Ritual
Ritual
Tradisi Sulawesi Selatan Takalar
Tradisi Apadekko
- 15 Mei 2018

Sebuah tradisi unik digelar oleh warga Desa Sampulungang, Kecamatan Galesong Utara, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan dalam menyambut pesta panen raya. Tradisi ini dihadiri oleh ribuan warga lantaran prosesinya yang terbilang unik, di mana peserta ritual saling hantam balok kayu serta batu. Namun, peserta tak merasakan sakit atau pun terluka.

Tradisi Apadekko yang digelar setiap tahun secara turun-temurun ini mulai digelar pada pukul 11.00 Wita, diawali dengan ritual memanjatkan doa keselamatan di salah satu rumah tokoh adat setempat. Usai memanjatkan doa, seluruh peserta diwajibkan meminum air putih yang disuguhkan oleh ketua adat yang dipercaya mampu menghindari sakit dan luka saat prosesi ritual dilakukan.

"Setiap tahun kami lakukan secara turun temurun setelah kami panen padi, dan ini sudah menjadi tradisi kami," kata Mustafa Daeng Liwang (80), ketua adat setempat pada Kamis (18/5/2017).

Setelah ritual doa bersama dilakukan, tradisi dilanjutkan dengan arak-arakan mengelilingi kampung disertai dengan tabuhan gendang tradisional. Berakhir dengan berziarah ke makam leluhur sebagai simbol penghormatan kepada nenek moyang.

Usai berziarah, seluruh peserta yang dipimpin oleh ketua adat kemudian berjalan menuju sumur tua sekadar untuk membasuh wajah. Setelah itu peserta kemudian menuju pohon beringin raksasa setinggi 70 meter yang sekaligus menjadi lokasi digelarnya tradisi Apadekko.

Puncak ritual dari tradisi ini yakni dengan menumbuk lesung padi yang dilakukan oleh kalangan wanita dibantu dengan puluhan pria. Irama tumbukan lesung padi membuat peserta pria menari hingga terlibat saling hantam alu atau balok kayu. Setiap hantaman balok kayu harus berakhir jika balok kayu tersebut patah. Tak hanya saling hantam balok kayu, peserta juga saling hantam batu yang disertai dengan sorakan warga.

"Sangat luar biasa, baru kali ini saya lihat tradisi kayak begini," kata Reny (25) salah seorang pengunjung yang sengaja datang untuk menyaksikan tradisi ini.

Uniknya meski peserta pria terlibat saling hantam balok kayu dan batu, tak satu pun peserta yang terluka dan merasakan sakit.

"Tidak sakit, kayak kapas saja yang sentuh kulit kalau dihantam balok," kata Daeng Lalang (31) salah seorang peserta ritual.

Tradisi Apadekko ini berakhir pada pukul 16.00 Wita, di mana seluruh alu yang digunakan untuk menumbuk lesung patah setelah digunakan saling menghantam antar peserta. Pihak tokoh adat setempat sendiri memperkirakan bahwa tradisi ini digelar sejak ratusan tahun yang lalu lantaran dilakukan sudah turun-temurun setiap tahunnya.

"Kalau awal dimulainya saya tidak tahu sebab sejak saya masih kecil ini sudah dilakukan bahkan dari nenek dan buyut saya," kata Mustafa Daeng Liwang.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
PELARIAN MAJAPAHIT DI PACITAN
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

GELOMBANG EKSODUS I. Pelarian Di Pacitan Ketika panji-panji emas Majapahit tercabik oleh perang perebutan warisan dinasti, sejarah arus utama seolah menoleh ke arah lain. Yang tercatat kemudian hanyalah runtuhnya tiga pusat kekuasaan besar secara beruntun: Wilwatikta-Trowulan yang ambruk pada 1478 M, Kediri di bawah Girindrawardhana yang tumbang dua dasawarsa kemudian, serta: Lenyapnya benteng pertahanan terakhir Patih Mahodara pada 1527 M. Di balik kronik pergantian rezim itu, tersimpan kisah lain yang jauh lebih megah dan tragis: kisah manusia-manusia yang terseret arus perubahan kekuasaan baru, Demak Bintoro. Seusai kemenangan Ranawijaya atas kubu Bhre Kertabhumi, muncul kebutuhan mendesak untuk membangun dasar legitimasi baru. Upaya itu dijalankan melalui jejaring brahmana, penetapan tanah-tanah sima yang dibebaskan dari kewajiban pajak, penguatan tradisi Buddha-Siwa, serta pembentukan identitas Keling yang berpusat di Daha. Dalam pandangan para pendukungnya, ide...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT II (Keling Daha Kediri)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

Sejarah Senjakala Majapahit-Daha II. Patih Udara/Mahodara Berkuasa (1498 M) A. Krisis Demi mempertahankan kekuasaan di tengah impitan ekonomi dan bayang-bayang kehancuran, Ranawijaya memperlakukan rakyat kecil pedalaman sebagai sapi perah guna mendanai prajurit yang butuh logistik besar menghadapi kelompok pembangkang yang mulai tumbuh kembali. Pembangunan Kedaton baru beserta sistem pertahanan militer di Daha dalam waktu delapan tahun membawa kesengsaraan yang luar biasa bagi kaum tani di sepanjang aliran Sungai Brantas yang subur. Dinasti Girindrawardhana memberlakukan sistem kerja paksa, yang dikenal sebagai kerja gaga, secara militeristik demi mendirikan kompleks istana bata merah yang megah serta jaringan perbentengan baru. Di sisi lain, ribuan petani dipaksa meletakkan bajak dan cangkul mereka untuk mengangkut batu kapur dari perbukitan selatan, menebang pohon jati di belantara, serta mencetak jutaan bata merah untuk dinding pertahanan. Kesengsaraan ini kian mencekik...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
SENJAKALA MAJAPAHIT I (Brawijaya V - Trowulan)
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Timur

SENJAKALA MAJAPAHIT I (1478 M) > Senjakala Majapahit bukanlah sebuah cerita tentang kelanjutan kemaharajaan yang tenang di bawah asuhan para resi yang bijaksana. Sebaliknya, ia merupakan sebuah panggung sejarah yang rapuh, berdarah, dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok politik yang haus akan pengakuan kekuasaan. Demi melunasi dendam masa lalu, menegakkan kehormatan keluarga, dan mengejar ego dinasti, faksi-faksi pemberontak ini tanpa sadar telah memeras keringat rakyat, merampas hak atas tanah perdikan, dan mengirim ribuan rakyat jelata (kawula) Jawa ke lubang kematian yang sia-sia. I. Senjakala Pertama Majapahit Trowulan (1478 M) A. Pemberontakan Ranawijaya (Keling-Daha) Brawijaya IV saat bertakhta sebagai Maharaja Majapahit bergelar Sri Adi Suraprabhawa Singhawikramawardhana Singhawikramawardhana terpaksa mundur ke basis pertahanan keluarganya di Kediri. Setelah terusir dari Trowulan oleh kudeta Bhre Kertabhumi (Brawijaya V) pada tahun 1468 M, Brawijaya IV menyelamat...

avatar
Kangnurofficial
Gambar Entri
HUTING-HUTING
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...

avatar
Hokker
Gambar Entri
SALE-SALEAN
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Di rumah adat Batak tradisional, terdapat sebuah bagian penting yang disebut Sale-salean. Sale-salean merupakan rak atau ukiran berbentuk segi empat yang digantung di atas tungku perapian (tataring). Fungsinya sangat praktis sekaligus mencerminkan kearifan leluhur dalam memanfaatkan ruang di dalam rumah. Di tempat inilah masyarakat Batak dahulu mengeringkan ikan, daging, hasil pertanian, hingga kayu bakar. Asap dari tungku yang terus menyala membantu proses pengeringan sekaligus membuat bahan makanan lebih awet untuk disimpan. Bagi masyarakat Batak masa lalu, dapur bukan sekadar tempat memasak. Dapur adalah pusat kehidupan keluarga, tempat berkumpul, berbagi cerita, dan menjaga persediaan pangan. Sale-salean menjadi bukti bahwa arsitektur tradisional Batak dibangun berdasarkan pengalaman, kebutuhan hidup, dan pengetahuan yang diwariskan dari generasi ke generasi. Warisan budaya tidak selalu berupa benda mewah. Kadang ia hadir dalam benda sederhana yang menjadi bagian dari kehidu...

avatar
Hokker