Motif Kain
Motif Kain
Kain Nusa Tenggara Timur Manggarai
Towe Songke #DaftarSB19
- 28 Februari 2019

        TOWE SONGKE merupakan kain tenun khas daerah manggarai, Kain tenun songke juga biasa di sebut lipa. Towe atau lipa dalam bahasa Manggarai untuk laki-laki disebut dengan "Tengge Towe/Lipa" dan untuk perempuan disebut dengan "deng Towe/Lipa". Towe Songke biasa digunakan baik di rumah maupun saat menghadiri ritual adat, ke gereja, ketika mandi dan tidur, saat kelahiran dan pernikahan, dan untuk membungkus orang yang telah meninggal.

Songke juga bisa menjadi pemberian saat acara masuk minta (lipa widang) dari orangtua kepada bakal keluarga baru. Dan dari fungsinya Lipa Songke kerap kali dianggap sebagai "wengko weki," yang melindungi tubuh. Boleh dibilang, Songke itu menjadi jejak budaya Orang Manggarai. Saat ini, di kota-kota pusat administrasi wilayah Manggarai Raya seperti Ruteng, Borong dan Labuan Bajo, para pegawai pemerintah diwajibkan mengenakan Songke dalam bentuk jas atau kemeja sebagai salah satu usaha menghargai dan melestarikan tenun dan motif etnik setempat.

Sejarah Kain Songke Manggarai

        Kesultanan Goa pernah berjaya di daratan Flores pada sekitar tahun 1613-1640. Dan sekitar tahun 1666, orang-orang Makasar, Sultan Goa, tidak hanya mendiami Flores bagian Barat, tetapi juga seluruh Manggarai Raya. Pengaruh Goa nampak diantaranya pada budaya baju bodo dan pengistilahan Dewa Tertinggi "Mori Kraeng". Dalam istilah, kata Kraeng dikenakan bagi para ningrat. Istilah tersebut mengingatkan gelar Kraeng atau Daeng dari gelar kebangsawanan di Sulawesi Selatan. Selain orang-orang Makasar, pun berdasarkan kisah sejarah, pada tahun 1722, Sultan Goa menyerahkan wilayah Manggarai kepada Sultan Bima sebagai mas kawin.

Perjumpaan dengan beragam kepentingan-kultur-kebiasaan baik dengan orang-orang Bajo, Bugis maupun Bima, melahirkan sesuatu yang baru pula untuk kesenian Manggarai. Sebuah perjumpaan itu yang tidak hanya perihal kepentingan-kepentingan sosial dan politik, tetapi juga budaya dan kebiasaan termasuk di dalamnya adalah bagaimana berbusana : memilih motif dan corak serta tata busananya itu sendiri.

Makna Yang Terkandung Dalam Setiap Motif Towe Songke Manggarai

        Warna dasar dari kain songke adalah hitam. Warna hitam merupakan kebesaran/keagungan orang Manggarai. Warna dasar hitam melambangkan kepasrahan karena kesadaran bahwa semua manusia pada akhirnya meninggal (simbol sikap tanatos yaitu bahwa kehidupan adalah prosesi dari Allah menuju Allah). Nilai yang terpancar dari warna dasar hitam adalah nilai religius yakni simbol kepasrahan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena memiliki kesadaran bahwa semua manusia pada akhirnya meninggalkan dunia fana ini. Berikut beberapa makna yang terkandung :

  1. Motif Jok. Motif dasar yang unik sebagai salah satu jati diri orang Manggarai. Jok melambangkan persatuan, baik persatuan menuju Allah (Mori Jari Dedek) penguasa alam semesta, maupun persatuan dengan sesama manusia dengan alam sekitarnya. Jok erat dengan bentuk rumah adat dan model "Lodok Langang" kebun komunal (bagian dalam lingko).
  2. Motif Wela Kaweng, Motif ini bermakna interdepensi antara manusia dan alam sekitarnya. Tumbuhan "Kaweng" baik daunnya maupun bunganya untuk dijadikan bahan pengobatan luka dari hewan peliharaan/ternak. Motif ini mengajarkan kita bahwa alam flora menunjang kehidupan manusia baik sebagai makanan dan perumahan maupun untuk pengobatan.
  3. Bunga songke bermotif Ranggong (Laba-laba). Laba-laba tekun membuat jaring/sarang, motif ini bersimbol "kejujuran dan kerja keras/cermat". Diyakini dan disadari, bahwa laba-laba tidak pernah mencuri atau cari gampang seperti tikus, curi sana sini. Melalui motif Ranggong yang syarat makna ini, orang Manggarai selalu diingatkan untuk senantiasa bekerja keras/cermat dan jujur, sehinga memperoleh rezeki dari ketekunan bekerja keras secara cermat dan jujur. Hanya dengan kejujuran orang hidup tenang, tidak diburu seperti tikus.
  4. Motif Su'i (garis-garis batas). Melambangkan keberakhiran segala sesuatu. Bahwa segala sesuatu ada akhirnya dan ada batasnya.
  5. Motif Ntala (Bintang). Motif Ntala berkaitan erat dengan harapan yang sering dikumandangkan dalam "tudak" atau "idik" (doa) yaitu "porong langkas haeng ntala" (supaya senantiasa tinggi sampai di bintang). Maksudnya supaya senantiasa sehat, umur panjang, dan memiliki ketinggian pengaruh lebih dari orang lain dalam hal membawa terang perubahan.
  6. Motif Wela Runu (Bunga Runu). Melambangkan sikap ethos, bahwa orang Manggarai sebagai bunga kedil tetapi indah dan memberi hidup, dan ia hidup di tengah kefanaan.

Jenis dan Ukuran Songke

  1. Sarung : panjang 135 x lebar 170 cm
  2. Selendang atau syal : panjang 200 cm x lebar 20 dan 30 cm
  3. Baju: semua ukuran (S, M, L, XL, XXL)
  4. Rok: semua ukuran (S, M, L, XL, XXL)
  5. Peci : berbagai usia dengan ukuran tinggi 20 cm.

Proses Pembuatan Songke

        Sebelum membuat Towe Songke, biasanya masyarakat Manggarai mencari kapas hutan (Kampas memrupakan sebutan bagi orang Manggarai) dihutan. Kemudian kapas dipisahkan antara kulit buah, biji dan kapas yang akan dipakai. (Ciri pohon kapas hutan berukuran dengan ketinggian sedang bahkan ada yang tidak mencapai satu meter, buahnya berbentuk lonjong kecil, daunnya berbentuk jari, dan ketika sudah tua, buahnya akan pecah, sehingga kapasnya mencuat keluar, tapi tidak mudah jatuh bahkan ketika ditiup angin, sehingga dari kejauhan bisa mengetahui, kalau di tempat itu ada pohon kapasnya, Ada juga pohon kapas yang sengaja ditanam oleh masyarakat setempat untuk keperluan sehari-hari membuat sumbu pada lampu pelita, untuk dijadikan benang jahit atau benang tenun setelah diproses secara tradisional). Kemudian kapas yang sudah dipisahkan, dijemur hingga benar-benar kering dan siap untuk dipintal.

Proses pemintalan menggunakan alat pemintal tradisional yang disebut gasong (Alat yang terbuat dari sebuah papan berukuran kecil bulat yang ditengahnya dipasang kayu sebesar jari kelingking anak-anak). Kapas kemudian dililitkan pada ujung atas kayu kecil, lalu gasong diputarkan sehingga benang seperti dipintal, sambil jari tangan sebelah kiri menyambung kapas-kapas yang terpisah. Proses ini akan mengubah menjadi benang.

Benang hasil pintalan kemudian dililitkan pada tubuh gasong sampai alat ini benar-benar tidak kelihatan kayu tengahnya dan sudah dirasa berat. Benang kemudian dipindahkan dari gasong ke alat yang bernama woer, yaitu alat untuk membentuk benang menjadi gumpalan-gumpalan berbentuk bulat seperti bola.

Proses untuk menghasilkan benang yang sudah siap dipakai tak hanya sampai di sini. Benang masih harus diwarnai sesuai kebutuhan (umumnya berwarna hitam) menggunakan pewarna alami terbuat dari pohon nila dan arang. Setelah diwarnai, benang dikeringkan. Jika benang hendak dipakai sebagai benang jahit maka benang hasil pintalan harus terlebih dahulu dilicinkan dengan dengan liling (rumah lebah penghasil madu yang sudah dikeringkan kemudian dipadatkan). Caranya, benang ditempelkan atau ditekan dengan jari pada liling kemudian benang ditarik sehingga setiap serat benang menyatu. Akan tetapi, jika benang dipakai untuk menenun sehelai kain, maka langkah tadi dilewatkan.

Setelah benang mencukupi kebutuhan penenunan kain songke, benang kemudian dibuat menjadi mal kain dengan alat tradisional yaitu wenggi. (kayu berukuran 1,5 m sebanyak 2 buah untuk lebar dan 2 m sebnyak 2 buah untuk panjang yang dirangkai menjadi persegi panjang dan diletakan setinggi kurang lebih 30 cm diatas tanah dengan setiap sudut diberi bantu pengalas). Untuk memulai membentuk mal songke dibutuhkan 2 orang perempuan untuk duduk di dalam mal, lalu benang diikatkan pada kayu yang dijadikan lebar, apakah mulainya dari samping kiri atau kanan tergantung kelincahan dari yang mengerjakan. Keduanya berbagi tugas baik memberi maupun menerima benang. Benang yang diterima lalu dikaitkkan pada kayu lalu diberikan lagi kepada si pemberi. Begitu terus, hingga ukuran yang diinginkan terpenuhi. Proses pembuatan ini kita sebut dengan istilah maneng. Setelah maneng selesai, mal kain songke (berang) dipidahkan ke alat tenun tradisional. Ketika proses ini sudah dilakukan, maka aktivitas selanjutnya adalah menenun berang hingga menjadi sehelai kain songke. Proses ini membutuhkan waktu yang lama sekitar berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan tergantung pada ketersediaan benang, banyaknya motif yang digunakan dan kemahiran si penenun songke.

Alat-Alat Yang Digunakan Untuk Menenun Songke

  1. Lihu, kayu yang diletakan di bagian belakang pinggang sebagai penahan beban (berang)
  2. Pesa, kayu yang dipasangkan antara berang dan lihu yang letaknya di bagian perut. Alat ini berpasangan dengan lihu yang dihungkan dengan wase (tali) sebagai pengait. Alat ini dipakai untuk penampung kain yang sudah jadi atau sudah ditenun.
  3. Mbira, sebagai pengancing benang yang dimasukan dari kiri atau kekanan juga untuk mengancing benang sulam motif dengan cara ditarik sebanyak 1 atau 2 kali ke arah perut.
  4. Keropong, bambu berukuran kecil tempat diletakannya keliri atau lebih cocoknya disebut sebagai rumah keliri agar ketika dimasukan diatara celah-celah benang berang, kliri tidak tersangkut. Keliri adalah kayu kecil berukuran sekitar 40 cm yang dililitkan benang yang dipakai sebagai pengunci benang sulam yang dimasukan dari kiri ke kanan.
  5. Jangka, alat yang berbentuk seperti sisir rambut yang berfungsi sebagai pemisah benang 1 helai ke sebelahnya. Jadi setiap ruang antara gigi jangka yang satu ke yang lain diletakan benang diantaranya.
  6. Nggolong, alat dari bambu yang berukuran sekitar ibu hari orang dewasa yang digunakan sebagai pemberi ruang agar kliri bisa masuk dari sebelah kiri ke kanan atau sebaliknya.
  7. Kerempak, kayu persegi yang dipakai sebagai penekan saat akan menggantikan posisi dari mbira dan nggolong.
  8. Donging, kayu bercabang yang membentuk sudut 30 derajat tempat menaruh banggang atau papan yang dilit oleh berang.
  9. Banggang, papan yang digunakan untuk melilitkan berang.
  10. Benang Sulam, digunakan untuk membentuk motif.
  11. Berang, mal kain songke.

Pemanfaatan Songke

        Songke biasa dipakai dalam upacara adat seperti penti (Pesta Kenduri), caci (tarian adat Manggarai), lipa tabing (songke yang diberikan oleh kaum laki-laki kepada kaum perempuan pada saat lamaran), kawing (sebagai Belis/Emas Kawin), lipa rapu (pembungkus mayat), randang (membuka kebun baru), nempung (musyawarah), tombo adak (pembicaraan megenai adat) dan kegunaan sehari-hari seperti untuk sarung, pengganti busana ibadah baik kaum perempuan maupun laki-laki, baju, celana, jas, peci dan syal. Akan sangat terhormat apabila seseorang yang bertamu ke keluarga atau tetangganya mengenakan songke.

 

 

Sumber :

  • http://angelina-febunmer.blogspot.com/2016/01/kain-songke-manggarai-ntt.html
  • https://www.ariesrutung.com/2017/03/songke-kain-tenun-khas-daerah-manggarai.html

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu