Teks didaktik tentang kewajiban raja, abdidalem dan rakyat, berdasarkan palupi yang diambil dari sejarah dunia Arab. Teks sama dengan versi cetak, genap 32 pupuh. Informasi lebih lengkap dapat dibaca pada keterangan korpus MSB / L322 Sumber: http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/naskah-kuno/1770#prettyPhoto
Serat roman tentang Panji Asmarabangun, diawali dengan Prabu Lembu Amijaya di Ngurawan mendengar kabar tentang hilangnya Galuh Candrakirana dari istana Khediri, kemudian sang prabu menerima surat dari Prabu Klana Surawibawa di Pundhakpayung yang berkehendak mempersunting Dewi Kumudaningrat. Cerita diahiri dengan pengangkatan dan perkawinan Prabu Anom Suryahantara di Ngla raskandha dan lukisan kerinduan Endhang Turunsih pada Panji Kudawanengpati. Sumber: http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/naskah-kuno/1771
Lakon Lengkap untuk lakon Parta Krama dari siklus wayang purwa, terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama (372 h) berisi pocapan dan kandha, sedang bagian kedua (205 h.) berisi janturan gendhing dan jalan cerita. Cerita dimulai dari maskawin kebo danu dirampas oleh Gatotkaca. Kemudian Burisrawa lapor kepada Prabu Baladewa di Mandura, Akirnya ternyatalah bahwa Arjuna (Parta) yang dapat memenuhi persyaratan mas kawin. Dengan sendirinya Arjunalah yang menikah dengan Wara Sumbadra. Sumber: http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/naskah-kuno/1773
Kumpulan bermacam-macam angger-angger tatakrama (etiket), peraturan, protokol dll. Yang diambil dari tata istiadat, hubungan masyarakat antar kelas dan moral etik, yang diberlakukan di Surakarta dengan segala perubahan dan pengembangannya, sejak jaman PB I di Kartasura sampai dengan PB X. Lihat juga MSB/H10 dan MSB/H4 untuk teks yang mirip. Sumber: http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/naskah-kuno/1764
SK 38 265 Bhs Jawa Aks Jawa Prosa Roll 42 no. 2 Teks lengkap 2 lakon siklus wayang purwa dan 1 lakon siklus wayang kruci, sbb : Lampahan Lahiripun Sekutrem (h, 1-60); Lampahan Janaka Sewu (h. 1-47); Lampahan Bedhaipun pengging, dumadosipun aksara Arab utawi jawi (h.1-51) Sumber: http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/naskah-kuno/1765#prettyPhoto
SB 131a 178 Bhs Jawa Aks latin Macapat Rol 61 no. 1 Alihaksara ini, yang mengambil MSB/L151 sebagai dasarnya, digarap dalam usaha penelitian tentang pengaruh bahasa Arab terhadap bahasa jawa. Transkripsi naskah terdapat pada h.19-156. Hal. 57-161 merupakan koreksi dan kritik, sedangkan h. 162-176 pembahasan pengaruh bahasa Arab terhadap bahasa jawa. Selanjutnya dipersilahkan melihat keterangan bibliografis MSB/L151 Sumber: http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/naskah-kuno/1711#prettyPhoto
Sastra roman Prabu Anglingdharma, diawali dengan Prabu Anglingdharma membunuh ular tampar yang sedang bermain asmara dengan Nagagini, istri Nagaraja, berahir dengan lahirnya Sidura. Dilihat dari urutan pupuh yang digunakan, tidak menunjukkan persamaan dengan edisi Winter maupun perbandingannya. Untuk informasi lebih lengkap lihat keterangan bibliografis no MSB/L27 Sumber: http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/naskah-kuno/1710
Terjemahan Al Quran ini lengkap 30 juz. Edisi cetak yang sangat langka. Halaman depan naskah hilang,termasuk halaman judul, sehingga tarikh serta tempat penerbitan tidak diketahui. Hl. 457-462 merupakan daftar isi menurut tiap tiap juz dan surat. Sumber: http://navigasi-budaya.jogjaprov.go.id/heritage/naskah-kuno/1709#prettyPhoto
SB 72 644 Bhs Jawa Aks Lawa Macapat Rol 17 no. 2 Kronik sejarah kerajaan Mataram dalam pemerintahan Panembahan Senopati sampai dengan Sultan Agung dan Kerajaan Surakarta mulai Pakubuwono II sampai dengan perang Giyanti. Naskah terdiri dari dua bagian: 1. Babad Mataram (110h.). Mulai dengan Nyai Adisara memberikan surat Panembahan Senopati kepada Panembahan Madiun, Bahwa Senopati akan menyerah dan tidak bermusuhan dengan Madiun, dengan janji menyerahkan kembali orang-orang Madiun yang mengungsi ke Pajang. Berahir dengan Tumenggung Alap-alap menyerang malang setelah penobatan R.M. Rangsang menjadi Mataram, bergelar Sultan Agung Anyakrakusuma, untuk versi yang sama isinya, tetapi dengan pupuh yang berbeda, lihat Pretelan II:43-48 (Babad tanah jawi, jilid 2, pupuh 8-40, yang sumbernya dari R. Panji Jayasubrata dantelah diterbitkan di semarang tahun 1886). Babad Giyanti (533 h.). Mulai dipindah...