Cao adalah makanan tradisional Pangkep yang dihasilkan dari proses fermentasi dengan beberapa bahan tradisional yang disimpan dalam botol. Biasanya yang dijadikan sebagai bahan baku utama adalah Ikan Kecil atau Udang (Shrimp or Vehicle) yang di Fermentasi dengan ragi Shaccaromicces sp. dan disimpan dalam botol yang lamanya sekitar 3 hari. Setelah proses fermentasi selesai,biasanya makanan ini berubah menjadi warna Pink,karena warna udang yang terfermentasi dengan baik.
Sejarah cao sebenarnya berasal dari Pulau Salemo,Kab PANGKEP,SULAWESI-SELATAN.
Awalnya,orang di pulau ingin menukarkan ikan dengan orang yang berada di darat. Namun,karena jarak yang jauh dan berbagai halangan pada waktu itu,maka salah seorang yang berada di Pulau Salemo berpikiran ingin membuat makanan yang tahan sampai berbulan-bulan,setelah itu dibuatlah cao yang begitu murah dan bahan-bahannya terjangkau.
http://sutamisuparmin.blogspot.co.id/2012/07/href-presentation1-about-cao.html
Bahan
2. Alat
3. Cara membuat
BAHAN I:
1. Bersihkan udang/ikan teri(ikan kecil) dengan cara dikupas kulitnya atau hilangkan tulangnya jika itu adalah ikan kecil. Lalu dicuci bersih dengan air dan tiriskan.
2. Setelah sudah bersih, lalu ditaburi garam agar lebih awet.
3. Masukkan udang/ikan kecil ke dalam mangkok lalu tutup. Setelah itu masukkan ke dalam kulkas, biarkan selama 3 hari.
BAHAN II:
1. 1 piring nasi tersebut ditaburi ragi secukupnya.
2. Kemudian simpan nasi tersebut ditempat yang kedap udara. Simpan selama 3 hari sampai nasi tersebut menjadi tape atau lembek.
PROSES PENCAMPURAN:1. Campur bahan I dan bahan II. Jangan lupa diberi pewarna. Aduk sampai warnanya merata.
2. Lalu masukkan ke dalam botol selama 1 minggu.
3. Lalu “cao” siap untuk di masak.
BAHAN TAMBAHAN KETIKA DIMASAK:
Bawang merah
Vetsin
Gula pasir
Kelapa parut
CARA MEMASAKNYA:
1. Panaskan minyak.
2. Iris bawang merah. Lalu masukkan ke dalam minyak. Goreng sampai harum.
3. Masukkan air secukupnya ke dalam “cao” dan tambahkan kelapa parut atau telur jika suka.
4. Tambahkan pula vetsin dan gula pasir secukupnya untuk meyedapkan rasanya.
5. Lalu masukkan cao ke dalam wajan. Tumis sampai mendidih.
6. Cao pun siap dihidangkan. Lebih nikmat jika dimakan bersama mentimun dan pisang batu yang masih muda
http://kulinerpangkep.blogspot.co.id/2017/02/resep-makanan-rabu-1-februari-2017.html
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...