Patung ini terbuat dari kayu nangka. Dahulu patung jenis ini sengaja dibuat sebagai perwujudan dari Debata Idup (Mulajadi Na Bolon) yang dianggap sebagai pelindung bagi kelompok atau marga pembuatnya. Dewasa ini patung jenis ini tetap dibuat namun telah berubah fungsi menjadi sejenis hiasan.
Dibuat dari anyaman rotan, digunakan untuk tempat ikan ataupun susuban berisi ikan. Biasanya digantung di dapur agar ikan aman dari pemangsa lain (misalnya kucing).
Sorha adalah alat yang digunakan untuk memintal benang pada saat bertenun. Ada 2 jenis sorha, yaitu Sorha Pat (menggunakan kaki) dan Sorha Tangan ( menggunakan tangan).
Hoda-hoda terbuat dari kayu keras. Dahulu dibuat sebagai lambang kendaraan ke khayangan.
Dipasang di pintu utama rumah adat dengan maksud melindungi selurug penghuninya. Ornamen ini merupakan ukiran kayu seseorang dengan ayam berkokok dikepalanya, dalam posisi mempersembahkan cawan, dan menunggangi seekor singa. Ukiran/ penutup wadah tersebut memiliki panjang sekitar 10,5 cm, sedangkan wadahnya 23,5 cm. Alat ini dibuat sekitar akhir abad 19.
Berupa alat pahat, kikir, palu kecil, yang dulunya digunakan untuk memahat/membentuk bagian depan gigi. Kesemua peralatan ini disimpan didalam kotak yang terbuat dari kayu.
Merupakan pahatan kayu yang melambangkan tunggangan nenek moyang menuju kayangan.
Berupa patung kayu yang diletakkan di sisi samping rumah. Selain dianggap berguna melindungi penghuni dari kekuatan jahat, Singa-singa juga melambangkan status sosial pemilik rumah. Bentuknya merupakan perpaduan antara singa dan gajah yang merupakan gambaran dari Naga Padoha (dari dunia bawah). Digambarkan dengan mata yang besar, satu tanduk yang memanjang keatas.
Tempat sirih wanita batik yang ornamennya merupakan hiasan manik-manik.