Tenaruh Itik Dedah atau bila kita Bahasa Indonesia-kan Telur Bebek Dedah ini adalah salah satu masakan khas daerah Gayo. Teksturnya seperti yoghurt atau lelehan keju dengan rasa lemak dan asam yang lembut di mulut. Masyarakat Gayo pada umumnya pasti sudah tidak asing lagi dengan makanan yang satu ini. Selain karena rasanya yang enak dan unik, bagi Orang Gayo pasti punya cerita tersendiri dengan Tenaruh Itik Dedah ini.
Pada dasarnya telur lain selain telur bebek juga bisa diolah menjadi telur Dedah. Namun telur bebek-lah yang paling enak untuk diolah dengan Olahan Dedah ini.
Bahan Bahan
Alat-alat
Cara pembuatan
Setelah semua bahan dan alat-alat tersedia potong terlebih dahulu daun pisang dengan bentuk potongan bundar atau membulat, hidupkan kompor dengan api kecil, lalu letakkan kuali diatas kompor, ketika kuali sudah dalam panas yang cukup pecahkan telur bebek dan peras Asam Jantar yang sudah dibelah langsung kedalam kuali yang sudah dilapisi daun pisang dan diatasnya telur bebek lalu aduk-aduk telur yang sudah di bubuhi Asam Jantar kemudian tambahkan garam secukupnya. Aduk kembali telur dedah hingga teksturnya menggumpal seperti gumpalan yoghurt kemudian angkat kualinya dan Telur Dedah pun siap untuk disajikan.
Nb : Asam Jantar adalah bahan baku di hampir setiap masakan khas Gayo seperti Asam Jing, Depik Dedah, Pengat Dan Lain lain.
Bila anda berkunjung ke Takengon dan ingin mencoba Tenaruh Itik Dedah ini anda bisa mendapatkannya di Gegarang Cafe atau di Rumah makan Ikan Bakar Buk Lena di One-One.
Sumber: https://steemit.com/indonesia/@lingkargayo/introducing-gayo-to-the-world-tenaruh-itik-dedah
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara