Pura Rambut Siwi juga merupakan pura terbesar di Bali. Pura Rambut Siwi juga tergolong sebagai Pura Puncak karena letaknya pun juga berada di ketinggian yang lebih tinggi dari Pura Segara dan Pura Penataran. Di Pura Rambut Siwi Anda bisa menapaki tangga yang jumlahnya puluhan untuk mencapai pintu gerbangnya, sebelum itu, di sisi kanan dan jalan menuju pintu gerbang, Anda akan disambut oleh patung penjaga yang mirip dengan singa. Alamat Di Jalan Denpasar—Gilimanuk, Desa Yehembang, Kec. Mendoyo, Jembrana Sumber: http://bali.panduanwisata.id/pura-hindu-bali/7-objek-wisata-religi-di-bali/
Pura Ulun Mumbul berada di area Taman Mumbul. Taman tersebut sangat hijau dan asri, udaranya masih bersih dan sejuk. Sedangkan pura berada di tengah danau di antara Taman Mumbul tersebut. Bagi masyarakat sekitar, Taman Mumbul dan Pura Ulun Mumbul merupakan sebuah kawasan suci. Tempat ini memang sering dipergunakan sebagai tempat Upacara Melasti. Selain itu, danau di tengah-tengah taman juga menjadi sumber air bagi masyarakat Desa Sangeh, untuk mengairi sawah dan memenuhi kebutuhan hidup lainnya. Alamat Kawasan desa wisata Sangeh, Abiansemal, Badung Sumber: http://bali.panduanwisata.id/pura-hindu-bali/7-objek-wisata-religi-di-bali/
Dengan berkunjung ke Pura Dalem Balingkang, Anda tidak hanya dapat memberi penghormatan pada Ida Dalem Kepogan saja. Anda bisa menyaksikan bangunan-bangunan lain seperti Paruman Agung sebagai stana Ida Bhatara Sami dan melihat pelinggih Ratu Ayu Subandar. Ada juga bangunan peribadatan khas Tionghoa di kompleks Pura Dalem Balingkang. Oleh karena itu, di tempat ini Anda bisa merasakan multikultural yang kental. Alamat Desa Pakraman Pinggan, Kec. Kintamani, Kab. Bangli Sumber: http://bali.panduanwisata.id/pura-hindu-bali/7-objek-wisata-religi-di-bali/
Mendengar nama Mekah, Anda pasti teringat Makkah yang ada di Arab Saudi ya? Mekah yang satu ini adalah sebuah pura di Bali yang dipergunakan oleh pemeluk agama Islam untuk ibadah. Di depan pura, Anda bisa melihat dua ekor naga berada di sisi kanan dan kiri pura. Bentuknya tinggi menjulang, bernama Ratu Gede Dalem Mekah dan ada Pura Dalem Mekah Kukuh. Alamat Desa Kubutambahan, Buleleng Sumber: http://bali.panduanwisata.id/pura-hindu-bali/7-objek-wisata-religi-di-bali/
Ribuan pura mengisi daratan Bali dengan sangat kokohnya. Makanya Bali pantas mendapatkan julukan Pulau Seribu Pura. Pura merupakan tempat sakral, suci, diagungkan oleh kalangan umat Hindu Bali. Pura Bali ialah manifestasi dari keyakinan dan keimanan warga Bali yang mayoritas beragama Hindu. Pura Bali merupakan rumah kedua warga Bali setelah rumahnya sendiri, dimana mereka akan berduyun-duyun mendatangi pura ketika momen-momen suci tiba. Pura Alas Paiguman atau lebih dikenal dengan Pura Guman merupakan pura yang kerpa digunakan untuk melangsungkan upacara keagamaan yang sakral dan relijius. Pura ini dikelilingi oleh pepohonan yang cukup lebat, suasanya sangat sepi sehingga sangat pas dan tepat untuk digunakan sebagai tempat melakukan meditasi. Beberapa peninggalan purbakala terdapat di pura ini, terutama peninggalan dari Kerajaan Wharmadewa berupa Lingga setinggi satu meter yang berukutan 70 cm, patung Lembu Nandi, pahatan berbentuk bulan dan matahari. D...
Pura Alas Jagasari merupakan pura di Bali yang memiliki keunikannya tersendiri. Pura ini ialah gabungan dari Bale Agung dan Pura Puseh. Uniknya, disekeliling pura ini dipagari oleh hutan kecil yang berisi berbagai tanaman untuk keperluan upacara keagamaan yang biasanya diadakan di Pura Alas Jagasari ini. Kemungkinan besarnya Pura Alas Jagasari ini memiliki kedekatan dengan kerajaan-kerajaan di daerah Jawa Timur. Mengapa? Terlihat dari corak arsitektur yang ada di pura ini yang lebih menonjolkan arsitektur pada masa Kerajaan Kediri abad ke X-XI masehi. Didalamnya ada dua buah arca kuno yang dipercaya oleh penduduk sekitar sebagai manifestasi dari soso Raja Warmadewa atau Sri Kesari Ratna Bumi Banten dan juga Permaisuri Mahandradatta atau Gunapriya Dharmapadni. Pembangunan Pura Sebagaimana telah disebutkan diatas bahwa pura ini dibangun pada abad X – XI masehi dimasa Kerajaan Bali Kuno Wharmadewa berkuasa. Mengap...
ura Gunung Raung merupakan salah satu pura yang termasuk dalam Pura Kahyangan Jagat yang berada di Bali. Selain begitu disucikan, pura ini juga kerap menarik banyak wisatawan yang berkunjung ke daerah Gianyar khususnya. Salah satu keunikannya ialah bahwa pura ini menghadap ke arah Timur, bisa dikatakan diluar kelazimannya sebuah pura yang biasanya menghadap ke arah Barat. Selain itu, keunikan lainnya yakni pura ini memiliki 4 pintu. 4 pintu itu berada di sekeliling penjuru mata angin: Timur, Utara dan Selatan yang pintunya berbentuk Cendi Bentar. Sedangkan pintu di Barat hanya berupa pintu kecil saja. Makna dari keempat pintu tersebut ialah pemikiran baik dan mulia biasanya muncul dari keempat penjuru mata angin. Tak sedikit orang yang datang ke Pura Gunung Raung ini bertujuan untuk memperdalam keilmuan kerohanian dan keduniawian supaya segala apa yang diinginkannya bisa dikabukan oleh Dewata. Dibangun Diperkirakan pura ini pertama kali d...
Di dalam filsafat Hindu terdapat sepuluh kebajikan, yang dikenal dengan “ Dharma Laksana “, yang terdapat di dalam kitab “ Manu Smrti ” yaitu sebagai berikut: Akrodha (tidak marah), Asteya (tidak mencuri), Atma Vinigraha (pengendalian pikiran), Dama (pengendalian diri atau pengendalian indera), Dhi (kemurnian pikiran), Dhrti (ketetapan dan persistence ), Ksama (pengampunan atau kesabaran), Satya (kebenaran). Sumber: http://bali.panduanwisata.id/pura-hindu-bali/mengaplikasikan-etika-ajaran-hindu/
Gereja Palasari didirikan untuk menjadi tempat ibadah umat Kristiani yang tinggal atau datang ke Bali. Namanya Gereja Paroki Hati Kudus Yesus atau lebih dikenal dengan sebutan yang pendek saja: Gereja Palasari. Gereja ini memiliki beberapa keunikan, terutama dari segi arsitektur bangunan dan usianya yang sudah puluhan tahun. Makanya tak mengherankan tak hanya wisatawan lokal saja yang dayang kesini, namun juga wisatawan asing juga banyak yang berkunjung kesini. Kesejarahan Gereja Palasari berada sejak tahun 1940-an, yang mana seorang bernama Pater Simon Buis membuka sebuah hutan Pala yang kemudian diberinama dengan Palasari (sekarang disebut dengan Palasari Lama). Disinilah Pater Simon membangun sebuah desa yang memiliki Mode Dorf yang desa berbudaya Bali namun tetap bernuansa Katholik yang kental. Lantas, pada tahun 1955, sebuah bukit di kawasan ini diratakan dan dibangunlah sebuah gereja yang kokoh, yang memiliki a...