Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Stasiun Kereta Api DKI Jakarta Jakarta
Stasiun Manggarai, Jakarta

Warga Jakarta pasti sudah tidak asing lagi dengan Stasiun Manggarai. Stasiun Manggarai terletak di Jalan Manggarai Utara 1, Manggarai, Jakarta Selatan. Stasiun ini merupakan salah satu stasiun transit terbesar di Jakarta yang dilewati oleh kereta commuter line jurusan : 

  1. Jakarta Kota - Bogor,
  2. Jakarta Kota - Bogor,
  3. Jatinegara - Bogor, dan
  4. Jakarta Kota - Bekasi.

Selain itu, Stasiun Manggarai juga dilewati oleh kereta-kereta antar kota. Stasiun Manggarai juga menjadi tempat berhentinya kereta bandara Soekarno-Hatta, meskipun penumpang baru bisa naik di stasiun ini pada awal tahun 2019.

Saya sendiri sering sekali berpergian melalui stasiun ini karena jaraknya yang dekat dengan rumah saya. Pada jam pergi dan pulang kerja, stasiun ini selalu padat dengan penumpang. semua orang berdesakan untuk bisa tiba / pulang tepat waktu.

Stasiun Mangarai dibangun pada masa penjajahan Belanda,tepatnya pada tahun 1914, dan pembangunannya dikepalai oleh Ir. J. Van Grendt. Stasiun ini mulai beroperasi pada tanggal 1 Mei 1918. Arsitektur Belanda sangat mencolok di bangunan stasiun manggarai, dan bangunan ini masih dapat dilihat sampai sekarang. Bentuk Stasiun Manggarai masih sama sejak pertama kali dibangun. Ruangan-ruangan yang dulunya merupakan ruang kantor dan ruang tunggu eksekutif sekarang dijadikan musholla dan area komersil, tapi bentuk bangunannya masih sama. Bangunan yang baru hanyalah bagian loket, peron kereta bandara, dan juga terowongan untuk memudahkan penumpang melintasi rel kereta. TANGGAL

Pada tanggal 1 mei 2018 kemarin, Stasiun Manggarai merayakan ulang tahunnya yang ke 100. Saya sempat berkunjung ke pameran foto yang diadakan di Stasiun Manggarai. Terdapat banyak foto bersejarah Stasiun Manggarai, mulai dari masa pembangunan, hingga sekarang. Terlihat jelas bahwa bentuk arsitektur stasiun tidak berubah sejak 1 abad yang lalu.

Di dekat Stasiun Manggarai juga terdapat terminal bus Manggarai. Para penumpang yang turun di Stasiun Manggarai bisa berjalan kaki melewati Terowongan Manggarai. Terminal ini dilewati oleh beberapa bus, seperti :

  1. Metromini no.17 yang melayani rute Manggarai - Senen,
  2. Metromini no.49 yang melayani rute Manggarai - Pulo Gadung,
  3. Metromini no.62 yang melayani rute Manggarai - Pasar Minggu, dan
  4. Kopaja no.66 yang melayani rute Manggarai - Blok M.

 

#OSKMITB2018

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu