Kontributor YouTube: balagu1 Cakalele merupakan tarian tradisional Maluku yang dimainkan oleh sekitar 30 laki-laki dan perempuan. Para penari laki-laki mengenakan pakaian perang yang didominasi oleh warna merah dan kuning tua. Di kedua tangan penari menggenggam senjata pedang (parang) di sisi kanan dan tameng (salawaku) di sisi kiri, mengenakan topi terbuat dari alumunium yang diselipkan bulu ayam berwarna putih. Sedangkan penari perempuan mengenakan pakaian warna putih sembari menggenggam sapu tangan (lenso) di kedua tangannya. Para penari Cakalele yang berpasangan ini, menari dengan diiringi musik beduk (tifa), suling, dan kerang besar (bia) yang ditiup. Tari Cakalele disebut juga dengan tari kebesaran, karena digunakan untuk penyambutan para tamu agung seperti tokoh agama dan pejabat pemerintah yang berkunjung ke bumi Maluku. Keistimewaan tarian ini terletak pada tiga fungsi simbolnya. (1) Pakaian berwarna merah pada kostum penari laki-laki, menyimbolkan rasa heroisme terhadap bum...
Deskripsi : Tari Katereje Lompat Gaba-Gaba adalah tarian yang berasal dari Maluku, tarian ini dilakukan oleh para muda mudi dan para wanitanya membawa sapu tangan. Kontributor Youtube : torasham
Keterangan: Tari Tifa selalu dipersembahkan untuk menyambut para tamu di Maluku Tenggara. Gerakan-gerakan yang ditampilkan penarinya sangat menarik.
Ole sioh, sayang la di lale Apa tempo, bale la kembali Ingat Ambon, tanah tumpa darah Lagi ibu, bapa dan saudarah Mana kala beta sakit Hati beta tra senang Duduk murung serta tangis air mata tumpalah bale muka kanan kiri Mama papa tra ada Siapa siapa tolong beta Beta ini asinglah Ole sioh, sayang la di lale Apa tempo, bale la kembali Ingat Ambon, tanah tumpa darah Lagi ibu, bapa dan saudarah Ambon tanah jang kucinta Meski hina rupamu Beta tidak akan lupa Slama hajat hidupku Beta ingin mau pulang Asal pandjang umurku Asal sadja Tuhan sajang Lagi ada serta-ku Ole sioh, sayang la di lale Apa tempo, bale la kembali Ingat Ambon, tanah tumpa darah Lagi ibu, bapa dan saudarah
Waktu hujan sore-sore kilat sambar pohon kenari E jujaro deng mongare mari dansa dan manari Pukul Tifa toto buang kata balimbing dikareta sio nyong hati tuang jangan geser tinggal beta e . . . manari sambil goyang badan e manari lombo, pegang lenso manisse la rasa rame, jangan pulang dolo e . . e . . . manari sambil goyang badange manari lombo, pegang lenso manisse la rasa rame, jangan pulang dolo e . . Rasa rame, jangan pulang dolo e Waktu hujan sore-sore kilat sambar pohon kenari E jujaro deng mongare mari dansa dan manari Pukul Tifa toto buang kata balimbing dikareta sio nyong hati tuang jangan geser tinggal beta e . . . manari sambil goyang badange manari lombo, pegang lenso manisse la rasa rame, jangan pulang dolo e . . Rasa rame, jangan pulang dolo e
Nusaniwe, Nusaniwe dan tanjung Alange sioh, Di waktu beta di waktu beta dari Ambone sioh Ombak pukul ombak pukul ke badan kepale sioh, La hati beta hato beta tra ka ru ane tra karuane Ombak putih putih, Sio ombak datang dari laute Kipas lendo putih, Sio tanah Ambon sudah jauh
Sayang kene rasa sayang kene, lihat dari jauh rasa sayang kene Ombak putih-putih ombak datang dari laut kipas lenso putih tanah Ambon sudah jauh Ole sioh sioh sayange lah rasa sayange Sayang dilale apa tempo tuan balik ya nona ole sioh sayange La gelange la gelange la mari topu topu gelange Sengaja topu tangan topu tangan rame-rame, rame-rame gelange la balenggang lombose
Burung kakatua Hinggap di jendela Nenek sudah tua Giginya tinggal dua Lesbum Lesbum Lesbum la la la Lesbum Lesbum Lesbum la la la Lesbum Lesbum Lesbum la la la Burung kakatua
Hura-hura cincin hura-hura lempar Kasih jalan cincin janganlah ditahan Rame rame duduk di jembatan la lempar batu seorang satu Rame rame duduk berhadapan, nona, ambil pantun seoranglah satu Ole sioh rasa sayang rasa sayange lakona badan kona badane Buang badan ke rumah lah tangga, nona, ingat bujang selalu manise