Lagia Lagia adalah nama salah satu alat musik tradisional nias walaupun namanya sama dengan benda langit atau asteroid tapi bentuk atau pembuatan alat musik lagia tidak berhubungan dengan asteroid, alat musik lagia hampir sama dengan rebab atau biola bedanya lagia di mainkan dengan cara meletakkan nya diatas permukaan tanah atau apasaja lalu di mainkan dengan cara di gesek. https://www.silontong.com/2018/04/30/alat-musik-gesek-tradisional/
Piso gaja dompak adalah senjata tradisional Sumatera Utara yang sangat terkenal jika dibandingkan dengan senjata tradisional dari Sumatera Utara lainnya. Seperti namanya, senjata ini berbentuk pisau lengkap dengan ukiran gajah di bagian gagang. Sejarah mengatakan jika senjata tradisional ini merupakan warisan Raja Sisingamangaraja yakni Raja Kerajaan Batak pertama. Benda pusaka ini kemudian diwariskan turun temurun dan tidak pernah digunakan untuk berperang sebab percaya jika ada kekuatan magis dalam senjata tersebut. Sumber : https://budayalokal.id/senjata-tradisional/
Kerambit adalah salah satu dari daftar nama senjata tradisional Indonesia yang lebih terkenal dibandingkan senjata Sumatera Utara lainnya sebab serangan yang disebabkan kerambit sangat mematikan bahkan sampai diadopsi US Marshal sebagai senjata wajib tentaranya. Kerambit adalah pisau dengan lengkung siku di bilahnya yang sangat tajam dan memiliki bagian ujung runcing sehingga bisa melukai lawan dengan fatal. Meski luka yang ditimbulkan hanya luka sayatan, akan tetapi bisa menyebabkan luka sampai memutus urat dan otot musuh. Sumber : https://budayalokal.id/senjata-tradisional/
Karih adalah sebutan Minang untuk senjata keris namun dengan ciri khas tersendiri. Senjata Sumatera Utara ini memiliki jumlah lekukan atau luk sedikit, sudut luk yang lebar dan hulu dilengkapi dengan ukiran melengkung ke bawah. Dulunya, senjata ini digunakan para bangsawan dan juga penghulu kerajaan. Namun untuk sekarang, karih hanya dijadikan pelengkap pada pakaian adat pengantin pria minang. Sumber : https://budayalokal.id/senjata-tradisional/
Göndra Göndra atau gendang dalam bahasa Indonesia adalah salah satu alat musik tradisional khas suku nias, tidak jauh berbeda dengan gendang pada umumnya. Alat musik Göndra terbuat dari kulit sapi atau kerbau, suaranya juga sama. https://www.silontong.com/2018/02/07/alat-musik-tradisional-nias/
Nduri Mbewe Duri Mbewe adalah alat musik nias yang sangat unik. Alat musik yang berbentuk gitar perahu ini hanya memiliki satu senar. Gitar satu senar ini hanya memiliki satu nada saja, biasanya dipadukan dengan alat musik lainnya. https://www.silontong.com/2018/02/07/alat-musik-tradisional-nias/
Lagu Daerah Sumatera Utara BUTET Tak hanya orang dari suku Batak saja, lagu ini bahkan sudah familiar bagi banyak orang diluar suku Batak. Lagu BUTET ini adalah lagu yang mengalun dengan tempo pelan dan mendayu ini memang telah melegenda. Bagi anda yang belum tahu, Butet merupakan nama panggilan yang diberikan kepada seorang Bayi Perempuan yang belum diberi Nama secara “resmi”. Untuk bayi laki-laki dipanggil dengan sebutan “Ucok”. Lagu Butet merupakan salah satu Lagu Wajib Nasional, yang masuk dalam Kategori Lagu Perjuangan. https://www.silontong.com/2017/12/10/lagu-daerah-sumatera-utara/
Cikala Le Pongpong Cipt. Daulat Padang Cikala le pongpong oe, ue merbuah si nangka bari le oe si manguda bagendari en dak mengkabari Mela mo cituk kene turang ulang ulaken kene male ulah-ulah nde neidi bagi ulang mo… dak bagi… Kade mo lemlem pagemu pucuk bincoli mo kabir-kabiren kade mo kelleng ate mu anak maholi man pabing-abingen Pong kirpong lepong kirpong http://liriknusantara.blogspot.com/2013/04/cikala-le-pongpong.html
Menurut legendanya, Namora Pande Bosi berasal dari Bugis di Sulawesi Selatan. Dalam pengembaraannya dia sampai ke satu tempat yang bernama Sigalangan di Tapanuli Selatan. Kemudian dia berkahwin dengan puteri raja di tempat tersebut dan terkenal sebagai pandai besi yang mulia. Namora Pande Bosi dan isterinya yang bergelar Nan Tuan Layan Bolan mendapat dua orang anak lelaki yang diberi nama Sutan Borayun dan Sutan Bugis. Pada suatu ketika Namora Pande Bosi pergi meyumpit burung ke tengah hutan dan di sana dia bertemu dengan seorang puteri orang bunian dan mengahwininya. Menurut satu cerita, wanita itu adalah orang Lubu (orang asli). Dari perkahwinannya itu, Namora Pande Bosi mendapat dua orang anak lelaki kembar yang masing-masing diberi nama Si Langkitang dan Si Baitang. Ketika kedua anak tersebut masih dalam kandungan, Namora Pande Bosi meninggalkan isterinya dan kembali ke Hatongga. Menjelang dewasa Si Langkitang dan Si Baitang pergi mencari bapa mereka dan menemukannya di Hatongga...