Zaman dahulu, dol hanya dimainkan saat perayaan Tabot, setiap 1-10 Muharram dalam rangka mengenang wafatnya Imam Hasan dan Imam Husen (cucu Nabi Muhammad Saw.) dalam sebuah peperangan di Padang Karbala. Ritual ini selalu dilaksanakan setiap tahun karena dipercaya dapat menghindarkan berbagai kesulitan dan wabah penyakit. Penabuh dol pun bukan sembarang orang melainkan keturunan tabot, yaitu warga Bengkulu keturunan India yang biasa disebut sipai. Dol memang dikenalkan kali pertama oleh masyarakat muslim India yang datang ke Indonesia dibawa pemerintah kolonial Inggris yang saat itu membangun Benteng Malborough. Mereka kemudian menikah dengan orang lokal Bengkulu dan garis keturunannya dikenal sebagai keluarga tabot. Hingga tahun 1970-an, musik dol hanya boleh dimainkan orang-orang yang memiliki hubungan darah dengan keluarga tabot tersebut. Sekilas dol berbentuk seperti beduk. Berbentuk setengah bulat lonjong dan berhiaskan ornamen warna-warni. Dol terb...
Angklung adalah alat musik yang terbuat dari ruas-ruas bambu, cara memainkannya digoyangkan serta digetarkan oleh tangan, alat musik ini telah lama dikenal di beberapa daerah di indonesia, terutama di jawa barat, jawa tengah, jawa timur dan bali. sejarah angklung sangat erat kaitannya dengan seni karawitan sebagai media upacara penghubung antara manusia dan Tuhannya yang mahakuasa. Bukti tertulis penggunaan Angklung tertua yang ditemukan terdapat pada prasasti Cibadak bertahun 952 Saka atau 1031 SM, di daerah sukabumi, jawa barat. pada prasasti tersebut, diterangkan bahwa raja sunda, Sri jayabhupati, menggunakan seni Angklung dalam upacara keagamaannya. kita juga dapat menemukan bukti lain dalam nuku Nagara Kartagama tahun 1359, yang menerangkan penggunaan Angklung sebagai media hiburan dalam pesta penyambutan kerajaan. kata Angklung diambil dari cara alat musik tersebut dimainkan. Kata Angklung berasal dari cara alat musik tersebut Bahasa Sunda Angk...
KARINDING RAHAYU Merupakan sebagian dari perjalanan untuk menemukan jati diri generasi muda yang dapat dimaknai oleh banyak orang yang kenyataanya tidak semudah ketika kita membalikan telapak tangan , perlu kesabaran , ketekunan dan kekuatan untuk menciptakan suatu karya yang dapat diterima oleh banyak orang. Awalnya karinding adalah alat yang digunakan oleh para karuhun untuk mengusir hama di sawah—bunyinya yang low decible sangat merusak konsentrasi hama. Karena ia mengeluarkan bunyi tertentu, maka disebutlah ia sebagai alat musik. Bukan hanya digunakan untuk kepentingan bersawah, para karuhun memainkan karinding ini dalam ritual atau upacara adat. Maka tak heran jika sekarang pun karinding masih digunakan sebagai pengiring pembacaan rajah. Bahkan, konon, karinding ini digunakan oleh para kaum lelaki untuk merayu atau memikat hati wanita yang disukai. Jika keterangan ini benar maka dapat kita duga bahwa karinding, pada saat itu, adalah alat musik yang popular di kalangan...
Gamelan Degung merupakan persembahan Ki Gede Kawungcaang Banten karena putrinya Dewi Kawung Anten dinikahi sunan gunung jati. Degung ini merupakan duplikat dari degung pusaka jajaran.
Rebana dan Genta bernama Bergawang ini adalah tanda pelantikan Sunan Gunung Jati Syech Syarif Hidayatullah ketika dia dinobatkan sebagai Sultan Auliya Negara Cirebon oleh Dewan Wali Sanga untuk memimpin daerah Cirebon, Kuningan, Indramayu dan Majalengka di tahun 1429.
Seperangkat Gamelan dan wayang ini adalah milik Sultan Sepuh IV. Gamelan ini memiliki panggilan "Si Ketuyung".
Gamelan ini milik Sultan Sepuh IV
Gamelan Sekaten ini adalah persembahan dari Sultan Demak k ke III (Sultan Trenggono) pada waktu pernikahan Ratu Mas Nyawa ( adik sultan trenggono) dengan P. Bratakelana putra Sunan Gunung Jati. Gamelan ini digunakan sebagai alat Propaganda untuk memikat orang-orang Hindu masuk Islam. hingga sekrng gamelan sekaten ini dibunyikan setiap hari raya idul Fitri dan Idul Adha di Siti Singgil.