Alkisah, Mbok Sirni telah lama mendambakan seorang anak. Namun, hingga suaminya meninggal dunia, ia belum juga dikaruniai seorang anak. Meskipun kini Mbok Sirni telah tua, namun keinginannya untuk memiliki seorang anak tidaklah pudar. Ia berharap ada seseorang baik hati bersedia memberikan anak padanya untuk ia rawat. Suatu hari, datanglah seorang raksasa mendatangi Mbok Sirni. Tentu saja Mbok Sirni sangat ketakutan. Ia meminta si raksasa untuk tidak memakannnya. “Tuan raksasa, jangan makan hamba. Tubuh hamba kurus lagi sudah tua, rasanya pahit bila dimakan.” kata Mbok Sirni gemetaran.
“Memangnya siapa mau memakanmu hai ibu tua. Aku datang kemari untuk memberikan bibit-bibit mentimun. Tanamlah biji-bijian mentimun ini. Engkau akan mendapatkan apa yang sudah lama engkau inginkan. Sebagai ungkapan terima kasihmu nanti atas pemberianku, engkau harus membagi dua hasilnya denganku.” kata si raksasa.
Meskipun merasa kebingungan dengan pemberian raksasa, tapi Mbok Sirni menyanggupi untuk membagi dua hasilnya. Ia lantas menanam bibit-bibit mentimun itu di halaman rumahnya. Hanya berselang beberapa hari kemudian bibit tersebut telah tumbuh menjadi pohon mentimun juga berbuah. Diantara buah mentimun tersebut, ada satu mentimun berukuran besar berwana emas.
Mbok Sirni kemudian membelah buah mentimun sangat besar itu. Alangkah terkejutnya Mbok Sirni mengetahui bahwa di dalam mentimun terdapat seorang bayi perempuan sangat cantik jelita. Ia segera mengambilnya, memandikannya kemudian memberikannya pakaian. Mbok Sirni sangat bahagia karena keinginannya mendapatkan buah hati telah terkabul. Ia memberinya nama Timun Mas.
Waktu berlalu, Timun Mas telah tumbuh menjadi seorang anak gadis rajin suka membantu dan menyayangi ibunya. Mbok Sirni merawatnya baik-baik juga sangat menyayanginya. Suatu ketika Mbok Sirni pergi ke hutan untuk mencari kayu bakar. Di tengah hutan Ia bertemu dengan raksasa yang dulu memberinya bibit timun mas. Sang Raksasa meminta Mbok Sirni menepati janjinya untuk membagi dua hasil tanaman bibit mentimun yang ia berikan. Mbok Sirni terlihat ketakutan. Mbok Sirni merasa tidak rela jika harus menyerahkan Timun Mas pada raksasa. Ia segera meminta waktu pada raksasa. Sang raksasa pun menyanggupinya. Si raksasa memberi waktu Mbok Sirni untuk menyerahkan Timun Mas setelah Ia berusia 17 tahun.
Mbok Sirni segera pulang ke rumahnya. Ia masih punya waktu beberapa tahun untuk memikirkan cara menghadapi raksasa. Hingga suatu malam, Mbok Sirni bermimpi sangat aneh, dimana Ia mendapatkan perintah agar menemui pertapa sakti di Gunung Gundul. Keesokan harinya ia segera pergi ke Gunung Gundul untuk menemui pertapa sakti. Setelah bersusah payah mendaki Gunung Gundul, akhirnya Mbok Sirni berhasil menemui pertapa sakti tersebut.
Pada pertapa sakti, Mbok Sirni menceritakan masalahnya. Mbok Sirni juga menceritakan mimpinya bahwa Ia harus menemui pertapa sakti untuk meminta tolong. Sang pertapa sakti bersedia membantu Mbok Sirni. Ia memberi Mbok Sirni, satu biji tanaman mentimun, jarum, sebutir garam, dan sepotong terasi. “Berikan benda-benda ini semua pada anakmu. Katakan padanya, jika Ia dikejar raksasa, maka lemparkanlah benda-benda tersebut secara berurutan, niscaya Ia akan selamat dari kejaran raksasa.” kata pertapa sakti pada Mbok Sirni. Mbok Sirni mengucapkan terima kasih, kemudian segera mohon diri. Sesampainya di rumah, Mbok Sirni kemudian menyerahkan barang-barang pemberian pertapa sakti pada Timun Mas. Mbok Sirni memberitahu Timun Mas, untuk melemparkannya secara berurutan jika kelak datang raksasa.
Beberapa tahun kemudian, usia Timun Mas telah mencapai umur 17 tahun. Mbok Sirni merasa was-was karena teringat akan janjinya pada raksasa untuk menyerahkan Timun Mas. Ia tidak rela Timun Mas yang Ia rawat sejak kecil dimakan oleh raksasa.
Pada suatu hari cerah, Mbok Sirni dan Timun Emas tengah bekerja di kebun. Tiba-tiba terdengar suara gemuruh langkah kaki. Mbok Sirni sadar bahwa raksasa datang untuk mengambil Timun Mas. Mbok Sirni segera meminta Timun Emas untuk melarikan diri. Mbok Sirni mengingatkannya untuk melemparkan barang-barang pemberian pertapa sakti. “Cepat larilah kau nak! Raksasa datang kemari untuk memakanmu. Jangan lupa untuk melemparkan barang-barang pemberian pertapa sakti.” kata Mbok Sirni.
“Baik Mbok, aku akan lari sekarang.” kata Timun Mas seraya berlari ke arah hutan.
Di luar rumah, raksasa berteriak-teriak memanggil Mbok Sirni. “Hai nenek tua! Mana janjimu? Serahkan anakmu sekarang. Aku sudah tidak sabar untuk memakannya.” teriak raksasa pada Mbok Sirni.
Mbok Sirni segera keluar rumah kemudian berkata, “Hai raksasa, anakku telah pergi ke hutan menuju tempat tinggalmu. Ia sudah siap untuk menjadi santapanmu.”
Mata raksasa segera melihat ke hutan di sekeliling rumah Mbok Sirni. Ia melihat Timun Mas tengah berlari kencang. Tidak menunggu lama, raksasa segera mengejar Timun Mas. Meskipun jarak mereka jauh, namun raksasa mampu mendekati Timun Mas karena langkah kakinya sangat lebar.
Mengetahui raksasa telah berada dekat dengannya, Timun Emas segera melemparkan sebutir biji mentimun ke arah raksasa. Kejadian aneh terjadi. Bibit mentimun itu segera tumbuh menjadi pohon mentimun sangat lebat lagi berbuah banyak. Raksasa kemudian mengulurkan tangannya mengambil buah-buah mentimun lantas memakannya sampai habis. Namun perut raksasa masih merasa lapar, Ia kembali mengejar Timun Mas.
Timun Emas lalu melemparkan jarum ke arah raksasa. Kembali hal aneh terjadi. Jarum tersebut berubah menjadi hutan bambu sangat lebat rapat. Raksasa berusaha melewati hutan bambu tersebut. Kakinya terluka karena tertancap batang bambu tajam. Namun raksasa tidak memperdulikan lukanya. Ia terus mengejar Timun Mas.
Timun Emas kemudian melemparkan sebutir garam ke arah raksasa. Segera saja sebutir garam tersebut berubah menjadi lautan sangat luas. Raksasa pun terpaksa berenang melewati lautan tersebut. Setelah berhasil menyeberangi lautan, napasnya tersengal-sengal karena sangat kelelahan.
Melihat raksasa berhasil menyeberangi lautan, Timun Emas segera melemparkan sepotong terasi ke arah raksasa. Sepotong terasi itu kemudian berubah menjadi lumpur hisap sangat luas. Raksasa terhisap oleh lumpur tersebut. Ia berusaha keras untuk keluar dari lumpur mematikan tersebut namun apa daya tenaganya sudah habis saat menyeberangi lautan. Si Raksasa akhirnya tenggelam ke dalam lumpur hisap hingga tidak mampu keluar lagi.
Timun Emas segera terduduk karena sangat kelelahan. Ia bersyukur karena si raksasa akhirnya bisa dilumpuhkan. Setelah tenaganya terkumpul kembali, Timun Emas pun pulang ke rumahnya menemui Mbok Sirni yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya.
Mbok Sirni menunggu di rumah dengan sangat cemas. Ia sangat kuatir kalau raksasa berhasil memakan putri kesayangannya. Namun, betapa gembiranya Mbok Sirni melihat kepulangan Timun Emas. Mereka segera berpelukan sambil menangis bahagia. Akhirnya Mbok Sirni dapat hidup bahagia bersama putrinya, Timun Emas, tanpa gangguan dari raksasa.
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...