Leuweung (Hutan) Larangan Pacawati terletak di Desa Pancawati Kec.Caringin Kab.Bogor jarak tempuh dari Kota Cibinong kurang lebih 28 km.masuk dari Desa Cikureuteg menuju Pancawati sekitar kurang kebih 7 km,dengan waktu 80 menit,posisi Leuweung Larangan berada pada sebuah Bukit berjalan sekitar 800 m. Menurut penuturan Bp.Wirya sebagai juru kunci /Kuncen (juru pelihara )merupakan larangan keras untuk dapat di abadikan,difoto ataupun ditulis,oleh sebab itu seizin beliau kami dapat membuat Narasi dan mengambil beberapa bagian foto sebagai bahan Dokumentasi pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kab.Bogor. Hasil Observasi lapangan,tempat itu merupakan suatu yang disaklarkan tidak menyebutkan silsilah terperinci serat asal usulnya,namun dapat di ketahui di antara makam keramat tersebut ,merupakan Tokoh penyebar Agama islam yang mengambil garis turunanya ada hubungan dan kaitanya dengan makam Cikundul,(Arya Wiratama Data Cianjur).dan makam Embah Arya Pasir Angin Kec. Megamendung Kab.Bogor....
Khitanan atau sunatan pada zaman dahulu merupakan salah satu hajat dari setiap orang berumah tangga. Dizaman dahulu, pelaksanaan khitanan dilaksanakan sangat meriah. Si anak yang hendak disunat terlebih dahulu ditandu dan diiringi oleh tarian-tarian atau kesenian daerah yang ada di masyarakat setempat. Bagi yang memiliki uang lebih banyak anak naik kuda pilihan ada juga yang menggunakan sepeda unta. Keesokan harinya, setelah subuh atau sekitar jam lima pagi iring-iringan itu berangkat ke sungai dan si anak disuruh berendam terlebih dahulu. Setelah dirasa cukup berendam, si anak kemudian dibawa kembali ke rumah dan dimasukkan ke dalam krobongan (semacam ruang khusus untuk melakukan proses sunat). Di dalam krobongan juru khitan (dukun sunat) telah siap untuk melaksanakan tugasnya. Adapun alat yang digunakan untuk menyunat anak di zaman dahulu masih sangat sederhana dan jauh dari steril. Tanpa obat bius dan tanpa dijahit. Sehingga darah akan cenderung mengucur deras. Tidak jarang anak di...
Lesung adalah alat penumbuk padi yang digunakan oleh sebagian besar masyarakat Banjarnegara pada zaman dahulu. Sedangkan Kotekan adalah suatu hiburan yang dilaksanakan ibu-ibu petani zaman dahulu dengan memukul-mukulkan alat penumbuk padi sehingga menimbulkan nada-nada tertentu dan terdengar alami. Kotekan selain sebagai hiburan juga merupakan perwujudan dari rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena panen berhasil. Dalam pentas kali ini digunakan satu buah lesung dengan 8 ibu-ibu petani untuk menabuh lesung tersebut, dan 12 orang wanita yang memperagakan petani sedang menanam padi, serta didukung oleh 8 pria yang berperan sebagai petani yang membawa hasil panen. sumber: http://budparbanjarnegara.com/seni-dan-budaya/tari-gambyong/lesung-dan-kotekan/
Rodad merupakan tradisi unik warisan budaya leluhur dan sebuah kearifan lokal yang secara turun temurun masih dijaga dan dilesatarikan oleh masyarakat khususnya di Desa Pasegeran Kecamatan Pandanarum Banjarnegara. Rodad ini seni ketrampilan yang didalamnya memadukan antara unsur beladiri dan lagu/nyanyian yang diiringi dengan sholawat sebagai bentuk pujia-pujian. Instrumen yang digunakan untuk mengiringi sholawat dan gerakan beladiri antara lain terbangan, jedor dan rebana. Rodad menjadi salah satu metode dakwah yang dilakuakan para wali melalui akulturasi budaya yang ada pada masyarakat setempat waktu itu. Tradisi ini juga bertujuan untuk syiar Islam, karena syair-syair yang disampaikan berupa pesan yang merupakan sholawat. Pementasan Rodad biasanya digelar untuk meramaikan upacara meminta keselamatan dan terhindar dari malapetaka. Rodad umumnya diselenggarakan pada saat bulan-bulan besar Islam. sumber: http://budparbanjarnegara.com/2016/02/11/rodad/
Prosesi pencucian jimat kalisalak ini merupakan penjamasan benda-benda pusaka peninggalan Amangkrut 11 (Raja Mataram). Adapun benda-benda pusaka yang dijamas berupa keris, mata uang logam, surat-surat yang ditulis diatas daun lontar, dan Bekong/periuk yang selalu dijadikan pedoman ramalan untuk satu tahun kedepan. Misalnya: bekong yang ketika dijamas ternyata basah/berkeringat berarti akan terjadi kesuburan atau akan terjadi panen raya. Sebaliknya, apabila Bekong itu kering di artikan akan terjadi kemarau panjang atau paceklik. Penjamasan jimat/puska ini dilaksanakan setiap tanggal 12-13 Rabiul Awal. sumber: dinporabudpar.banyumaskab.go.id/read/19009/penjamasan-jimat-kalisalak#.X0Y-MsgzbIV
Banyumas mempunyai latar belakang keberagaman dan toleransi yang sangat kuat. Selain mempunyai ikatan sejarah yang panjang dengan peradaban awal di Pulau Jawa. Tradisi itu masih berlangsung dan dipelihara hingga kini. Di Desa Klinthing, Kecamatan Somagede, Banyumas, masih terdapat komunitas dan tradisi Hindu yang berdampingan dengan harmonis dengan masyarakat sekitar. Sebuah bangunan Pura sebagai tempat beribadah agama Hindu masih berdiri dan menjalankan aktivitasnya dengan rukun, tenang dan damai. Tradisi serta atraksi yang menyertainya juga masih terpelihara dengan baik seperti Tawur Agung Kasanga. Tawur Agung Kesanga adalah rangkaian kegiatan karnaval seni budaya dan ogoh-ogoh memperingati Hari Raya Nyepi. http://dinporabudpar.banyumaskab.go.id/read/29555/tawur-agung-kasanga-klinthing-somagede#.X0c7b8gzbIU
Apitan adalah acara tradisional yang rutin dilaksanakan oleh masyarakat Dusun Trongso. Apitan merupakan salah satu bentuk upacara sedekah bumi yang dilakukan dengan tujuan untuk merayakan panen padi yang dianggap merupakan berkah dan pemberian Yang Kuasa. sumber: https://disporabudpar.grobogan.go.id/category/kebudayaan/
Tradisi Boyong Grobog tersebut digelar untuk memperingati sejarah perpindahan pemerintahan Kabupaten Grobogan dari ibu kota lama di Kecamatan Grobogan ke ibu kota baru di Kecamatan Purwodadi, sekaligus merupakan bentuk penghormatan kepada Adipati Martopuro atau Pangeran Puger sebagai pendiri dan bupati pertama Kabupaten Grobogan. sumber: https://disporabudpar.grobogan.go.id/category/kebudayaan/
Dalungan sebenarnya adalah nama sebuah desa di Kecamatan Kebakkramat. Tepatnya Desa Dalungan, kelurahan Macanan Kecamatan Kebakkramat Kabupaten Karanganyar. Desa Dalungan mempunyai suatu kegiatan upacara bersih desa, yang akhirnya membudaya dan tetap dilestarikan sebagai suatu tradisi masyarakat, dan akhirnya kegiatan bersih desa itu disebut Dalungan. Upacara bersih desa ini termasuk upacara religi, diselenggarakan dengan maksud agar seluruh penduduk di wilayah desa Dalungan selalu mendapatkan berkah dari Allah SWT dan terhindar dari segala hal-hal yang bersifat tidak baik sehingga merugikan masyarakat desa, misalnya di bidang kesehatan agar masyarakat terhindar dari wabah penyakit, untuk pertanian petani bisa berhasil dalam panennya, sehingga desa Dalungan menjadi aman tentram murah sandang pangan dan sejahtera. Upacara bersih desa Dalungan sudah dilaksanakan sejak dulu kala sampai sekarang secara turun temurun, sehingga upacara bersih desa Dalungan sudah menjadi warisan leluhur ya...