Cerita Rakyat
Cerita Rakyat
Legenda Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Barat
Tongtonge yang Ceroboh
- 3 Mei 2018

Tongtonge adalah seorang pemuda yang lugu. Ayahnya seorang peladang yang selalu berpindah tempat untuk bekerja, sedangkan ibu Tongtonge tetap tinggal di kampung. Tongtonge lebih memilih ikut ayahnya. Hanya sesekali saja Tongtonge mengunjungi ibunya.

Suatu hari, Tongtonge sangat gembira, bubu (alat untuk menangkap ikan) yang dibuatnya sudah selesai.
“Syukurlah, bubu ini sudah jadi,” bisik Tongtonge. “Besok aku mau menangkap ikan.” Dia tampak begitu senang. Matanya terus memandang bubu di tangannya. Bubu itu dibawa dan disimpannya di dekat pagar ladangnya.

Karena sibuk membantu ayahnya, Tongtonge akhirnya tidak sempat menangkap ikan. Berhari-hari bubu itu tersimpan di sana. Hingga suatu saat Tongtonge berniat menangkap ikan. Dia menuju ke tempat penyimpanan bubu.

Ketika sampai di sana, betapa terkejutnya dia melihat bubunya sudah habis dimakan anai-anai.

“Simpan bubu di dekat pagar, bubu dimakan anai-anai. Jadi anai-anai inilah yang kuambil!” katanya dengan geram sambil membungkus anai-anai tadi.

Tongtonge pergi mengunjungi ibunya, anai-anai itu pun dibawanya. Setelah berjalan cukup jauh, Tongtonge merasa lelah.  Dia ingin beristirahat sejenak. Dia menyandarkan punggungnya kemudian tertidur. Saat terjaga, cepat-cepat Tongtonge mengambil bungkusan anai-anainya, namun sayangnya anai-anai itu telah habis dimakan oleh seekor ayam.

“Bubu dimakan anai-anai, anai-anai dimakan ayam. Nah, ayam inilah yang akan kuambil!” ujarnya kesal.
Dia kemudian menangkap ayam itu, mengepitnya, dan membawanya pergi menuju kampungnya.

Di tengah perjalanan, tibalah dia di suatu pemukiman penduduk. Di sini Tongtonge kembali beristirahat dan makan, sedangkan ayam tadi tetap saja dikepitnya. Penduduk yang melihat kelakuannya heran. Salah seorang menegurnya.

“Hai Tongtonge, sini berikan ayam itu kepada saya, saya akan menjaganya selama engkau beristirahat dan makan,” ujar lelaki itu menawarkan bantuannya.

Awalnya Tongtonge ragu, tetapi akhirnya ayam itu diserahkannya juga kepada lelaki itu. Beberapa saat kemudian, lelaki tadi menemui Tongtonge. Wajahnya tampak gelisah. Dia menceritakan kalau ayam yang dititipkan kepadanya telah mati tertimpa alu penumbuk padi. Dia meminta maaf dan bersedia mengganti ayam itu dengan ayam miliknya, namun Tongtonge menolaknya.

“Itu tidak adil,” sahut Tongtonge. “Jika ayam itu mati ditimpa alu, maka alu itulah sebagai gantinya!” tegas Tongtonge.

Lelaki tersebut setuju dan menyerahkan alu itu kepada Tongtonge. Begitulah, sepanjang perjalanan Tongtonge banyak mengalami berbagai peristiwa. Alu miliknya dipinjam oleh penggembala sapi namun alu itu patah maka penggembala itu menggantinya dengan seekor sapi. Sapi milik Tongtonge pun akhirnya mati ditimpa nangka. Sebagai gantinya dia pun mengambil nangka tersebut.

Tongtonge kembali melanjutkan perjalanannya. Sekali lagi Tongtonge beristirahat. Tibalah dia di sebuah gubuk. Di dalam gubuk itu tinggal seorang gadis. Gadis itu menawari Tongtonge agar beristirahat dulu di sana. Ketika dia melihat nangka yang dibawa Tongtonge, dia berkeinginan mencicipinya tapi Tongtonge melarangnya karena buah nangka itu akan diberikannya kepada ibunya.

Saat Tongtonge ingin mandi, dia menitipkan nangka itu kepada gadis tadi. Si gadis tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut, nangka itu pun lalu dimakannya.

Sekembalinya dari sungai Tongtonge terkejut, nangka yang dititipkannya tadi ternyata sudah dimakan oleh gadis itu.

“Malangnya nasibku. Bubu dimakan anai-anai, anai-anai dimakan ayam, ayam mati tertimpa alu, alu patah oleh sapi, sapi mati tertimpa nangka, nangka dimakan gadis, maka gadis inilah yang akan kuambil!” bisiknya.

Tongtonge kembali melanjutkan perjalanannya. Dia membawa dua keranjang. Keranjang yang satu diisi gadis tadi, sedangkan yang satu lagi batu, agar seimbang.

Di tengah perjalanan Tongtonge merasa mulas dan ingin ke belakang. Gadis itu memintanya pergi ke sungai. Tongtonge pun setuju. Saat Tongtonge pergi ke sungai, gadis itu melarikan diri. Tapi sebelum itu, dia mengisi keranjang yang tadi ditempatinya dengan batang kayu dan batu.

Setelah Tongtonge kembali ke tempat keranjang-keranjang tadi diletakkan, ia langsung mengangkatnya tanpa memeriksa isinya terlebih dahulu.

Saat tiba di rumah ibunya, Tongtonge langsung berteriak, “Ibu… Calon menantu ibu sudah datang!”

“Kalau kau bawa batu dan batang, letakkan saja di bawah rumah,” jawab ibunya sambil membuka pintu.

“Bukan Bu, menantu ibu sudah datang,” ulang Tongtonge lebih keras karena ibunya kurang pendengaran.
Dia lantas menunjuk salah satu keranjang yang dibawanya.

“Kalau begitu ajaklah ke sini. Bukalah keranjang itu!” pinta ibunya.

Tongtonge dengan cepat berlari ke arah keranjang tersebut. Dan betapa terkejutnya dia ketika mengetahui isi keranjang itu hanyalah sebuah batu dan sebatang kayu. Tongtonge menangis, dia menyesali nasibnya.

 

Sumber: http://indonesianfolktales.com/id/book/tongtonge-yang-ceroboh/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...

avatar
Gulamerah