Penelitian sosial budaya di Jingkungan masyarakat Asmat sebenarnya sudah banyak dilakukan orang. Akan tetapi informasi mengenai corak kepimpinan tradisionalnya masih amat sectikit diketahui orang. Tulisan-tulisan yang ada selama ini cenderung menggeneralisir puakpuak (sub-sub) suku bangsa Asmat sebagai suatu kesatuan sosial tribal yang utuh. Sebaliknya masyarakat Asmat masih dapat kita uraikan kepada puak-puak kesukubangsaan yang masing-masing memiliki corak kehidupan sosial tertentu, dan terbentuk oleh penggabungan (konfederasi) kelompok karena alasan sosial, politis dan ekonomis tertentu. Kekosongan dalam penjelasan inilah yang ingin kami ungkapkan dalam tulisan ini. Sumber: http://repositori.kemdikbud.go.id/7685/
Buku fiksi ini bercerita tentang seorang anak yang bernama Doni, yang tinggal di kota besar dan terbiasa dengan hiruk-pikuk kehidupan kota besar. Dia berkunjung ke Badui bersama pamannya yang bernama Juna. Doni menemukan sahabat barunya yang bernama Sapri yang mengenalkan sikap kemandirian, pantang putus asa, dan kehidupan masyarakat Badui yang sederhana dan selalu menjaga lingkungan. Sumber: http://repositori.kemdikbud.go.id/11151/
Suku banga Besemah mendiami wilayah administratif Kota Pagaralam Provirni Sumatera Selatan. Wilayah ini hanya sebagai batasan administratif dalam wilayah kebudayaan Besemah. Meskipun demikian, masyarakat umum telah mempersempit wilayah Besemah hanya sebatas daerah adminis tratif saat ini, padahal hila dilihat dari aspek sejarah, penyebaran kebudayaan Besemah sudah mencakup berbagai daerah adminis tratif baik di Provinsi Sumatera Selatan maupun di Provinsi Bengkulu. Penyebaran ini juga diikuti dengan perubahan identitas dengan membentuk sebuah suku bangsa bam mauptm dengan tetap mempertahankan identitasnya. Suku bangsa Semende di Kabupaten Muara Enim dianggap sebagai suku bangsa baru yang dibentuk dari suku bangsa Besemah. Penyebaran lainnya hingga di Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu namun dengan beherapa atribut budaya Besemah yang sudah berubah. Sumber: http://repositori.kemdikbud.go.id/10882/
Keberadaan berbagai paguyuban atau perkumpulan kedaerahan yang banyak tersebar di kota besar di Indonesia tidak terlepas dari kemajemukan bangsa Indonesia. sebagai akibat dari pembangunan di berbagai bidang, seperti transportasi, teknologi dan informasi yang semakin tinggi intensitasnya ternyata mampu memacu perkembangan perkumpulan daerah atau paguyuban sebagai kelompok sosial tertentu dalam masyarakat yang tak terpisah dari kesatuan masyarakat perkotaan setempat. Paguyuban kedaerahan adalah perkumpulan yang anggota-anggotanya berasal dari satu daerah yang sama. Atau dapat juga berdasarkan pada kesamaan etnis. Oleh sebab itu, dalam perkembangannya paguyuban ini pun lebih mengetengahkan fungsi aktif dan peran bagi para anggotanya yang berpatisipasi aktif karena terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan ekonomi, sosial, serta jatidiri di dalam suatu kelompok masyarakat yang lebih luas dan heterogen. Dengan demikian, setiap paguyuban setidaknya berusaha menyiasati berbagai hubungan sosial yang...
Rawa adalah daratan yang secara periodik atau terus menerus digenangi air, Menurut kondisi airnya, rawa dapat dikategorikan atas rawa payau dan rawa tawar. Rawa payau biasanya berada dekat laut, sedangkan rawa tawar umumnya berada di pedalaman. Di Indonesia luas rawa adalah sekitar 35 juta atau 17% dari luas wilayah daratan, suatu areal yang karena luasnya sangat potensial sebagai sumber daya alam (peta I ). Dalam kenyataan sejumlah kelompok masyarakat dengan Jatar belakang budaya yang berbeda-beda sudah sejak lama memanfaatkan daerah rawa sebagai tempat permukiman dan sumber penghasilan dalam bentuk pertanian dan atau perikanan. Sungguhpun demikian secara keseluruhan kehidupan masyarakat di daerah rawa memperlihatkan suatu corak yang khas, berbeda dengan kehidupan masyarakat di medan yang kering. Sumber: http://repositori.kemdikbud.go.id/10913/
Penerbitan buku Kampungku Di Sulawesi Tenggara ini dilakukan dengan tujuan meningkatkan apresiasi masyarakat khususnya generasi muda terhadap budaya bangsa yang beraneka ragam. Tulisan ini secara umum juga diharapkan dapat menjadi bahan kajian untuk masyarakat dalrun menghayati nilai-nilai luhur budaya bangsa dan ikut berperan serta dalam usaha pelestarian, pembinaan dan pengembangan budaya bangsa. Buku terbitan ini tentunya masih jauh dari sempuma, oleh karena itu kritikan dan saran akan kami terima dengan senang hati. Akhimya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian penelitian buku ini,kami ucapkan terima kasih. Sumber: http://repositori.kemdikbud.go.id/10620/
Pepatah-petitih Minangkabau menyebutkan, "Adopun nan di sabuik parampuan, tapakai taratik jo sopan, mamakai baso jo basi, tau di ereng jo gendeng". Maknanya, kaum perempuan mesti memiliki budi pekerti yang baik sebegai penerus garis matrilineal, memelihara sopan santun dalam tata pergaulan, basa-basi, mengenali kondisi, dan memahami posisinya. Selanjutnya, mamakai raso jo pareso, manaruah malu jo sopan, manjauhi sumbang jo salah, muluik manih baso katuju, kato baiak kucindan murah, pandai bagaua samo gadang. Artinya, perempuan harus mempunyai perasaan dan peduli, cerdas, ammpu mengendalikan emosi, memiliki rasa malu, menjauhi perbuatan salah, tidak berperangai tercela (sumbang), tutur kata disenangi orang, bertutur baik, penyayang, dan pandai bergaul di kalangan sebaya. Maknanya, perempuan harus menjaga marwah kampung halaman, pandai menata dan menghadirkan kebahagiaan di rumah tangga, pandai menuntun anggota keluarga kepada yang baik, menghimpunkan yang terserak di antara keluarga,...