Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Arsitektur Jawa Barat Sumedang
Yogi, Arsitek Gedung Rektorat Unpad Jatinangor #DaftarSB19
- 15 Februari 2019

Gedung rektorat baru Universitas Padjajaran di kampus Jatinangor telah selesai dibangun. Gedung unik berbentuk donat raksasa itu adalah karya Yogi Yogama Suhamdan, arsitek lulusan Jurusan Arsitektur Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung angkatan 1994. Gedung itu dibangun berdasarkan sayembara gedung rektorat Universitas Padjadjaran kampus Jatinangor dan desain Yogi diputuskan juri sebagai Juara Pertama dan desainnya langsung dibangun.

Proses penentuan desain gedung rektorat Unpad ini dilakukan melalui sayembara bagi kalangan arsitek WNI dimanapun berada. Setelah melalui proses penjurian yang cukup alot maka pada tanggal 28 Maret 2010 lalu, ditetapkanlah desain karya tim dengan ketua Yogi Yogama Suhamdan, ST, IAI dengan nomor kode PADJADJARAN 36191 sebagai juara pertama dan mendapat hadiah Rp 50 juta.

Desain gedung rektorat Unpad Jatinangor ini menggunakan konsep "Lembur Awi".Menggunakan karakteristik bambu sebagai konsep desain karena bagi masyarakat Sunda, bambu bisa menjadi berbagai macam: bahan bangunan, alat dapur, pakaian (topi), makanan (iwung/rebung), bahkan alat musik (angklung). Eratnya bambu dengan kehidupan sehari-hari bisa dilihat dari berbagai istilah dan peribahasa dalam bahasa Sunda yang menggunakan metafora bambu untuk merujuk berbagai hal: kawas awi jeung gawirna (seperti bambu dan tebingnya), ti iwung nungtung ka padung (dari rebung berujung ke nisan), tamiang melit ka bitis (tamiang- jenis bambu kecil membelit betis).

Konsep bentuk gedung ini menggunakan dua model yaitu model ikatan sapu nyere (sapu lidi) yang berbentuk lingkaran, yang disusun dari nyere/lidi dan konsep rumah panggung yang dibuat ke dalam bentuk modern.Konsep lansekap menggunakan dua model yaitu kebun bambu dan lansekap sawah dan perkampungan.

Sayembara gedung rektorat Unpad ini merupakankerja sama Unpad dengan Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Jawa Barat. Tujuansayembara iniagar mendapatkan hasil karya rancangan bangunan yang lebih variatif.

Desain karya Yogi,pria kelahiran Bandung pada tanggal 2 Maret 1976 ini menyisihkan 37 desain lainnya. Tentu saja sebagian pesaingnya adalah arsitek senior.Penilaian dilaksanakan oleh 9 Juri,5 juri adalah perwakilan dari Unpad dan 4 juri lainnya dari Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Menurut Yogi sendiri, "Saya waktu merancang berpikirnya sederhana sekali. Bagaimana membuat manifestasi bentuk yang dapat membungkus spirit lokal dalam bingkai kekinian. Saya tidak mau terjebak dalam dogma bahwa arsitektur Sunda itu adalah julang ngapak, badak heuay, dll. Saya menginginkan konsep yg lebih esensial dan lebih egaliter sesuai dengan sifat urang sunda. Untuk itu saya menawarkan konsep lembur awi, yang familiar sekali dengan kehidupan urang Sunda. Sehingga banyak sekali peribahasa yang menggunakan kata awi/bambu dan lainnya. Buat saya ini adalah pertaruhan besar apakah eksperimen saya dapat diterima atau tidak."

Setelah lulus dari jurusan Arsitektur Itenas, Yogi bekerja sebagai arsitek di PT Indah Karya Jakarta (1999-2005), kemudian sebagai manajer proyek di PT Penta Rekayasa (Mei 2005-Agustus 2011) dan sejak September 2011bekerja sebagai arsitek di PT Urbane Indonesia yang didirikan oleh Ridwan Kamil, arsitek muda berbakat.Yogi menikah dengan Shanty Dewi Arifin pada 17 Juni 2006,dan dikarunia dua putra, M. Raka Arkananta dan Siti Raisya Arkananta. (mj, dari berbagai sumber).

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
PELARIAN MAJAPAHIT DI PACITAN
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT II (Keling Daha Kediri)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT I (Brawijaya V - Trowulan)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker