Di lereng Gunung Slamet Pemalang, tepatnya di Kecamatan Pulosari, terdapat satu alat musik yang berbeda dari daerah lain. Alat musik itu bernama Bombak. Bombak kerap dimainkan di acara yang digelar untuk memberikan hiburan musik kepada penonton. Apa itu Bombak? Alat musik tradisional yang terbuat dari bambu itu diciptakan Slamet, warga RT 008 RW 002 Desa Pulosari, Kecamatan Pulosari, Pemalang. Slamet Cepet atau Slamet Demit, panggilan akrabnya, mengatakan, meski berbentuk sederhana, bombak dapat digunakan untuk mengiringi lagu bergenre apapun. Bombak bisa Menghasilkan berbagai macam suara. Bisa digunakan untuk mengiringi musik campursari, selawat, bersatu dengan gending Jawa dan lain- lain. Bombak berupa bambu yang memanjang dengan satu lubang di sisi samping. Bentuknya hampir mirip seperti kendang. Cara memainkannya pun diketuk. Namun, bombak dipukul menggunakan stik atau tongkat bambu kecil. Untuk menghasilkan nada berbeda- beda, Anda bisa memukulkan sti...
TRIBUNJENEPONTO.COM, BINAMU - Tradisi Sitobo Lalang Lipa (saling tikam dalam sarung) menggunakan senjata tajam jenis badik, sudah jarang Anda temui di Sulawesi Selatan. Tradisi tersebut meruapakan cara mempertahankan Siri' (malu) suku Bugis-Makassar. TribunJeneponto.com , Rabu (20/4/2017), berkesempatan menonton langsung laga seru itu di perhelatan Olimpiade Olahraga Sekolah Nasional (O2SN) di Lapangan Passamaturukang, Jl Pahlawan, Kecamatan Binamu, Jeneponto, Rabu (20/04/2017) sore. Dua orang remaja dari Ikatan Pencak Silat Seluruh Indonesia (IPSI) Jeneponto memperagakan aksi menegangkan itu. Keduany bernama Erik Zulkifli dan Ardiansyah. Mula-mula kedua pemuda berseragam serba hitam itu masuk dalam sarung. Musik tradisional suling dan gendang pun mulai ditabuh, pertanda pertarungan segera dimulai. Masing-masing mempersenjatai diri dengan sebilah badik yang diselipkan dalam pinggang. Badik terhunus, keduanya pun...
Asal usul tarian ngajat ini tidak diketahui dengan jelas tetapi diyakini telah ada bersama dengan suku Iban sejak abad ke-16. Tarian ngajat diyakini telah dilakukan oleh prajurit mereka setelah kembali dari pertempuran / perburuan. Tarian ini sekarang dilakukan untuk merayakan festival panen paling penting yang disebut ‘ Gawai ‘ dan untuk menyambut tamu penting bagi rumah panjang. Dulu ngajat ditarikan setelah para prajurit Iban kembali dari berperang dan pada masa dahulu pemburu kepala dari suku Iban ini, adalah yang paling bengis di Sarawak. Keindahan tarian ngajat yang terdapat dalam suku Iban merupakan satu indentitas komunitas Iban yang penuh dengan dunia mistik dan keajaiban serta membedakan kaum Iban dari suku-suku kaum pribumi lain di Sarawak. Penari pria akan memakai pakaian tradisional seperti ‘sirat’, ‘gagung’ atau baju burung, juga memakai topi yang dihias dengan bulu-bulu burung. Gagung merupakan se...
Othek, Warisan Leluhur Budaya Suku Osing Kota dengan julukan “Sunrise of Java” kembali menampilkan salah satu kekayaan budayanya, yakni othek. Othek merupakan salah satu alat musik khas dari lesung padi dari Banyuwangi. Alat musik unik tersebut sebenarnya diciptakan dari kebiasaan sehari-hari oleh warga Desa Kemiren, Banyuwangi. Saat para kaum wanita menumbuk padi, maka dengan memainkan alunan musik yang merdu menjadi hiburan bagi mereka sehingga munculkan kesenian musik othek. Alat musik othek merupakan lesung padi berbentuk persegi panjang yang terbuat dari kayu dengan lubang dibagian tengah untuk menumbuk padi. Tak hanya bagian tengah yang dipukul dengan alu, bagian samping dan depan juga menjadi bagian yang dipukul. Dahulu tradisi ini dimainkan oleh Suku Osing pada saat panen padi atau pada saat hajatan. Meskipun kesenian musik ini tergerus jaman, Desa Kemiren rupanya masih berusaha untuk melestarikan othek. Hal ini terbukti dengan penyajian musik oth...
Rending merupakan salah satu alat musik masyarakat Madura yang sangat sederhana bentuknya. Terbuat dari silatan (kulit) bambu dengan ukuran panjang sekitar 12,5 cm. Silatan bambu ini tengahnya sebagian dikerat menjadi belahan memanjang sedemikian rupa halusnya sehingga dapat berfungsi sebagai alat penimbul getaran. Jika pangkal ujungnya ditarik dengan untaian tali yang terikat erat pada pangkal ujung tersebut, maka timbullah suara melalui proses rongga mulut sebagai ruang gema atau resonator. Kalau akan membunyikan, Rending ini ditempatkan diantara bibir atas dan bibir bawah dengan posisi mulut setengah terbuka. Iramanya ditimbulkan dari proses permainan lidah. Lagu Rending bersifat bebas dan spontan menurut selera si pemain. Alat musik rending ini hanya dimainkan oleh satu orang tetapi kadang-kadang dapat dimainkan lebih dari satu orang. Di Pulau Madura alat musik Rending digunakan sebagai hiburan oleh petani di desa, dimainkan saat waktu senggang di kala para petani sedang...
Banyuwangi kembali menampilkan musik populernya yang dikenal sebagai musik kendang kempul. Kendang Kempul telah menjadi identitas paten untuk masyarakat Osing. Seni Musik Kendang Kempul merupakan seni musik yang tumbuh dan berkembang dari kesenian Gandrung. Musik ini memiliki perpaduan musik yang khas dari kendang kempul Banyuwangi dengan irama dangdut khas Musik Melayu. Adapun instrumennya merupakan gabungan dari instrumen tradisional Banyuwangi (kendang keplak, kluncing, kethuk, gong, dan kempul) dengan instrumen barat (keyboard, gitar melodi, dan bass). Namun, musik yang satu ini mengalami perkembangan akibat berkembangnya zaman. Kendang Kempul pun dikolaborasikan dengan style musik yang lain seperti kroncong, reggae, dan koplo. Lirik lagu dari Musik Kendang Kempul berupa Bahasa Osing, yakni bahasa identitas masyarakat Suku Osing Banyuwangi. Lagu-lagu dari Kendang Kempul menceritakan tentang kehidupan sehari-hari sehingga menjadi populer bagi masyarakat Osing bahkan mas...
Dengan bismillah kami ucapkan alah sayang 2x Panting di katik baandung tangan 2x Lagu di alun nang dibawakan alah sayang 2x Kisahnya nasib marista badan 2x Musik panting kita dangari alah sayang 2x Paninggal datu urang bahari 2x Patut dibina dipalajari alah sayang 2x Kita kembangkan disana sini 2x Mangatik panting dibulan tarang alah sayang 2x Duduk basila basangga wihang 2x Marista diri badan saurang alah sayang 2x Manunggu nasib rajaki datang 2x Musik panting nang ditinggali alah sayang 2x Seni hiburan urang bahari 2x Panting dikatik dimalam hari alah sayang 2x Mahibur hati dikala sunyi 2x Sumber: http://www.lagu-daerah.com/2015/04/ampar-ampar-pisang-banjar-kalimantan-selatan.html
Dungkrek atau dongkrek merupakan salah satu jenis musik masyarakat Caruban-Madiun, yang sekarang sudah terkubur keberdaannya atau punah. Alat musik dungkrek terdiri dari : Bedug Keteg, terbuat dari perunggu. Kempul, terbuat dari perunggu. Kentongan, terbuat dari bambu. Gong beri. Kecer, terbuat dari perunggu. Dua buah korek-korek, terbuat dari kayu. Nama dungkrek diambil dari alat musik terakhir di atas yaitu korek-korek. Cara memainkan alat musik korek-korek yaitu ujungnya dipegang dan diputar, maka timbullah bunyi atau suara ‘krek-krek’. Adapun bunyi ‘dung’ nya ditimbulkan dari alat-alat ritmis lainnya seperti bedug. Pada hakekatnya fungsi bunyi-bunyian dungkrek ini adalah untuk mengiringi suatu tarian yang juga dinamakan tari dungkrek. Jadi nama dungkrek meliputi tarian maupun iringan musiknya. Sumber : budayajawa.id/seni-musik-tradisional-dungkrek/
Menurut mitos yang beredar, seni musik tradisional dungkrek ini adalah kesenian yang berfungsi untuk memuja seekor harimau putih yang berdiam di dalam gua. Pada saat Caruban dilanda banjir besar, tempat sekitar gua dimana harimau putih itu berada dapat terhindar dari banjir tersebut. Dari sini muncul kepercayaan bahwa harimau putih tadi dapat menolak banjir. Untuk menyatakan terima kasih kepada Sang Pencipta, diciptakanlah kesenian dungkrek ini. Dalam memainkan musik ini biasanya disertai dengan pengawal dua orang prajurit bersenjata. Mitos yang lain, seni musik tradisional dungkrek diceritakan sebagai hasil karya cipta dari seorang Palang bernama Sastrodipuro. Palang adalah jabatan yang menguasai 3/4 kelurahan.