Nama tari rong tek mungkin masih terdengar asing di telinga masyarakat Jawa Tengah. Tapi jika ditelisik, tari rong tek merupakan tari kreasi yang berembrio dari tari lengger banyumasan . Secara etimologi, nama “rong tek” yang terdengar unik ini berasal dari dua kata. “Rong” diambil dari suku pertama kata “ronggeng”, yang dalam bahasa Banyumas bisa diartikan sebagai penari atau lengger . Sementara, “tek” diambil dari suara kentongan bambu yang menjadi properti pementasan. Dalam tradisi masyarakat Banyumas, bambu bukan sebatas tanaman. Tanaman berbatang panjang ini juga memiliki berbagai peran penting dalam kehidupan sehari-hari. Bambu muda bisa dijadikan sebagai bahan panganan sementara bilah bambu yang sudah tua bisa dirajut menjadi berbagai benda kebutuhan rumah tangga, seperti bakul dan tampah. Fungsi yang lain dari bambu adalah bisa menjadi alat musik dan alat komunikasi darurat dalam kegi...
Tari ini memiliki arti mengajarkan kebaikan terhadap anak melalui seni tari yang menggembirakan karena membawa kejenakaan. Meski memiliki kesan jenaka bagi penikmatnya, namun tari tradisonal yang satu ini juga sarat akan nilai penting lain. Yakni mengusung nafas agama Islam nan religius tanpa meninggalkan pesan nasionalisme. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/11/tarian-tradisional-temanggung/
Tari onde-onde gandum ini idenya dari tari rakyat badui, yang merupakan tari religius Islam. Gerakan-gerakannya pun dinamis dan energik, sebagai bentuk syiar agama Islam, pencipta dan penata iringan tari ini adalah Didik Nuryanto. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/11/tarian-tradisional-temanggung/
Tari Sejuta Bunga dari Lembah Tidar dikreasikan oleh Sanggar Tari Arum Sari yang bertempat di kota Magelang. Tari ini menceritakan tentang Kota Magelang yang mempunyai slogan "sejuta bunga" dan bunga yang mekar nan indah. Merupakan branding Kota Magelang untuk menuju kota layak jual. Guna menarik pengunjung maupun investor untuk menanamkan modal di Kota Magelang. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/11/tarian-tradisional-magelang/
Tari Wiwit menggambarkan proses bertani, pemberantasan hama hingga upacara pasca panen dipentaskan pada acara Merti Desa atau Saparan. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/11/tarian-tradisional-magelang/
Tari Grasak mempunyai arti hal yang kasar maupun keras, yang mana dalam tarian grasak ini menggambarkan hal-hal yang berbau kekeraasan, bersifat emosional, nafsu membara, keangkara murkaan yang dimiliki oleh manusia, meski dari sisi paling dalam setiap manusia mempunyai suatu keinginan menuju kebaikan dan keinginan untuk mencapai kesempurnaan hidup yaitu hidup di surga dalam perjalanan dan waktu yang tak terbatas, tapi manusia tidak pernah bisa luput dari suatu hal yang bersifat negatif (keangkaramurkaan) meski kadar sifat grasak yang dimiliki tiap manusia berbeda-beda tergantung manusianya sendiri dalam memerangi suara hatinya untuk memilih kebaikan dalam hidupnya. Tari dengan kostum menggunakan bahan dasar dedaunan kering dan ramah lingkungan. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/11/tarian-tradisional-magelang/
Tari Kuntulan Magelang merupakan tari yang menggambarkan Laskar Diponegoro dalam Gladen Keprajuritan/bela diri dengan iringan rebana agar tidak dicurigai oleh pasukan Belanda. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/11/tarian-tradisional-magelang/
Tari Kepodangmas merupakan tari ucapan selamat datang atau sebagai pengganti Tari Gambyong. Tari ini menggambarkan sepasang Burung Kepodang yang sedang memadu kasih. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/11/tarian-tradisional-magelang/
Tari Jathilan terinspirasi pasukan berkuda yang sedang gladi perang. Tari ini serumpun dengan Tari Kuda Lumping atau sering disebut Jaran Kepang. Sumber: https://gpswisataindonesia.info/2017/11/tarian-tradisional-magelang/