Tempat pemakaman umum (TPU) Jeruk Purut memang sudah tidak asing lagi di telinga kita, perihal mistis yang hadir di dalam kehidupan manusia. Semua percaya akan lahirnya kisah-kisah mistis yang tertegun di dalam pikiran. Entah itu perihal dari sebuah cerita hikayat ataupun dongeng di malam hari. Ketika itu usia saya masih seumur jagung, di kala senja menyambut, angin bertiup sangat lembut, pergantian musim begitu cepat seperti putaran roda pedati. Cerita hikayat tentang kisah mistis yang lahir di TPU Jeruk Purut telah menjadi alas kehidupan yang menakutkan.
Tetapi kini, tiba-tiba perihal tersebut berubah, membangkitkan rasa penasaran saya, rasa keingintahuan yang besar lahir dari dalam hati. Sejak mulai tahun 70-an kisah mistis TPU Jeruk purut mulai menyebar di kalangan masyarakat. Menurut kepercayaan setempat, TPU Jeruk Purut yang terletak di jalan Cilandak, Jakarta Selatan selain banyak menyimpan benda-benda pusaka seperti batu cincin, keris dan mahkota tempat itu juga di kenal akan hadirnya hantu seorang pastor yang kepalanya di penggal saat menyebarkan Agama.
Hantu tersebut di katakan membawa kepalanya di tangan, dan di ikuti anjing hitam besar. Konon dia mencari makamnya, yang menurut warga setempat berada di TPU Tanah Kusir dan bukan di TPU Jeruk Purut. Memasuki tahun 80-an, cerita mistis ini semakin menyebar luas dengan hadirnya tempat-tempat yang konon di percaya akan adanya sosok makhluk yang eksistensinya tidak dapat di jangkau oleh alat indera manusia.
Menurut masyarakat sekitar makhluk-makhluk tersebut sangat suka mengganggu akan kehadiran manusia yang datang untuk berkunjung sekedar uji nyali atau bermaksud untuk mencari benda-benda pusaka yang di percaya akan wujudnya. Kisah mistis yang lahir mengundang rasa penasaran, hadirnya cerita yang telah lama bergentayangan dalam pikiran masyarakat.
Apakah cerita legenda ini benar akan hadirnya sosok-sosok makhluk astral, benda-benda pusaka yang menampakan wujudnya? Tentu semua itu akan menjadi tanda tanya untuk kita semua, percaya atau tidaknya ternyata cerita tersebut di gunakan sebagai dasar film Hantu Jeruk Purut yang di tayangkan pada 29 November 2006, di sutradarai oleh Koya Pagayo yang menceritakan tentang hantu pastor kepala buntung yang akan bisa terlihat apabila sekelompok orang yang berjumlah ganjil mengelilingi komplek perkuburan tersebut sebanyak tujuh kali. Dari sebuah film inilah TPU Jeruk Purut menjadi lebih Fenomenal.
Langit di hiasai gumpalan awan hitam, cahaya bulan ketika itu redup, hembusan angin selatan mengantar saya menuju kediaman terakhir para makhluk hidup. Ringkikan suara burung, serta gesekan dedaunan di setiap ranting tua, iringan aroma khas kematian menyambut suasana malam ini. Tepat pada pukul 24.15 WIB, pertemuan saya dengan seorang lelaki yang usia badannya nampak mulai renta, garis keriput menghiasi lekuk wajah, ukuran badan yang tidak begitu besar serta tinggi 158 cm, dikala bertugas beliau selalu menyandingkan sehelai kayu yang selalu di pegang erat, dia lah juru kunci (kuncen) di TPU Jeruk Purut, akrab di sapa dengan Babe O’ok, telah menggeluti profesinya dari tahun 90-an.
Di bantu dari informasi seorang kuncen yang berada di TPU Jeruk Purut, menjadi saksi dari rasa penasaran akan hadirnya kisah-kisah mistis. Saya menggali semua cerita mistis tersebut, tempat-tempat yang konon menjadi icon paling mengerikan, serta penghuni yang senantiasa menyambut kedatangan manusia.
Ranting pohon tua menyambut langkah kaki kami. Suara gesekan dari atas pepohonan yang rimbun mengantarkan pertanda bahwa kedatangan saya di sambut oleh sosok makhluk yang tidak di kenal. Kepak sayap beserta ringkikan burung gagak hitam bertebaran di atas kepala ini menandakan sesuatu yang buruk tentang kematian dan identik dengan makhluk halus.
Berbicara tentang apa saja tempat yang menyeramkan di TPU Jeruk Purut? Mulai dari makam keramat, konon makam ini yang telah berusia 1 abad. Kuncen menyebutkan bahwa makam keramat adalah makam pertama penghuni lahan sebesar 9.12 hektar dengan bentuk bangunan permanen yang telah di renovasi pada tahun 2000-an. Selanjutnya kisah mistis yang berada tepat di pohon tua yang telah berusia 90 tahun. Pohon tua ini di namakan dengan pohon benda.
Dan kisah mistis yang lahir dari sumur tua yang kira-kira telah berusia 70 tahun, menyimpan beribu kisah mistis yang aneh bin ajaib. Dan yang terakhir, kisah mistis lahir dari dua pohon yang memiliki rupa yang sama, pohon ini di namakan dengan Pohon Kembar. “Dari beberapa tempat ini, memiliki benda-benda pusaka yang berbeda, penghuninya pun berbeda” ungkap Babe O’ok sambil menunjuk beberapa tempat yang menjadi icon TPU Jeruk Purut.
Pohon Kembar
Menggali sejarah dari tempat-tempat keramat, ternyata menghadirkan banyak kisah dan hal-hal gaib yang berada di sekitaranya. Di mulai dari keunikan dua pohon yang di sebut oleh masyarakat sekitar dengan pohon kembar, memiliki tinggi yang sama, bergandengan namun batangnya tidak menyatu. Sebuah pohon yang bisa di katakan sebagai sepasang kekasih, sebab tepat di sebelah pohon tersebut, terlihat satu pohon yang terpisah dengan bentuk yang sama namun ukurannya lebih rendah.
Sisi lain dari pohon kembar ini satu pohon di sebelah utara nampak begitu rimbun dengan jumlah batang lebih banyak. Namun pohon kembar ini memiliki kesejajaran tinggi dan rupa yang sama. Menurut Babe O’ok usia pohon ini sudah 50 tahun dan pohon yang di sebelahnya, yang lebih rendah itu adalah anaknya. Iringan burung gagak hitam terus mengikuti arah langkah kaki. Bertebaran di atas kepala dengan ringkikan yang mengantar suasana malam.
Pohon kembar memiliki kisah mistis tersendiri selain hadir makhluk astral yang sering menampakkan wujudnya sebagai seorang perempuan berambut panjang yang suka melempar ranting, serta berlari-lari di kawasan pohon kembar, kita juga akan di suguhi oleh benda pusaka berbentuk batu tepat di bawah pohon kembar, di kala langit telah gelap akan terlihat cahaya berwarna putih, sekilas jika lihat seperti tanduk kerbau yang saling berdempetan.
Menurut informasi dari Babe O’ok benda pusaka yang hadir di pohon kembar seperti batu cincin yang bentuknya kembar. Benda pusaka ini bisa di bilang seperti suami dan istri yang konon jika mendapatkan benda pusaka ini harus memiliki keduanya, namun jika hanya mendapatkan satu dari benda pusaka ini sebaiknya di kembalikan ke asalnya. Sebab pernah ada insiden seperti itu, yang berakibat fatal pada diri sendiri dan keluarga.
Sumur Tua
Perjalanan untuk menggali info di lanjutkan kesebuah tempat yang menghadirkan kisah mistis berbeda serta lebih menyeramkan. Langkah kaki yang terus di ikuti oleh burung gagak hitam mengayunkan kesebuah tempat yang konon telah terbangun di zaman penjajahan Jepang. Sumur yang telah berusia puluhan tahun terletak tepat di sudut pemakaman bersanding dengan rimbunnya pohon bambu.
Sumur tua memang identik dengan mistis, apalagi dengan kondisi sumur yang nampaknya sudah tidak berfungsi lagi. Melihat sumur tua di TPU Jeruk purut, saya teringat akan kisah Lubang Buaya yang terletak di Pondok Gede, Jakarta Selatan. Di mana sumur itu erat kaitannya dengan peristiwa G30S/PKI. Di sumur itulah di temukan 6 jenazah jenderal dan seorang letnan TNI yang tewas pada pembantaian 30 September 1965. Yang kini di sekitar sumur tersebut di bangun museum dan monumen Pancasila Sakti untuk mengenang ketujuh pahlawan revolusi tersebut.
Namun cerita dari Babe O’ok, tentang sumur tua, dimana sumur ini terkenal akan hadirnya sosok makhluk astral dan ular siluman yang memiliki mustika berbentuk mahkota di hiasi oleh batu berwarna bening. Makhluk astral yang menghuni sumur tua ini di antara lain memiliki jenis berbeda ada yang jin jalannya cepat, jin seperti Kingkong dan jin yang tangannya panjang. Namun raja terbesar dari sumur tua di huni oleh genderuwo bermata merah.
Menurut mitos jawa, genderuwo merupakan sejenis bangsa jin atau makhluk halus yang berwujud manusia mirip kera yang bertubuh besar serta kekar dengan warna kulit hitam kemerahan, tubuhnya di tutupi rambut lebat yang tumbuh di sekujur tubuh, aroma khas dari makhluk ini adalah terciumnya bau sawo busuk yang menandakan hadirnya sosok mereka di antara kita.
Masyarakat sekitaran TPU Jeruk Purut, selalu melarang untuk anak-anaknya tidak bermain di dekat sumur tua tersebut, di kala siang dan malam hari. Sumur tua itu nampaknya memang tidak tersentuh oleh siapapun. Kisah mistis yang lahir di masyarakat setempat, sumur yang sudah ada sejak zaman penjajahan Jepang itu hanya di huni oleh makhluk astral yang kejam.
Babe O’ok menerangkan bahwa dulunya sumur itu tidak berada di luar, melainkan di dalam sebuah bangunan berbentuk rumah, tempat itu di huni oleh para jajahan Jepang untuk berbuat maksiat serta membunuh lalu mayatnya di buang kedalam sumur. Namun, bangunan itu telah di rubuhkan oleh pihak pemakaman, agar berfungsi sebagai lahan untuk makam.
Masyarakat sekitar percaya bahwa sumur tua itu di huni oleh seekor ular siluman. Ular itu seperti ular kobra, dengan panjang yang sama persis, namun memiliki mahkota di atas kepalanya. Memang belum ada yang melihatnya secara kasat mata, namun Babe O’ok yang telah bergelut di dunia ini selama 27 tahun menjadi saksi bahwa adanya benda mustika yang berbentuk mahkota dengan mengeluarkan cahaya bening keluar dari lubang sumur tua, berselang hitungan menit, mustika itu kembali masuk kedalam sumur. Seakan kekuatan gaib dari para benda-benda mustika telah menampakkan wujudnya sebagai pertanda adanya sosok mereka yang hadir di dalamnya.
Pohon Benda
Ternyata malam masih begitu panjang, kuncen mengarahkan perjalanan ini menuju sebuah tempat yang menyimpan kisah mistis lebih menyeramkan. Di kalangan masyarakat, tempat ini tentu tidaklah asing untuk di dengar, sebab tempat ini selalu di jadikan momen uji nyali serta pencarian benda-benda pusaka dengan mengadu kekuatan spiritual, pohon benda, itulah nama yang sering di sebut oleh masyarakat.
Dari kejauhan pandangan mata, satu pohon yang besar yang nampaknya begitu kokoh dengan usianya yang telah mencapai 90 tahun. Konon pohon ini menyimpan banyak benda pusaka keramat semacam keris dan batu yang biasa di gunakan sebagai media kekuatan gaib, tentunya tidak akan mudah untuk meraih benda-benda pusaka yang berada di dalam pohon ini, sebab pohon ini di jaga oleh penghuni gaib yang begitu kuat.
Menurut Babe O’ok pohon ini di jaga oleh beberapa raja jin di antaranya makhluk gaib sejenis tuyul, tetapi bisa di katakan bukan tuyul namun yang lebih tepatnya seperti liliput, dengan kuping lancip yang menjulang seperti pencakar langit serta giginya yang tajam sama seperti gergaji, makhluk inilah yang paling iseng, memiliki hobi selalu ngejahilin manusia, nyentil serta mengelus-ngelus pipi orang.
Kisah mistis yang berada pada pohon keramat atau pohon benda yang di dalamnya, konon memiliki benda pusaka semacam keris yang menancap pada sela-sela akar pohon tua ini, berfungsi sebagai pondasi kekuatan gaib yang menopang kokohnya pohon. Ternyata telah mengundang rasa penasaran para pemilik kekuatan spiritual hingga berambisi besar untuk memiliki benda pusaka tersebut. Namun apakah cerita tentang adanya benda pusaka di dalam pohon tua ini hanya sekedar mitos atau fakta?
Kesaksian seorang kuncen bahwa ada seseorang memiliki ilmu gendam putih, yang di pergunakan sebagai alat komunikasi dengan makhluk halus, Agus Yulianto atau akrab di sapa dengan ki Joko Bodo seorang paranormal yang memiliki kekuatan spiritual yang dapat memanfaatkan ribuan jin, pernah melakukan pertapaan selama dua hari di tempat ini pada tahun 2005, pertapaan ini dilakukan untuk membuktikan apakah memang benar adanya benda pusaka yang di tancapkan di dalam pohon benda.
Serta seorang warga yang berasal dari Bogor melakukan ritual yang sama seperti Ki Joko Bodo, namun menyerah dan tidak sanggup. Pada pohon benda terdapat keris yang di incar oleh para pemilik kekuatan spiritual. Namun upaya pengambilan keris itu seringkali tidak membuahkan hasil. Pada tahun 2013 seorang paranormal bernama ki prana yang merupakan guru besar Padepokan Dayak Prana sekaligus sebagai konsultan supranatural dapat membuktikan dengan mengeluarkan salah satu benda pusaka semacam keris dengan panjang 30 cm tanpa gagang. Babe O’ok menuturkan benda tersebut dia peroleh dari pohon keramat dalam kurun waktu hitungan menit.
Makam Keramat
Satu tempat terakhir yang konon merupakan tempat dengan banyak kejadian aneh yang telah terjadi di sekitaran pemakaman jika tidak adanya restu dari tempat keramat ini. Sebuah tempat tertua yang telah berusia 1 abad sekaligus tempat pertama yang menduduki lahan sebesar 9.12 hektar. Tempat yang di huni oleh jin Islam di kenal sebagai tempat tertua, keramat dan di hormati yang di dalamnya merupakan makam dari seorang Habieb bernama Syeikh Waliallah Wan Salim atau biasa di sebut Abdullah Bin Jeruk Purut.
Sumber: http://cerita-hantu.com/2017/urban-legends/sejarah-di-balik-kisah-mistis-tpu-jeruk-purut/33356/
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...