Sebuah Karya Motif kain Luwuk Banggai, yang sudah Internasional dan bisa menjadi saingan Batik
Tenun Nambo
Kabupaten Banggai adalah salah satu kabupaten yang berada di Provinsi Sulawesi Tengah, dengan perkembangan zaman Kab Banggai telah banyak berkembang. Karena semakin banyaknya investor yang ingin memulai usahanya disini karena mereka melihat potensi wisata, budaya dan lainnya di Kab Banggai ini yang akan terus berkembang.
Salah satu hal yang akan saya bicarakan disini yaitu Motif tenun nambo yang sekarang sudah mulai menanjak ketenarannya. Potensi tenun Nambo kain tenun khas dari Kecamatan Nambo di Kabupaten Banggai akan menjadi daya tarik tersendiri selain keindahan wisata bahari di Kabupaten Banggai. Tenun Nambo, tenun kerajinan lokal warisan budaya yang menjadi andalan Kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah ini harus dimaksimalkan menjadi go internasional sehingga memacu pengembangan produk lokal.
Pada acara Indonesia Fashion Week 2018 salah satu ajang fashion terbesar di Indonesia yang diselenggarakan di Jakarta Convention Centre pada tanggal 28 Maret-1 April 2018 Tenun nambo karya Riyanti Utami, salah satu perancang busana ternama asal Yogyakarta, Jawa Tengah digelar bersama dengan ajang pameran busana dari perancang ternama lain di Indonesia.
Bahkan di tahun lalu tenun nambo bisa menembus pergelaran acara di luar negeri. Kain tersebut menjadi bintang utama di Festival Pulo Dua yang ditampilkan dalam pertunjukan Fashion Show Tenun Nambo 2017. Konon, kain ini pun pernah unjuk gigi di New York Fashion 2017 lalu. "Potensi Kain Tenun Nambo ini memang menjadi daya tarik tersendiri selain keindahan wisata bahari di Kabupaten Banggai," tutur Herwin Bupati Banggai.
Tenun Nambo dengan aneka macam warna cerah memiliki beberapa motif yang kental dengan nuansa pesisir yang merupakan wilayah Kabupaten Banggai, diantaranya Manuk Maleo (burung khas Banggai), cardinal fish, pasula, tampok, dan lain-lain.
Seiring dengan perkembangan zaman, kain tenun nambo tidak hanya dipakai oleh kalangan tertentu saja, karena saat ini tenun Nambo sudah menjadi komoditi khas dari Kabupaten Banggai dan telah diperjual belikan secara umum dan luas. Penggunaan tenun Nambo pun juga tidak terbatas hanya untuk dijadikan pakaian, namun juga telah digunakan untuk pembuatan sepatu, tas dan dekorasi rumah. Sehingga tenun nambo ini juga bisa mengembangkan tingkat ekonomi masyarakat sekitar.
Walaupun demikian, Banyak Usaha masyarakat banggai untuk mengembangkan Tenun nambo ini supaya dikenal banyak orang. Pusat pelatihan ini diprakarsai Nani Lalusu dengan memberdayakan masyarakat sekitar untuk memproduksi batik dan tenun Nambo.
Untuk memasyarakatkan tenun Nambo, Herwin mengaluarkan surat edaran untuk Aparatur Sipil Negara (ASN) yang berada di lingkungan Kabupaten Banggai untuk mengenakan batik dan tenun Nambo.
Tenun Nambo adalah kearifan lokal yang menjadi kebanggaan masyarakat di Kabupaten Banggai karena merupakan warisan leluhur yang memiliki nilai seni yang tinggi dan layak diunggulkan sebagai salah satu trend centre ethic yang merupakan salah satu daya tarik sektor pariwisata di Kabupaten Banggai Sulawesi Tengah.
Dari sini kita bisa memastikan bahwasanya tenun nambo adalah salah satu motif kain Indonesia yang patut dijaga kelestariannya, dan nilai estetik yang dimiliki tenun nambo bagus dan keren.
Asal foto:
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...
Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...
Panduan Memahami Asal Usul Gresik: Dari Jejak Sejarah hingga Etimologi Nama Gresik, yang dijuluki Kota Wali karena peran pentingnya dalam penyebaran Islam di Jawa, merupakan salah satu wilayah bersejarah di pesisir utara Pulau Jawa. Memahami asal usul daerah ini tidak hanya menyangkut pengetahuan kronologis semata, tetapi juga memerlukan analisis terhadap berbagai lapisan sumber—dari prasasti kuno, naskah babad, hingga catatan kolonial. Panduan ini dirancang untuk membantu pembaca menavigasi kompleksitas historiografi Gresik secara sistematis, mulai dari etimologi nama hingga penetapan identitas administratifnya sebagai kabupaten. Sumber Sejarah dari Masa Jawa Kuno Dalam tradisi historiografi Indonesia, Gresik menempati posisi unik karena keberadaan sumber-sumber tertulis dari periode Jawa Kuno. Dua dokumen kuno menjadi landasan utama bagi para sejarawan dan budayawan dalam menelusuri akar historis wilayah ini (Sumber 3). Pertama, Babad Hing Gresik merupakan naskah sejar...
Rambu Solo': Ketika Kematian Menjadi Perayaan Perjalanan Bagaimana mungkin kematian—yang di banyak budaya menjadi momen duka dan kehancuran—diubah menjadi sebuah pesta yang memakan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun? Bagi Suku Toraja di Sulawesi Selatan, kematian bukanlah titik akhir, melainkan pintu masuk menuju perjalanan terakhir yang memerlukan persiapan ritualistik yang rumit dan mahal. Inilah inti dari Rambu Solo' , upacara pemakaman dalam ajaran Aluk Todolo yang mengubah penguburan menjadi sebuah spektakul budaya penuh makna. Menunggu di Antara Dua Dunia Paradoks pertama dari Rambu Solo' terletak pada pengertian kematian itu sendiri. Dalam logika Aluk Todolo —kepercayaan leluhur Suku Toraja—seseorang yang baru meninggal secara fisik belum benar-benar "mati" secara spiritual. Mayat akan disimpan terlebih dahulu di dalam rumah, bukan untuk segera dikubur, melainkan menunggu waktu yang dianggap tepat (Sumber 4). Masa tunggu ini bisa berlangsung berm...