KERAK TAHU KHAS GARUT adalah olahan dari ampas tahu. Kita tau bahwa tahu merupakan salah satu lauk pokok yang digemari oleh masyarakat Indonesia, namun banyak yang belum tau apa itu kerak tahu? Kerak tahu merupakan sisa dari proses pembuatan tahu. Saat proses pembuatan tahu, terdapat tahap pemanasan adonan kedelai yang sudah siap menjadi tahu. Dalam pemanasan adonan yang sudah selesai inilah kerak tahu didapat, adonan tahu yang lembut dan lumat diambil untuk dicetak, sementara adonan yang menempel pada dinding panci pemanasan teksturnya lebih kenyal dan padat disebut kerak tahu.
Dalam produksi tahu, orang awam biasanya membuang langsung kerak tahu tersebut namun, kreativitas masyarakat mulai berkembang hingga kerak tahu mulai dimanfaatkan, salah satunya oleh orang Garut. Orang Garut biasa memanfaatkan kerak tahu untuk diolah menjadi masakan. Kerak tahu ditumis dengan air, bawang, cabai, dan garam. Bisa ditambah kecap sesuai selera. Tumis kerak tahu menjadi lauk yang disantap bersama nasi dikala siang hari. Teksturnya kenyal bersama rasa asin, pedas, dan gurih membuat kerak tahu menjadi masakan yang lezat bagi masyarakat di Kota Garut.
Jika ingin mencoba mengolah masakan berbahan dasar kerak tahu ini, kita bisa langsung membeli kerak tahu di pasar tradisional. Biasanya kerak tahu dijual oleh pedagang tahu. Akan tetapi sangat sulit mendapatkan masakan ini di restoran bahkan warung makan di Garut, sehingga eksistensinya belum dikenal luas oleh masyarakat. Namun sampai saat ini tidak sedikit rumah keluarga di Garut yang masih memasak tumis kerak tahu ini.
Sumber: Hasil wawancara dengan Ibu Ani Suryani yang merupakan warga garut asli
#OSKMITB2018

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara