Makanan Minuman
Makanan Minuman
Makanan, Perayaan DKI Jakarta Tionghoa
Simbol di Balik Telur Merah
                Tradisi memberikan telur merah sering muncul dalam banyak aspek kehidupan masyarakat Tionghoa. Budaya ini juga dibawa mereka yang datang ke berbagai pelosok di Indonesia. Dengan demikian, telur merah juga menjadi bagian dari kekayaan budaya bangsa Indonesia.

                Telur merah sebenarnya merupakan telur ayam rebus yang diberi warna merah. Dahulu, sebelum pewarna makanan ditemukan, telur direbus dalam air bersama dengan angkak. Angkak merupakan beras terfermentasi yang memiliki warna merah pekat. Angkak tersebut akan menjadikan telur berwarna merah. Sekarang ini telur direbus dengan air yang diberi pewarna makanan merah dan garam. Garam tersebut bertujuan supaya telur tidak pecah.

                Telur merah mengandung makna penting dalam kebudayaan Tionghoa. Telur dalam fenomena alami merupakan asal dari kehidupan, karena dari telur akan menetas suatu makhluk hidup, misalnya ayam. Konsep telur sebagai permulaan dan asal kehidupan diperluas lagi dalam mitologi orang Tionghoa tentang asal mula dunia. Konon, Dewa Pan Gu menemukan suatu telur ayam raksasa dan ia memecahkannya. Telur yang pecah itu menjadi langit, bumi dan segala isinya. Jadi, telur adalah simbol dari asal mula, kelahiran, dan kehidupan.

                Sementara itu, warna merah terkait dengan tolak bala, kesejahteraan, dan kemakmuran. Masyarakat TIonghoa percaya bahwa warna merah adalah warna yang dibenci oleh monster dan roh-roh jahat. Warna merah mampu mengusir segala yang membawa kemalangan, sehingga warna merah juga berarti mengharapkan kemakmuran.

                Unsur telur dan warna merah ini digabungkan sehingga membentuk makna kelahiran/kehidupan yang diharapkan dapat sejahtera. Oleh karena itu, pada prinsipnya telur merah diberikan saat merayakan momen-momen tentang hidup baru, misalnya syukuran bayi satu bulan, ulang tahun, dan juga pernikahan.

                Ketika seorang bayi memasuki usia satu bulan, orang tua mengundang keluarga besar untuk perayaan syukur. Sanak saudara akan datang membawa hadiah, sementara orang tua dari bayi akan memberi bingkisan telur merah kepada yang datang. Pada perayaan ulang tahun seseorang, orangtua akan memberikan dua buah telur merah. Selain mengharap hidup yang baik, dua telur juga melambangkan harapan akan mendapat jodoh. Telur merah juga menjadi bagian dari mie ulang tahun, makanan khas Tionghoa saat perayaan ulang tahun. Terkadang pasangan yang baru menikah juga diberikan telur merah sebagai harapan supaya mendapat anak-anak.

 

Sumber: Saudara sepupu dan ibu

#OSKMITB2018

 

 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Kidung Lakbok
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.

avatar
Henripurwanto
Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker