Tari Serimpi berasal dari Yogyakarta, konon katanya tarian ini sedikit bernuansa Mistis. Awalnya tarian ini ditunjukkan saat penggantian raja di beberapa Istana Jawa Tengah. Menurut cerita masyarakat, tarian ini dapat menghipnotis para penonton menuju ke alam lain. Walau bagaimanapun, tarian ini bertujuan menunjukan wanita yang sopan santun dan sangat lemah gemulai. Seiring dengan zaman tari ini mengalami perubahan dari segi durasi tarian dan kostumnya. Tari Serimpi pun dibagi menjadi beberapa jenis diantaranya Serimpi Genjung, Serimpi Babul Layar, Serimpi Bondan, Serimpi Anglir Mendung dan Serimpi Dhempel. Tarian ini biasanya ditarikan dengan 4 anggota penari wanita, hal ini menandakan unsur api, air, angin dan bumi. Namun seiring dengan zaman jumlah penaripun terkadang menjadi 5 anggota. Pakaian yang digunakan untuk penari Serimpi adalah pakaian yang biasa digunakan pengantin putri keraton. Sedangkan musik yang digunakan adalah gamelan.
Sama halnya dengan suling, karinding juga terbuat dari bambu. Awalnya alat musik ini digunakan untuk mengusir hama, karena bunyi karinding yang low decible akan membuat hama sulit berkonsentrasi hingga akhirnya menjauh dan pergi. Konon katanya juga, alat musik ini digunakan para lelaki zaman dulu untuk memikat hati para wanita. Jika hal itu benar, pastilah karinding menjadi alat musik terpopuler pada zaman itu. Usia karinding tidak diketahui, namun menurut kabar angin, karinding telah ada sebelum kecapi dibuat. Berarti sangat tua ya? Bentuknya pun sangat kecil, panjang 10 cm, dengan lebar 2 cm. Cara memainkannya terlihat gampang, hanya dipukul oleh satu jari pada satu sisi. Lalu ruas tengah ditempelkan pada mulut yang sedikit terbuka, maka karinding akan menghasilkan suara. Namun suara yang dihasilkan karinding bergantung pada rongga mulut, nafas dan posisi lidah. Tentu hal ini sangat susah untuk menghasilkan nada yang indah. Jika kamu pergi...
Upacara yang satu ini sebenarnya lebih berkaitan dengan religi, berdasarkan kepercayaan umat Islam Tapi hanya ditemukan di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat. Sehingga, menjadi sebuah tradisi yang khas dari daerah tersebut. Upacara Tabuik ini digelar sebagai bentuk peringatan atas kematian anak Nabi Muhammad SAW dalam sebuah perang di zaman Rasulullah dulu. Dilakukan pada Hari Asura setiap tanggal 10 Muharram tahun Hijriah. Beberapa hari sebelum datangnya waktu penyelenggaraan upacara ini, masyarakat akan bergotong royong untuk membuat dua tabuik. Kemudian, pada hari H, kedua tabuik itu di arak menuju laut di Pantai Gondoriah. Satu tabuik diangkat oleh sekitar 40 orang. Di belakangnya, rombongan masyarakat dengan baju tradisional mengiringi, bersamaan dengan para pemain musik tradisional. Lalu, kedua tabuik itupun dilarung ke laut. Sumber: https://pusakapusaka.com/5-upacara-tradisional-indonesia-yang-unik-dan-khas.html
Rampai Geurimpheng Kayu Rampai Geurimpheng ditampilkan oleh sepuluh hingga dua puluh pemain dalam posisi duduk bersila membentuk saf. Lantunan syair-syair bernuansa Islam dalam kesenian geurimpheng berpadu dengan iringan musik rapai. Tradisi menyanyikan pujian berfungsi untuk membimbing serta menanamkan rasa keagamaan yang menjadi pandangan hidup masyarakat. Melalui pertunjukan ini, pesa-pesan religius dapat disampaikan secara indah.
Sulim adalah sebuah instrument musik dari Batak Toba yang masuk dalam klasifikasi instrument aerofone (bunyinya berasal dari udara) dan tergolong instrument side blown flute (flute yg dimainkan dengan posisi menyamping). Ciri-ciri sulim terbuat dari bambu (dalam proses pembuatan, bambu direndam dulu di lumpur selama berminggu-minggu sebelum dikerjakan), memiliki 1 lubang tiup dan 6 lubang nada (lubang tiup adalah lubang dimana pemusik menghembuskan udara sehingga instrument berbunyi sementara lubang nada adalah lubang yang ditutup dengan menggunakan jari telunjuk-tengah-manis tangan kanan maupun tangan kiri fungsinya untuk menghasilkan nada sehingga bunyi yang dihasilkan instrument ini variatif). Instrument Sulim pada awalnya merupakan instrument solo akan tetapi pada perkembangannya sulim masuk dalam ansambel uning-uningan dan ansambel sulkib di masyarakat Batak Toba. Teknik permainan pada sulim disebut dengan teknik "Mangarutu" dan "Mandila dilai". Kedua teknik tersebut dikombinasika...
Rapai Pase Kayu, Kulit Rapai Pase termasuk alat musik pukul. Permainan alat musik ini digelar pada malam hari dan dimainkan oleh sekita enam puluh orang. Irama yang selaras sangat indah mengiringi syair bernafaskan agama Islam dan nasehat hidup yang ditampilkan dalam kesenian Rapai Pase.
"Jereh Bu Guru" atau yang artinya (kata bu guru) merupakan sebuah lagu yang berasal daerah Banten, lagu yang di ciptakan oleh A.Syahri Aliman berisi muatan nilai moral yang sangat baik. Dimana seorang anak atau siswa yang dinasehati oleh ibu gurunya untuk berprilaku baik dan santun, ini juga merupakan gambaran dari masyarakat Banten yang terkenal dengan nuansa agamisnya. Disaat masyarakat Banten sepi dengan alunan musik dengan bahasa asli Banten, "Jereh Bu Guru" menjadi penghilang dahaga atas kurangnya lagu asli daerah Banten. Lagu "Jereh Bu Guru" dapat dikatakan fenomenal karena dapat dengan mudah diterima oleh telinga masyarakat Banten, apalagi dengan nilai moral dari lagu tersebu t. A.Syahri Aliman yang juga salah satu guru seni di SMAN 2 kota Serang ini dapat di katakan musisi yang sangat menjunjung tinggi bahasa asli Banten, yang membuat karya-karya ciptaannya dapat dengan mudah di terima oleh Wong B...
Teganing Bambu Teganing termasuk alat musik sitar tabung (idio-kordofon). Teganing dimainkan dengan cara bagian yang berdawai dipukul dengan peguel (stik) dan dalam waktu bersamaan lubang dibawahnya juga dipukul. Teganing khusus dimainkan oleh beberapa orang (gadis-gadis pada saat bersantai di lepo / rumah adat pada waktu sore atau malam hari.
Seurune Kale Kayu Seurune Kale merupakan alat kesenian tradisional dalam kelompok hobo. Seurune Kale banyak ditemui di Kabupaten Pidie Aceh Utara, Aceh Besar dan Aceh Barat. Alat musik tiup ini mempunyai enam lubang sebagai tingkatan nada. Seuruni Kale dimainkan bersamaan dengan geundrang.