Setiap daerah memiliki tradisi yang berbeda dalam memperingati hari-hari besar. Seperti daerah Gegesik, Kabupaten Cirebon. Gegesik mempunyai tradisi mengarak Buyut Gruda setiap pertengahan bulan Maulud penanggalan Jawa atau Rabiul Awal dalam penanggalan Islam. Lalu apa sih Buyut Gruda itu? Buyut Gruda adalah alat panggulan dengan bentuk perpaduan antara kepala garuda dengan tanduk dan lidah seperti naga. Selain itu Buyut Gruda juga memilki sayap dan diletakkan dalam suatu tempat yang bagian atasnya tertutup.
Konon, Buyut Gruda berasal dari bongkahan kayu yang menancap di sungai Ciwaringin. Tapi kayu tersebut sulit dilepaskan, sampai pada akhirnya dapat dilepaskan oleh seseorang yang sakti bernama Ki Salam dengan mudah. Lalu, kayu itu langsung diukir dan dijadikan benda berbentuk Garuda dan Naga yang bisa dipanggul.
Buyut Gruda diletakkan di balai desa Gegesik Lor dan dikeluarkan setiap akan diarak. Buyut Gruda dipercaya dapat terbang ke keraton Kasepuhan Cirebon dan konon airnya dapat memberi keberkahan. Setiap menjelang pelaksanaan Buyut Gruda dikeluarkan dari ruangan dan dimandikan. Banyak orang mengunjungi Buyut Gruda saat sebelum diarak untuk mendapatkan airnya.
Kebudayaan ini memang sudah banyak ditentang oleh masyarakat karena mempercayai hal-hal mistis. Tapi pemerintah setempat tetap memperbolehkan kebudayaan tersebut debagai bentuk pelestarian budaya daerah Gegesik .
#OSKMITB2018
Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng. Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng. Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland