Ada seorang raja bernama Raja Bunu yang telah lama menderita penyakit kronis. Dari waktu ke waktu, penyakit yang dideritanya semakin parah. Segala macam usaha sudah dicoba oleh keluarga kerajaan untuk menyembuhkan SangRaja. Namun tak pernah membuahkan hasil. Raja Sangen serta Raja Sangiang yang merupakan saudara kandung dari Sri Baginda Raja Bunu, memutuskan untuk meminta bantuan Nyai Jaya dan Mangku Amat yang sangat tersohor sebagai tabib yang mampu mengobati berbagai macam penyakit, konon menurut kabar yang tersiar
dengan ilmu kesaktiannya mereka dapat menghidupkan kembali orang yang sudah mati.Kedua saudara kandung Raja Bunu meminta Pangeran Paninting Tarung, putra
kandung Raja Bunu, untuk pergi menjemput Nyai Jaya serta Mangku Amat yang menetap di pinggir Telaga Mantuk.Pangeran Paninting Tarung segera pergi menuju tempat tinggal kedua tabib tersohor tersebut. Sayangnya, kedua tabib sakti sedang meninggalkan kediamannya.Pangeran Paninting Tarung kembali ke istana kerajaan tanpa membawa hasil.
Ketika sang Pangeran melapor, Raja Sangen memintanya kembali untuk ke tempat tinggal dua tabib sakti itu."Coba datang satu kali lagi kesana, mudah-mudahan mereka sudah kembali
ke rumahnya," kemudian Pangeran Paninting Tarung berangkat lagi. Dan sama seperti ketika Pangeran Paninting Tarung tiba sebelumnya, si penghuni masih
tidak di rumah. Pangeran Paninting Tarung kembali pulang tanpa membuahkan hasil, namun Raja Sangiang dan Raja Sangen memintanya untuk kembali
lagi, "Coba sekali lagi kau ke sana, tunggulah sampai kedua tabib itu pulang ke rumahnya," ucap Raja Sangiang.Namun, Pangeran Paninting Tarung tidak paham maksud tujuan dari Raja
Sangiang dan Raja Sangen. Ia berpendapat kedua saudara kandung ayahnya telah menuduhnya berdusta.Kemudian saat untuk ketiga kalinya, ia tidak dapat berjumpa dengan dua orang
tabib tersohor itu, dirobohkanlah rumah Nyai Jaya dan Mangku Amat. la ingin membuktikan pada kedua pamannya itu bahwa Nyai Jaya dan Mangku Amat benar-benar
tidak ada di tempat tinggalnya. Kemudian ia kembali ke istana dan membuktikannya, "Aku telah sampai di sana. Ini bukti bahwa aku ke sana, aku membawa palang pintu, baji genderang, alat-alat pengobatan dan simpai dari puing-puing rumah dua tabib itu yang telah aku bongkar. Aku tidak berdusta!" ucap Raja Peninting Tarung sedikit kesal.Sementara itu, Nyai Jaya dan Mangku Amat, saat kembali ke rumahnya, mereka kaget saat melihat tempat tinggal mereka sudah dihancurkan orang. Dengan
kesaktian yang mereka miliki, mereka mencari tahu siapa orang yang telah melakukan perbuatan buruk itu. Saat tahu yang melakukan adalah Pangeran
Paninting Tarung, mereka merasakan firasat buruk yang akan menimpa Kerajaan itu, firasat itu terbukti, tidak lama kemudian, Raja Bunu meninggal dunia.Nyai Jaya dan Mangku Amat sangat kecewa terhadap apa yang dilakukan Pangeran Paninting Tarung yang sudah menghancurkan rumah serta mengambil beberapa
alat-alat pengobatan mereka. Andai saja, Pangeran Paninting Tarung bersedia sabar menunggu sampai mereka kembali, kemungkinan besar mereka masih dapat
mengobati Raja Bunu. Bahkan, andaikan Raja Bunu telah meninggal sekalipun, mereka masih mampu menghidupkannya dengan alat-alat pertabiban yang mereka
miliki. Namun, saat ini alat-alat pertabiban tersebut sudah hancur semua. Tidak ada yang dapat mereka perbuat dengan kondisi ini. Tidak akan cukup waktu bagi mereka memperbaiki alat-alat kesehatan itu. Akibat Pangeran Paninting Tarung yang tidak mau bersabar akhirnya Raja Bunu meninggal dunia.
Sumber:
https://brainly.co.id/tugas/14486300
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...