Bahan : 150 g rebung, iris kasar, rebus sebentar 2 buah mentimun, potong 1 x 3 cm, sisihkan bijinya 100 g kecipir muda, potong 2 cm ½ buah nanas, kupas, potong 2 cm 10 buah bawang merah kecl 3 buah cabai merah, potong 1 cm 1 sdm gula pasir ½ sdt cuka 2 lembar daun salam 2 sdm minyak, untuk menumis Haluskan bumbu : 6 buah bawang merah 4 siung bawang putih 3 cm kunyit garam secukupnya ½ sdt terasi bakar 1 cm jahe 1 cm lengkuas 20 butir kenari, kupas Cara Membuat : Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum. Tambahkan daun salam dan gula pasir. Beri sedikit air. Biarkan hingga mendidih. Masukkan rebung, mentium, kecipir, dan nanas. Masak hingga sayuran layu. Tambahkan bawang merah dan cabai merah. Angkat, bubuhkan cuka. Hidangkan dengan nasi hangat....
Alat musik ini terbuat dari kuningan. Totoboang berasal dari kata tetabuhan yang dalam terminologi bahasa Jawa berarti bermain gamelan. Genre musik ini terdiri dari gong atau dalam bahasa Melayu Ambon disebut "totobuang" yang ditata secara diatonik (diatonic scale), berjumlah 12 - 14 buah. Selain gong terdapat juga minimal 4 jenis tifa (gendang), yakni tifa fikir, tifa fasa, tifa potong dan tifa bas. Masing-masing tifa memiliki nada ritem sendiri. Empat pola ritme pokok itu dapat dikembangkan menjadi beberapa ritme lain, tergantung kualitas pemain. Dalam perangkat musik ini leluhur Maluku dapat menggabungkan tiga kebudayaan besar dunia seperti gong dari Birma, tifa Indo Cina Kuno dan tangga nada diatonik dari Eropa
Alat musik ini terbuat dari bambu. Suling melinang sangat terkenal di daerah Maluku dengan nama Floit. Alat musik ini dimainkan lebih dari 30 orang dalam bentuk akord suara 1,2,3,4. Cara mempergunakannya sama dengan di dunia barat, sebab memiliki suara sopran, alto, tenor dan bass. Suling ini merupakan alat musik impor yang mendapat pengaruh bangsa Portugis dan Belanda yang sangat digemari masyarakat tradisional. Alat musik ini dibuat dari seruas bambu yang salah satu ujungnya diberi penyekat sesuai dengan diameter suling yang dilengkapi dengan 6 lubang nada dan satu lubang tiup. Permainan musik ini ditampilkan pada saat penyambutan tamu, pengiring orkes, resepsi, dan pengiring lagu gerejawi. Selain itu, suling dapat dipadukan dengan alat musik tradisional lain dan alat musik modern.
Alat musik ini terbuat dari kayu dan kulit binatang.Jukulele atau juk termasuk alat musik petik jenis lut, berdawai 4 dan di stem dengan nada 5,1,3,6 (sol, do, mi, la). Jukulele merupakan salah satu alat musik non tradisional Maluku. Walupun musik ini diimpor dari bangsa Portugis sejak abad ke 15 M, namun sudah menjadi bagian alat musik tradisional Maluku. Jukulele berfungsi sebagai pengiring musik Hawaian, keroncong dan lain-lain. Modifikasi jukulele kayu ke tempurung kelapa merupakan hasil masyarakat setempat.
Nasi lapola adalah makanan khas Maluku yang dimasak dengan menggunakan kacang tolo. Beras yang dimasak dengan api kecil sampai setengah matang lalu dicampurkan dengan kacang tolo rebus, kelapa parut, dan garam, lalu diaduk rata. Setelah itu adonan nasi lapola ini dikukus hingga matang.
Satu lagi makanan khas Maluku dengan bahan dasar sagu. Cara pembuatannya: awalnya sagu direndam dalam air dingin selama satu jam. Lalu bumbu-bumbu seperti bawang putih, serai, dan jahe ditumis. Kemudian jeroan ikan dan air dimasukkan dan dimasak hingga matang. Selanjutnya, bawang merah dan bawang putih ditumis hingga kecoklatan. Masukkan santan kelapa cair dan sagu, kemudian masak hingga mengering. Tambahkan santan kental, garam, merica, dan irisan daun bawang. Setelah matang, sagu didinginkan terlebih dahulu. Jeroan ikan dipotong bentuk dadu. Lalu, sagu dan jeroan ikan yang telah dipotong-potong dimasukkan ke dalam daun woka. Terakhir, bungkusan daun woka ini lalu dipanggang dengan bara api hingga kering dan matang. Sagu woku komo-komo ini sangat cocok untuk menjadi lauk untuk makanan utama.
Benteng Belgica pada awalnya merupakan sebuah benteng yang dibangun oleh bangsa Portugis pada abad 16 di Pulau Neira, Maluku. Kemudian, di lokasi benteng tersebut dibangun kembali sebuah benteng oleh VOC atas perintah Gubernur Jendral Pieter Both pada tanggal 4 September 1611. Benteng tersebut kemudian diberi nama Fort Belgica, sehingga pada saat itu, terdapat dua buah benteng di Pulau Neira yaitu; Benteng Belgica dan Benteng Nassau. Benteng ini dibangun dengan tujuan untuk menghadapi perlawanan masyarakat Banda yang menentang monopoli perdagangan pala oleh VOC.
Bahan : 250 g kacang tolo, bersihkan, rendam semalaman 600 ml air 1 lembar daun pandan, robek-robek 500 g beras, bersihkan, cuci 1 butir kelapa agak muda, bersihkan kulit arinya, parut memanjang Garam secukupnya. Cara Membuatnya : 1. Rebus kacang tolo hingga lunak dan cairan mengering. Angkat. 2. Didihkan air dan daun pandan. Masukkan beras, masak di atas api kecil hingga cairan terserap. 3. Campurkan aronan beras dengan kacang tolo rebus, kelapa parut dan garam. Aduk hingga rata. 4. Pindahkan dalam dandang, kukus sekitar 30 menit hingga matang. Angkat. 5. Selagi panas aduk perlahan sambil dikipasi agar nasi menjadi pulen. Alamat & Kontak Penjual: RM. Dua Ikan Jl. Wolter Monginsidi No.1, Lateri, Baguala, Kota Ambon, Maluku (0911) 322177 Sumber: https://cuek.wordpress.com/2010/07/06/nasi-lapola-maluku/
HALUA KENARI Bahan : 200 gr kenari 150 gr gula aren air sedikit untuk melarutkan gula aren (kurleb 25 ml) Cara Membuat: Panggang kenari hingga matang. Lalu cincang kasar Cairkan gula aren dengan air. Setelah gula mencair dengan rata, masukkan kenari panggang, aduk sampai rata. Hangat-hangat bentuk adonan bulat-bulat sesuai selera sampai habis. Agar tidak lengket di tangan, membentuk adonan bisa memakai plastik. Diamkan hingga adonan yang sudah terbentuk dingin dan agak keras, siap untuk dimakan. Selamat mencoba... :) RM yang menyediakan: Klabat Restoran & Catering Jl Gadang No. 37, Tanjung Priok, Jakarta (021) 4352837 Sumber: http://nccjajantradisionalindonesia.blogspot.com/2013/03/halua-kenari.html