Bukan tikus-tikus ya. Ntah kenapa nama permainan satu ini jadi mancik-mancik, ada yang tau kenapa? Bahasa Indonesia nya petak umpet, bahasa Inggris nya hide and seek, ntah kenapa bahasa Minang nya mancik-mancik. Permainan ini sih yang paling universal, kapan aja dan dimana aja bisa main nya, tapi sayang anak jaman sekarang jarang main mancik-mancik. Dulu kalo main mancik-mancik pasti ada yang pernah sembunyi di belakang orang yang jaga, dan pas orang yang jaga selesai ngitung langsung deh di tab tembok nya bilang "mancik-mancik", ini ni yang "cadiak buruak" alias gak acih.
Permainan ini di lakukan hampir mirip dengan pak tekong, tapi beda media. Bedanya dengan pak tekong, di beberapa daerah ada yang gak kenal permainan ini, dan beberapa daerah lainnya juga ada yang hanya kenal pak tekong, bahkan ada yang tidak kenal keduanya, karena menggunakan media yang berbeda. Permainan ini dimainkan dengan melempar sendal ke 3 balok kayu/ tangkai ranting yang di berdiri. Dan sama kayak pak tekong rule nya, setelah ranting roboh langsung cari tempat persembunyian.
Permainan cakbur ini juga di kenal dengan Galah Panjang. Tapi kita biasa nya pasti menyebut permainan ini cakbur, karena sebelum memulai permainan ini kita harus menyebut cakbur menjelaskan bahwa kita siap, ready. Pasti dulu siapa yang merasa paling jago dan lari paling ngebut jadi jaga garis paling depan alias "induak", dan kalo jumlah pemain ganjil, pasti teman yang kurang jago di jadiin anak bawang. Kalo dulu berasa kesenggol dikit aja udah langsung bilang kena, efek dramatisir nya yang berlebihan, jadi entah iya kena apa gak hanya dia dan Tuhan yang tahu.
Ntah apa namanya di setiap daerah kamu, tapi yang pasti main kejaran ini siapa yang jadi pasti bakalan "kanai asek" (aduhh, penulis gak tau bahasa Indonesia nya kanai asek, kena asap gak pas, terjemahin sendiri aja yaa), soalnya permainan ini kayak never ending game, yang pernah main ini dulu pasti bakalan ngerti perasaan never ending game dan kanai asek. Pasti salah satu dari pembaca punya bekas luka di lutut atau siku nya akibat dari main kejaran ini kan?
Kain songket merupakan kain tradisional yang berasal dari Sumatera Barat. Sedangkan songket yang cukup populer yaitu Songket Padai Sikek dimana Padai Sikek merupakan nama daerah dimana kain tersebut dibuat. Motifnya pun sangat unik yakni motif kuno asli masyarakat Minangkabau dimana pembuatannya masih secara tradisional yang diwariskan secara turun temurun, dan pembuatannya pun memakan waktu berminggu-minggu ataupun berbulan-bulan. http://krjogja.com/web/news/read/2495/Tak_Hanya_Batik_Ini_Kain_Asli_Indonesia_yang_Mendunia
Daerah yang terkenal dengan menu masakan berupa rendang ini juga merupakan salah satu provinsi di indonesia yang memiliki corak batik khas dan unik. Meskipun sumatra barat atau yang juga biasa di sebut Padang lebih terkenal dengan kerajinan kain tenunnya, namun belakangan batik dan pengerajin batik mulai bermunculan di ranah minang. Motif batik di provinsi sumatera barat bercirikan kehidupan masyarakat daerah setempat, baik itu dari segi sisi kebudayaan maupun kekayaan alam yang terkandung pada bumi sumatera barat. Ada banyak motif batik yang berkembang di sumatera barat, adapun beberapa motif batik yang cukup populer adalah motif batik tanah liek atau tanah liat, motif pucuk rebung, motif batik rangkiang, motif batik itiak pulang petang, motif tumbuhan merambat atau akar berdaun, dan motif keluk daun pakis. Berikut penjelasan dari beberapa motif batik sumatera barat atau padang : Motif Batik Tanah Liek atau Tanah Liat Tanah liek merupakan bahasa minangkabau yang berarti t...
Lamau Kateuba' merupakan karya musik kontemporer Daud Sababalat. Makna Lamau Kateuba yang mengisahkan ritual pengobatan susah dipahami penonton, monotan dan bisa-bisa membosankan. Dua penari berdiri di tengah panggung. Keduanya mengenakan busana khas sikerei (tabib atau dukun di Mentawai) yakni luat (ikat kepala manik-manik) dan kalung manik-manik. Sambil membunyikan jejeneng (genta yang biasa dipakai sikerei saat ritual adat), mereka bernyanyi urai paruangan yang mengisahkan tentang puji-pujian dan memanggil roh. Pada pembukaan pertunjukan, diiringi hentakan kateuba keduanya melakukan gerakan uliat manyang (elang) dan uliat bilou (monyet Mentawai) sambil memegang daun-daun sura yang dipercaya bisa menyembuhkan. Mereka memanggil roh-roh leluhur dan mengusir roh jahat, serta melakukan persembahan yang mengibaratkan memotong ayam. Usai penari memeragakan ritual pengobatan, suara kateuba dan tuddukat yang awalnya terdengar monoton tak lagi...
Suku Minang menggunakan sandal berupa slip on sandal yang terbuat dari kayu yang dinamakan tangkelek, sandal ini masih dapat ditemukan dibeberapa Masjid/Mushola untuk berwudhu.
Anak urang Sabu Andaleh, yo mamak oi Singgah karumah si Sutan Mudo, si Sutan Mudo Singgah karumah si Sutan Mudo, si Sutan Mudo Bia abih oi bialah tandeh, yo tuan ei Hati den kanai kabaa juo, kabaa juo Hati den kanai kabaa juo, kabaa juo Indak dapek musim manyiang, yo mamak oi Musim manuai den nanti juo, den nanti juo Musim manuai den nanti juo, den nanti juo Indak dapek oi tarago bujang, yo tuan oi Baranak ampek den nanti juo, den nanti juo Baranak ampek den nanti juo, den nanti juo Ondeh mandeh sansai badan Ondeh mandeh sansai badan (Ciptaan Ajis Sutan Sati, Dipopulerkan oleh Elly Kasim) ©ourtesy of https://laguminanglamo.wordpress.com/