Gowa, GoSulsel.com - Dilaksanakan hanya sekali selama sembilan tahun di dusun Borong Rappo, Desa Sokkolia, kecamatan Bontomarannu, Kabupaten Gowa, Pattakkang merupakan sebuah tradisi adat turun temurun dilakukan oleh masyarakat setempat.
Sebagaimana dipaparkan Hj. Sehani Dg. Ngawing kepala dusun Borong Rappo kepada Gosulsel.com, Rabu (21/9) di lokasi pesta adat.
"Namanya Pattakkang, acara tradisi adat ini diadakan satu kali dalam sembilan tahun. Acaranya juga dilaksanakan selama sembilan hari sembilan malam," paparnya.
Selama sembilan hari sembilan malam lamanya pesta adat ini digelar. Berbagai macam rangkaian acara pun dilaksanakan secara tradisional. Seperti attoeng (berayunan), ma'raga, (bermain bola raga), a'nganni (memintal benang), a'teaja, dan a'bunene.
Suasana acara serba tradisional, mulai dari pakaian adat yang dikenakan warga, baik pakaian perempuan, laki-laki, anak kecil dan orang tua pun memakai pakaian adat. Di sebuah lapangan kecil dibangun satu rumah tradisional terbuat dari bilah-bilah bambu ditopang dengan puluhan tiang. Tangga untuk naik ke atas rumah juga terbuat dari bambu. Mirip dengan rumah lotang di toraja yang di buat khusus untuk suatu acara tradisional. Di dalam rumah, ada puluhan nenek duduk melingkar bersama sambil a'nganni (memintal benang).
Di depan rumah, dua buah tiang dari batang pohon pinang setinggi atap rumah. Terhubung sebuah tiang melintang di atasnya. Dua buah rotan panjang terjuntai dan terikat di sebuah dudukan yang dianyam, membentuk sebuah ayunan besar. Untuk mengayunkan orang yang duduk di atasnya. Sebuah tambang yang terikat ditarik sekelompok lelaki berpakaian adat. Yang sekali tarik dapat membuat orang yang duduk terayun setinggi atap rumah.
Prosesnya terlihat seperti atraksi akrobat yang mendegup jantung. Tapi semua telah dijamin oleh tetua adat. Dan bahkan proses ritual ini dianggap sakral bahkan membawa berkah bargi warga. Di sekitar ayunan beberapa orang sanro memberikan perlindungan bagi warga yang ingin diayun.
Referensi: http://gosulsel.com/2016/09/22/mengenal-pattakkang-tradisi-sekali-dalam-sembilan-tahun-di-gowa/
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...