Bacang adalah makanan khas dari kebudayaan Tionghoa. Kata 'Bacang" berasal dari kata dalam bahasa Hokkien, yakni bah chang. 'Bah' memiliki arti daging dan 'Chang' meiliki arti terbungkus dalam daun. Jadi, bacang adalah nasi berisi daging yang dibungkus dengan daun. Daun yang biasa dipakai adalah daun bambu. Isi bacang di Indonesia umumnya berupa daging ayam yang sebelumnya dibumbui dengan kecap, garam, gula, dan lada dan ditumis dengan bawang merah, lalu diisi kedalam nasi yang telah dibumbui dan diaron. Bacang di Indonesia berbentuk limas segitiga yang merupakan bentuk umum di daerah selatan Tiongkok, namun beberapa daerah di Tiongkok memilliki bentuk berbeda. Bacang dapat ditemui di berbagai daerah pecinan di Indonesia.
Bacang juga merupakan makanan yang lekat dengan tradisi Tionghoa, yakni Festival Peh Cun atau Festival Perahu Naga yang diperingati setiap tanggal 5 bulan 5 pada kalender Imlek. Saat festival ini, warga keturunan Tionghoa biasa memakan bacang untuk memperingati Qu Yuan, menteri negara Chu yang melompat kedalam sungai 2300 tahun silam, tepat pada tanggal 5 bulan 5. Rakyat yang mencari jenazahnya melempari nasi yang dibungkus daun dengan tujuan mengaggu ikan agar tidak menggangu jenazah sang menteri. Nasi memang sengaja dibungkus untuk menhindari makanan tersebut dari naga. Selain makan bacang, di dalam Festival Peh Cun diadakan pula perlombaan perahu naga. Perlombaan ini terinspirasi dari nelayan yang berlomba-lomba untuk mencari jenazah sang menteri. Selain itu, dipercaya pula pada tengah hari kita dapat mendirikan telur yang tidak busuk, didinginkan, atau direbus.
#OSKMITB2018
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara