
sumber : (http://obyekwisataterlengkap.blogspot.com)
Di suatu daerah di Indonesia pasti tak lepas dengan bangunan munumen, seperti di Pulau Bali yang tepatnya berada di Kabupaten Buleleng ini juga ada sebuah monumen yang di namai dengan Tugu Bhuana Kerta. Tugu ini merupakan sebuah monumen perjuangan yang dibangun guna memperingati kemerdekaan serta perjuangan warga Bali dalam memperjuangkan kemerdekaan RI.
Tugu Bhuana Kerta ini memiliki makna perdamaian dunia, ketentraman kerta raharja, dan bebas dari segala macam perbuatan semena-mena sesama manusia. Waktu pembangunan Tugu Bhuana Kerta ialah sesudah perjuangan rakyat Bali dalam melawan kolonialisme Belanda pada proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan.
Tatkala itu, rakyat Bali ( Bali Utara ) berjanji bahwasannya “Bila Republik Indonesia menang, ditempat yang mana lokasi Tugu Bhuana Kertasekarang akan dibangun sebuah Pura Republik”. Perjanjian nasionalisme tersebut diucapkan oleh para pejuang kemerdekaan rakyat Bali pada tanggal 17 Januari 1948.
Oh iya Guys, kata “Pura Republik” yang terucapkan didalam perjanjian itu yang mana belum terpikirkan dengan wujud fisiknya. Pada umumnya sebagai bangsa timur yang banyak memiliki bahasa simbol, persoalan itu tentunya tak dimasalahkan. Perundingan kata “Pura Republik” tentunya cukup mudah dibangun setelah Indonesia benar-benar terbebas dari penjajahan Belanda.
Meskipun sempat ada kendala tentang bentuk banguanan yang akan dibuat, akhirnya disepakati oleh masyarakat dengan membangun sebuah monumen berbentuk tugu. Peletakan batu pertama Monumen Tugu Bhuwana Kerta dilaksanakan pada 31 maret 1966 dengan luas areal kurang lebih sekitar 1,350 hektar.
Bentuk monumen berupa tugu dipilih, karena dinilai sebagai desain paling tepat untuk melambangkan peringatan perjuangan bangsa yang diperjuangkan oleh para pejuang dari berbagai suku dan agama di Pulau Bali.
Tinggi Tugu Bhuana Kerta ini setinggi 17 meter, yang mana merupakan visualisasi simbolik angka keramat kemerdekaan bangsa Indonesia. Di puncak tugu ini berbentuk padmasana dan api, yang dimaksutkan simbol sang Pencipta yang telah memberi anugerah kemerdekaan bagi bangsa Indonesia.
Jumlah daripada padmasana dan api tersebut sebanyak delapan helai daun teratai yang aman merupakan simbol dari bulan kemerdekaan bangsa Indonesia. Bentuk badan tugu yang polos mengisyratkan dari keluhuran, kesucian serta kejujuran dalam memperjuangankan kemerdekaan bangsa Indonesia di Bali.
Selain itu juga, bentuk dulang dengan visual bercelah-celah berjumlah 45 buah yang terletak di bagian bawah badan tugu, merupakan simbol tahun kemerdekaan bangsa Indonesia. Jika dipelaraji tentang sejarah Monumen Tugu Bhuwana Kerta tentunya sangat menarik sekai, mulai dari pembangunan, perjuangan rakyat Bali utara yang sangat gigih dan atusias membela RI.
Kesemua nilai-nilai suci dan perjuangan yang tertanam di Monumen Tugu Bhuana Kerta bisa dipelajari siapaun yang menginginkannya. Hal ini adalah salah satu daya tarik utama bagi wisatawan selain mengagumi keindahannya.
Guys, jika ingin melihat secara langsung Monumen Tugu Bhuana Kerta yang mana bangunan yang penuh dengan sejarah ini berada di Jalan Ki Barak Panji Sakti, Desa Panji, Kecamatan Sukasada, Kabupaten Buleleng, Provinsi Bali, Indonesia. Tak jauh dari Monumen Tugu Bhuwana Kerta terdapat objek wisata bahari yang cukup terkenal hingga ke mancanegara yakni Pantai Lovina.
sumber :http://obyekwisataterlengkap.blogspot.com/2016/12/tugu-bhuana-kerta-buleleng-monumen-bali.html
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...