Ritual
Ritual
Tata penyajian makanan Jawa Tengah Solo
Usdek

Pada aslinya, usdek adalah sebuah manifesto politik yang dicetus Bung Karno untuk menanamkan nilai-nilai haluan negara kepada masyarakat Indonesia. Adapun butir-butir manifesto politik itu sebagai berikut:

  1. Undang-Undang Dasar 1945
  2. Sosialisme Pancasila
  3. Demokrasi terpimpin
  4. Ekonomi terpimpin
  5. Kepribadian Indonesia

Nama usdek adalah singkatan kelima poin di atas, dari masing-masing poin diambil huruf paling depan dan digabung menjadi sebuah kata baru. Singkatan usdek ini kemudian ‘diplesetkan’ oleh masyarakat Jawa Tengah, khususnya di Solo.

Dalam versi plesetannya, usdek adalah singkatan dari unjukan, sop, dahar, es, dan kondur. Usdek versi plesetan bukan menunjukkan haluan NKRI, melainkan ikhtisar menu makanan dan minuman yang akan disajikan di sebuah acara syukuran. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan mengingat-ingat menu apa saja yang akan diberikan.

Sudah menjadi tradisi masyarakat Jawa untuk mengadakan sesi makan bersama dalam sebuah hajatan atau pesta. Uniknya, tamu tidak mengambil makanan sendiri layaknya di prasmanan, justru para pelayan yang akan membagikan makanan kepada masing-masing tamu. Dengan demikian, tamu tidak perlu bangkit dari tempat duduknya sepanjang acara.

Ada satu hal unik lagi tentang tradisi penyajian ini: makanan dan minuman akan dibagikan satu demi satu. Menu berikutnya baru diberi setelah jeda kira-kira sepuluh menit atau tepat sebelum makanan para tamu habis.

Misalnya, unjukan sudah dibagikan kepada setiap orang masing-masing satu gelas. Sepuluh menit kemudian, atau saat unjukan sudah tinggal sedikit, baru dibagikan sop masing-masing satu mangkuk. Setelah sepuluh menit lagi, dibagikanlah dahar.

Berikut ini adalah penjelasan untuk masing-masing hidangan:

  1. Unjukan

Unjukan adalah kata dari bahasa Jawa Halus yang berarti minuman. Biasanya, disajikan teh. Minuman ini dimaksudkan untuk menyambut para tamu (welcoming drink) sekaligus memuaskan dahaga mereka yang mungkin datang dari jauh untuk menghadiri acara sang tuan rumah.

  1. Sop

Sop berasal dari bahasa Belanda, soep, yang diserap menjadi bahasa Jawa. Sup yang disajikan biasanya adalah sup sayuran atau sup makaroni.

  1. Dahar

Dahar dapat dikatakan sebagai ‘makan besar’. Ketika dahar disajikan, tamu akan mendapatkan sepiring makanan yang sudah siap santap. Makanan yang didapatkan bisa berupa nasi rames, nasi gudeg, nasi uduk, nasi kari, hingga lontong cap go meh. Yang jelas, dalam tahap dahar, tamu akan mendapatkan nasi beserta lauk-pauk.

  1. Es

Setelah makan besar, akan diberikan hidangan penutup kepada para tamu berupa es: sesuatu yang dingin dan manis. Biasanya, makanan penutup ini berupa es krim.

  1. Kondur

Setelah semuanya makan dan kenyang, lalu …? Kondur. Waktunya pulang!

 

#OSKMITB2018

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
PELARIAN MAJAPAHIT DI PACITAN
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT II (Keling Daha Kediri)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT I (Brawijaya V - Trowulan)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker