Asal Daerah : Provinsi Bangka dan Belitung Deskripsi : Tari Tincak Gambus berasal dari kepulauan Bangka Belitung. Ia dimainkan di Festival Zapin Nusantara II, 2-3 Agustus 2008 di Stadium Tertutup JB. Kontributor Youtube: tintaberdarah
Keterangan : Pakaian adat pengantin Kota Pangkalpinang untuk perempuan adalah baju kurung merah yang biasanya terbuat dari bahan sutra atau beludru yang jaman dulu disebut baju Seting dan kain yang dipakai adalah kain bersusur atau kain lasem atau disebut juga kain cual yang merupakan kain tenun asli dari Mentok. Pada kepalanya memakai mahkota yang dinamakan "Paksian". Bagi mempelai laki-laki memakai "Sorban" atau disebut "Sungkon".
Secara umum arsitektur di Kepulauan Bangka Belitung berciri Arsitektur Melayu seperti yang ditemukan di daerah-daerah sepanjang pesisir Sumatera dan Malaka. Di daerah ini dikenal ada tiga tipe yaitu Arsitektur Melayu Awal, Melayu Bubung Panjang dan Melayu Bubung Limas. Rumah Melayu Awal berupa rumah panggung kayu dengan material seperti kayu, bambu, rotan, akar pohon, daun-daun atau alang-alang yang tumbuh dan mudah diperoleh di sekitar pemukiman. Bangunan Melayu Awal ini beratap tinggi di mana sebagian atapnya miring, memiliki beranda di muka, serta bukaan banyak yang berfungsi sebagai fentilasi. Rumah Melayu awal terdiri atas rumah ibu dan rumah dapur yang berdiri di atas tiang rumah yang ditanam dalam tanah. Berkaitan dengan tiang, masyarakat Kepulauan Bangka Belitung mengenal falsafah 9 tiang. Bangunan didirikan di atas 9 buah tiang, dengan tiang utama berada di tengah dan didirikan pertama kali. Atap ditutup dengan daun rumbia. Dindingnya biasanya dibuat dari pelepah/kulit kayu...
Rumah adat Belitung adalah rekonstruksi kreativitas arsitektur Belitung yang kental dengan aliran melayu. Rumah ini adalah bagunan baru, berupa rumah panggung terbuat dari kayu, tetapi menggunakan arsitektur gaya lama. Di dalam rumah terdapat beberapa artefak seni dan kebudayaan masyarakat Belitung, seperti pakaian adat dan perangkat tradisional upacara perkawinan. Rumah Adat Belitung yang terletak di samping rumah dinas Bupati Belitung ini merupakan rekonstruksi Ruma Gede (Rumah Besar) yang berbentuk rumah panggung dari kayu. Rumah adat yang menyimpan artefak seni dan kebudayaan masyarakat Belitung ini terdiri dari 2 bagian, yakni ruang utama serta dapur bersih. Di ruang utama terdapat dioarama sepasang pengantin lengkap dengan pelaminan dan ruang pengantin, ruang tamu, foto-foto Belitung di masa lalu, serta replika tempat makan, peludahan, tipa, kelice, dan lain-lain. Sedangkan di bangunan dapur bersih terdapat aneka peralatan dapur, peralatan pertanian, hingga peralatan bertukang.
Pakaian adat pengantin Kota Pangkalpinang untuk perempuan adalah baju kurung merah yang biasanya terbuat dari bahan sutra atau beludru yang jaman dulu disebut baju Seting dan kain yang dipakai adalah kain bersusur atau kain lasem atau disebut juga kain cual yang merupakan kain tenun asli dari Mentok. Pada kepalanya memakai mahkota yang dinamakan "Paksian". Bagi mempelai laki-laki memakai "Sorban" atau disebut "Sungkon". Kain cual merupakan kain adat Belitung, menyerupai songket dengan motif yang khas. Bahan pakaiannya buasanya terbuat dari sutra ataupun bahan beludru, yang pada masa lampau sering disebut dengan kain Seting .
Panglima Angin adalah gelar yang diberikan kepada Abang Daud dari daerah Mentok (Kecamatan Mentok), Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung (Babel), Indonesia. Gelar itu diberikan kepadanya karena kesaktiannya. Namun suatu ketika, kesaktiannya tersebut ia gunakan untuk membuat kekacauan di mana-mana, sehingga meresahkan masyarakat Mentok. Siapakah yang berhasil menghentikan perilaku Panglima Angin tersebut? Ikuti kisahnya dalam cerita Legenda Panglima Angin berikut ini. * * * Alkisah, di daerah Mentok, Bangka Barat, hiduplah seorang laki-laki bernama Abang Daud. Kerjanya setiap hari hanya membuat kekacauan di mana-mana, seperti mencuri dan merampas barang milik orang lain. Pada suatu hari, Abang Daud menunggu warga yang membawa hasil kebunnya untuk di jual ke pasar. Setelah beberapa saat menunggu, tampaklah dari kejauhan seorang laki-laki setengah baya sedang memikul keranjang berisi sayur-sayuran dan buah-buahan. "Hmmm... ini dia yang kutung...
Prasasti Kota Kapur adalah temuan arkeologi prasasti Sriwijaya yang ditemukan di pesisir barat Pulau Bangka. Prasasti ini dinamakan menurut tempat penemuannya yaitu sebuah dusun kecil yang bernama “Kotakapur”. Tulisan pada prasasti ini ditulis dalam aksara Pallawa dan menggunakan bahasa Melayu Kuna, serta merupakan salah satu dokumen tertulis tertua berbahasa Melayu. Prasasti ini ditemukan oleh J.K. van der Meulen pada bulan Desember 1892. Prasasti ini pertama kali dianalisis oleh H. Kern, seorang ahli epigrafi bangsa Belanda yang bekerja pada Bataviaasch Genootschap di Batavia. Pada mulanya ia menganggap “ÅrÄ«wijaya” adalah nama seorang raja. George Coedes lah yang kemudian berjasa mengungkapkan bahwa ÅrÄ«wijaya adalah nama sebuah kerajaan besar di Sumatra pada abad ke-7 Masehi, yaitu kerajaan yang kuat dan pernah menguasai bagian barat Nusantara, Semenanjung Malaysia, dan Thailand bagian selatan.
Musik bangka tradisional sangat kental sekali dengan budaya melayu nya. Salah satu alat musik kebanggaan daerah bangka adalah Dambus. Dambus adalah semacam alat seperti gitar tapi memiliki karakteristik dan bunyi yang berbeda dengan gitar masa kini. Dambus biasanya dipakai untuk mengiringi acara2 adat, tari-tarian , atau acara lainnya. Dambus sebenarnya juga merupakan alat musik daerah2 melayu dan timur tengah menurut sejarah, namun dalam perkembangan nya ada yang membedakan dambus bangka dengan yang lainnya. Bentuknya kira2 alat musik dambus adalah seperti gambar dibawah ini pada umunya : Pertama adalah bentuk kepala dambusnya berbentuk rusa yang merupakan binatang maskot Bangka. Kemudian senar nya ada 6, masing2 ad 3 pasang, 3 di atas dan 3 di bawah. musik dambus dengan irama denting dawainya yang khas menyimpan sejuta rasa yang lain dibandingkan musik lain. Musik dambus dimainkan dengan diiringi lagu dan tarian khas melayu yang di Bang...
Setiap masyarakat tentunya memiliki agama sebagai kepercayaan yang mempengaruhi manusia sebagai individu, juga sebagai pegangan hidup. Di samping agama, kehidupan manusia juga dipengaruhi oleh kebudayaan. Kebudayaan menjadi identitas dari bangsa dan suku bangsa. Suku tersebut memelihara dan melestarikan budaya yang ada.Kebudayaan sebagai hasil dari cipta, karsa dan rasa manusia menurut Alisyahbana; merupakan suatu keseluruhan yang kompleks yang terjadi dari unsur-unsur yang berbeda-beda seperti pengetahuan, kepercayaan, seni, hukum, moral, adat istiadat, dan segala kecakapan yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.( 1 Bustanudin Agus, Islam dan Pembangunan, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), hal. 15) Dalam masyarakat, baik yang kompleks maupun yang sederhana, ada sejumlah nilai budaya yang satu dengan lain saling berkaitan hingga menjadi suatu sistem, dan sistem itu sebagai pedoman dari konsep-konsep ideal dalam kebudayaan memberi pendorong yang kuat terhad...