbentuk seperti terompet. Banyak orang berburu instrumen antik ini untuk dijadikan koleksi. Pereret dimainkan dengan cara ditiup melalui lubang pada bagian pangkal terompet. Alat musik pereret banyak dibuat di daerah Jembrana, Bali. Pereret sering digunakan oleh masyarakat setempat dalam pentas seni budaya bernama Sewo Gati. Kesenian ini mirip dengan kesenian Arja, perbedaanya terdapat pada posisi penarinya yang hanya duduk. Masyarakat Bali masih memercayai nilai mistis pada pereret yang konon bisa digunakan untuk memikat hati wanita.
Pria : Memakai destar yang dililitkan di kepala dan di bagian kupingnya diselipkan bunga. Bagian tubuh dililit dengan kain dari batas dada hingga kaki. Di bagian punggungnya diselipkan keris Bali. Wanita : Memakai kain songket yang dililitkan di bagian dada sampai kaki. Lalu, di luarnya masih dililit kain lagi, yaitu dari dada sampai bawah lutut. Di bagian pundaknya memakai selendang kain. Rambut wanita Bali memakai sanggul yang dihias dengan bunga.
Rumah Bali yang sesuai dengan aturan Asta Kosala Kosali (bagian Weda yang mengatur tata letak ruangan dan bangunan, layaknya Feng Shui dalam Budaya China) Menurut filosofi masyarakat Bali, kedinamisan dalam hidup akan tercapai apabila terwujudnya hubungan yang harmonis antara aspek pawongan, palemahan dan parahyangan. Untuk itu pembangunan sebuah rumah harus meliputi aspek-aspek tersebut atau yang biasa disebut Tri Hita Karana. Pawongan merupakan para penghuni rumah. Palemahan berarti harus ada hubungan yang baik antara penghuni rumah dan lingkungannya. Pada umumnya bangunan atau arsitektur tradisional daerah Bali selalu dipenuhi hiasan, berupa ukiran, peralatan serta pemberian warna. Ragam hias tersebut mengandung arti tertentu sebagai ungkapan keindahan simbol-simbol dan penyampaian komunikasi. Bentuk-bentuk ragam hias dari jenis fauna juga berfungsi sebagai simbol-simbol ritual yang ditampilkan dalam patung.
Tari Pendet pada awalnya merupakan tari pemujaan yang banyak diperagakan di pura, tempat ibadat umat Hindu di Bali, Indonesia. Tarian ini melambangkan penyambutan atas turunnya dewata ke alam dunia. Lambat-laun, seiring perkembangan zaman, para seniman Bali mengubah Pendet menjadi “ucapan selamat datang”, meski tetap mengandung anasir yang sakral-religius. Pencipta/koreografer bentuk modern tari ini adalah I Wayan Rindi.
Ayam Betutu adalah lauk yang terbuat dari ayam yang utuh yang berisi bumbu, kemudian dipanggang dalam api sekam. Betutu ini telah dikenal di seluruh kabupaten di Bali. Salah satu produsen betutu adalah desa Melinggih, kecamatam payangan kabupaten Gianyar. Ayam betutu juga merupakan makanan khas Gilimanuk. Betutu digunakan sebagai sajian pada upacara keagamaan dan upacara adat serta sebagai hidangan dan di jual. Konsumennya tidak hanya masyarakat Bali tapi juga tamu manca negara yang datang ke Bali, khususnya pada tempat-tempat tertentu seperti di hotel dan rumah makan/restoran. Betutu tidak tahan disimpan lama.
Sulur bunga bali yang dirancang melingkar. Terlihat di Hotel Puri Denpasar, Jakarta.