Motif Kain
Motif Kain
TENUN Sulawesi Tenggara Konawe
Tenun Tradisional Konawe
- 13 November 2018

Desa Anggopiu adalah salah satu desa dalam wilayah Kabupaten Konawe, Propinsi Sulawesi Tenggara yang merupakan sentra perajin tenun. Secara historis, tenun tradisional yang berkembang di Sulawesi Tenggara diperkirakan berawal di Buton. Tenun tradisional di daerah ini diperkirakan sudah ada sejak abad XVI, pada masa pemerintahan Sultan Dayanu Ikhsanuddin, sultan Buton yang memerintah pada tahun 1578 – 1615. Pada awalnya, keterampilan menenun hanya berkembang di lingkungan keraton. Kegiatan menenun dilakukan oleh dayang-dayang dan orang-orang di dalam kraton untuk memenuhi kebutuhan akan pakaian bagi golongan bangsawan dan kerabat kesultanan. Sejalan dengan permintaan dan kebutuhan akan pakaian semakin banyak, menyebabkan kegiatan menenun dikembangkan pula di luar kraton, khususnya dikalangan ibu-ibu dan remaja putri dalam wilayah kesultanan Buton.

Keterampilan menenun orang Buton kemudian disebarluaskan ke daerah-daerah sekitar, seperti Muna, Konawe dan Kendari. Khusus Konawe dan Kendari, tenun tradisional di daerah ini juga mendapat pengaruh dari Bugis, sehingga motif tenun mempunyai kemiripan dengan motif tenun Bugis. Walaupun mendapat dua pengaruh etnik yang berbeda, tenun tradisional di Konawe dan Kendari tidak mengalami perkembangan yang pesat. Hal ini disebabkan karena orang-orang Konawe dan Kendari tidak terlalu meminati pekerjaan tenun, sehingga hanya beberapa desa (kampung) dan beberapa orang saja setiap kampung yang menggeluti pekerjaan tersebut. Rendahnya minat tersebut sangat terkait dengan karakteristik masyarakat yang lebih cenderung pada kegiatan ekonomi yang lain, seperti yang berkaitan dengan ekonomi nelayan dan pertanian, serta kerajinan anyaman.

Benang polyster, benang les, dan benang emas/perak merupakan bahan baku penenun. Benang polyster dan benang emas/perak biasanya digunakan sebagai benang pakan dan lungsi, benang ini bentuknya sangat halus dan elastis. Sedangkan benang les bentuknya lebih besar dan warnanya hanya putih, digunakan sebagai benang tambahan pada saat membentuk motif di kepala kain. Ketiga jenis benang ini biasanya digulung pada pedati yang berukuran kecil dan besar. Benang yang digulung dalam pedati kecil biasanya terdiri atas enam buah dalam satu dos. Sedangkan benang dalam gulungan besar biasanya terdiri atas dua buah dalam satu dos. Khusus benang les, karena penggunaannya relatif sedikit, maka gulungannya juga relatif kecil dan dapat dibeli per gulung. Untuk mendapatkan benang seperti tersebut di atas, perajin dapat membelinya langsung di toko-toko, baik di Unaaha maupun di Kendari.

Ada dua jenis peralatan yang digunakan oleh penenun di daerah ini, yaitu gedogan dan ATBM. Pada masa lalu hingga tahun 1980-an, penenun masih menggunakan satu alat tenun, yaitu gedogan. ATBM baru digunakan pada awal tahun 1990-an yang diperkenalkan oleh seorang pengusaha dari Kab. Wajo, Sulawesi Selatan. Kendati demikian, alat tenun gedogan masih tetap digunakan oleh sebagian penenun di Desa Puuwonua dan di Desa Tobimeita.

Kedua alat tenun tersebut memiliki perbedaan yang cukup signifikan dalam hal produksi. Penenun yang menggunakan alat gedogan dapat menyelesaikan sehelai sarung selama tiga hingga tujuh hari. Sedangkan bila menggunakan ATBM dapat menyelesaikan sehelai sarung selama satu hari. Bahkan, bagi mereka yang sangat terampil dapat menyelesaikan tiga sarung selama dua hari.

Kain atau sarung yang diproduksi dengan alat gedogan lebarnya sekitar 65 x 400 cm, sehingga kain tersebut harus dipotong dua terlebih dahulu kemudian dijahit, lalu disambung kembali untuk mendapatkan sehelai sarung. Sedangkan kain yang diproduksi dengan ATBM lebarnya sekitar 130 x 200 cm, kain tersebut tidak perlu dipotong atau langsung saja disambung dengan cara dijahit. Kualitas kain yang diproduksi dari kedua jenis alat tersebut semuanya sama, yang membedakannya tergantung dari bahan benang yang digunakan.

Berdasarkan jenis kain yang diproduksi kebanyakan dalam bentuk sarung. Oleh karena sarung merupakan kelengkapan dari pakaian adat yang digunakan oleh kaum laki-laki dan perempuan. Untuk motif kainnya, etnik Tolaki memiliki motif yang disebut: (1) Motif balo gambere, yaitu motif kotak-kotak kecil dengan warna dasar hitam dan putih; (2) motif barik subbek, yaitu motif kotak-kotak dengan warna dasar hitam dan merah tua; (3) motif balo panta, yaitu motif kotak-kotak yang garis-garisnya terputus-putus dengan warna dasar yang agak gelap-gelap, seperti hitam, merah tua dan hijau tua. Semua motif tersebut memiliki kepala kain yang motifnya sama. Motif pada kepala kain tersebut terdapat garis-garis sebanyak tiga buah dengan warna yang berbeda-beda, seperti merah, kuning dan hijau. Selain itu, terdapat pula garis-garis berbentuk gunung (piramida) yang disebut pepokoasoa; serta terdapat pula garis-garis yang berbentuk ikat pinggang yang disebut tali-tali. Semua bentuk garis-garis tersebut dan pewarnaannya mengandung makna simbolik.

Proses distribusi kain tenun tradisional Tolaki dapat dilakukan secara langsung dan tidak langsung ke konsumen. Distribusi secara langsung biasanya terjadi bilamana konsumen mendatangi langsung usaha tenun untuk membeli atau memesan kain/sarung yang diinginkan. Melalui distribusi secara langsung ini, konsumen biasanya mendapatkan harga relatif murah dibanding jika membeli melalui toko atau pasar. Konsumen yang menempuh cara seperti ini biasanya yang berlokasi di dekat usaha tenun itu sendiri. Sedangkan distribusi tidak langsung dilakukan dengan cara menyalurkan hasil produksi melalui saluran-saluran perantara, seperti butik, toko, pasar tradisional dan pedagang keliling. Saluran-saluran distribusi tersebut tidak hanya berlokasi di Kabupaten Konawe, tetapi juga di Kendari dan daerah-daerah lainnya di Sulawesi Tenggara, bahkan di daerah-daerah atau di kota lain di luar Sulawesi Tenggara, seperti Makassar, Jakarta, Surabaya dan sebagainya.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Arsitektur Hindu Kerajaan Mataram Kuno Candi Miri merupakan salah satu situs candi Hindu yang menjadi bagian dari warisan arsitektur religius Kerajaan Mataram Kuno di Pulau Jawa. Keberadaannya di wilayah Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, menunjukkan penyebaran pusat-pusat keagamaan yang strategis pada periode klasik Jawa. Sebagai candi Hindu, Candi Miri mencerminkan adaptasi tradisi arsitektur India yang dikembangkan dengan karakteristik lokal Jawa Kuno, berdiri sebagai saksi bisu kejayaan peradaban Hindu-Buddha di Nusantara. Sejarah & Latar Belakang Candi Miri didentifikasi sebagai peninggalan Kerajaan Mataram Kuno (Sumber 4). Letaknya berada di wilayah administratif Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, yang merupakan salah satu kawasan terpenting dalam sejarah peradaban Jawa klasik. Terdapat variasi dalam pencatatan lokasi spesifik candi ini. Beberapa sumber merujuk lokasi Candi Miri di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo (Sumber 1, Sumber 2, Sumber...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak
Makanan Minuman Makanan Minuman
Sumatera Utara

Babi Panggang Karo: Simfoni Rasa dari Tanah Batak Di tengah kekayaan kuliner Indonesia yang tak terhingga, Babi Panggang Karo (sering disingkat BPK) muncul sebagai sebuah mahakarya rasa yang menghadirkan jejak budaya dan tradisi dari tanah Sumatera Utara. Lebih dari sekadar hidangan, BPK adalah manifestasi dari identitas masyarakat Karo, sebuah sajian yang kaya akan aroma, rempah, dan cerita. Mengapa BPK begitu istimewa, dan bagaimana ia menjadi simbol kebanggaan kuliner bagi suku Karo? Mari kita telusuri keunikan dan daya pikatnya. ## Andaliman: Jantung Rasa BPK Rahasia di balik kelezatan BPK terletak pada penggunaan rempah-rempah khas, dan yang paling menonjol adalah andaliman. Dikenal juga sebagai "merica Batak" atau "sichuan pepper"-nya Indonesia, andaliman memberikan sensasi rasa yang unik dan tak tertandingi: pedas, sedikit asam, dan yang paling khas adalah efek kebas atau "getar" di lidah (Sumber 2). Rasa yang identik dan aroma yang kuat dari andal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis
Motif Kain Motif Kain
Papua

Batik Kamoro: Mengenal Keindahan Seni Batik dari Papua Batik Kamoro merupakan salah satu jenis batik khas Papua yang dikenal dengan corak unik dan makna mendalam. Berbeda dengan batik dari daerah lain di Indonesia, batik Papua, termasuk Kamoro, memiliki ciri khas motif yang terinspirasi dari kekayaan alam dan budaya suku asli di sana (Sumber 1, Sumber 3). Batik ini secara spesifik menampilkan corak khas Timika, yang terinspirasi dari suku Kamoro dan keindahan alam sekitarnya (Sumber 1). Batik Kamoro tidak hanya sekadar kain bermotif, tetapi juga merupakan representasi semangat dan keberanian penduduk asli Papua (Sumber 2). Simbol-simbol yang terkandung di dalamnya merefleksikan kehidupan masyarakat adat, menjadikannya salah satu warisan budaya yang patut dilestarikan. ## Motif dan Makna Batik Kamoro Motif utama batik Kamoro sangat khas dan mudah dikenali. Corak yang sering ditemukan pada batik ini meliputi: ### Simbol Patung Salah satu motif yang paling menonjol pada batik Kamoro adal...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Dendam Rajo sang Manusia Harimau Putih
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Aceh

Karya: Mahlil Azmi Di sebuah perkampungan kecil bernama Desa Pucok Krueng, di Aceh bagian barat selatan, hiduplah sebuah keluarga kecil yang damai dan bahagia. Mereka berjumlah empat orang: sang ayah bernama Uda Bintang Puteh berumur 40 tahun, ibu Nyak Bulan berumur 30 tahun, anak pertama Rajo Puteh berumur 10 tahun, dan adik perempuannya bernama Nyak Puteh yang berumur 5 tahun.Kedua orang tua mereka adalah petani dan pekebun pala. Sementara itu, Rajo adalah anak yang nakal dan sering berkelahi dengan teman-temannya hingga meresahkan orang tuanya. Walaupun begitu, ia sangat menyayangi keluarganya, terutama adiknya. Nyak Puteh adalah anak yang ceria, patuh, rajin mengaji, dan suka membantu orang tua mencuci piring. Setiap menjelang pagi, ayah dan ibu berpamitan untuk bekerja di ladang memetik buah pala, dan terkadang menjadi buruh tani di sawah milik saudagar kampung. Walaupun upah yang mereka dapatkan sedikit, mereka tetap bersyukur.Beberapa tahun kemudian, saat Rajo berumur 17 tahun,...

avatar
Mahlil Azmi
Gambar Entri
Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Daerah Istimewa Yogyakarta

Candi Miri: Peninggalan Sejarah di Yogyakarta Sejarah & Latar Belakang Candi Miri adalah salah satu candi Hindu yang terletak di Dusun Nguwot, Desa Sambirejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Diperkirakan dibangun pada abad ke-9, Candi Miri merupakan bagian dari warisan budaya Kerajaan Mataram Kuno. Candi ini berdiri tidak jauh dari beberapa candi lain yang juga bersejarah, seperti Candi Banyunibo dan Candi Barong, menjadikannya sebagai bagian penting dari kompleks candi yang memiliki nilai arkeologis yang tinggi (Sumber 2, 4, 14). Candi Miri, yang terletak di bukit karst dengan ketinggian sekitar 300 meter, menjadi lokasi yang strategis untuk aktivitas keagamaan dan pemujaan. Meskipun saat ini kondisinya mengalami kerusakan dan belum dilakukan pemugaran, keberadaannya tetap menarik perhatian para peneliti dan wisatawan yang ingin menyelami sejarah kekayaan budaya Indonesia (Sumber 1, 8, 14). Karakteristik Arsitektur Candi Miri memiliki...

avatar
Kianasarayu