Pada zaman dahulu kala hidup seorang bangsawan yang kaya raya bersama isterinya di Desa Lolambi. Pasangan suami-isteri itu sudah lama kawin tetapi belum juga dikaruniai seorang anak. Siang-malam mereka berdoa pada sang Dewata agar mereka diberikan momongan. Setelah bertahun-tahun memohon, akhirnya Dewata mengabulkan permintaan mereka, dan si isteri pun mulai mengandung.
Setelah sembilan bulan mengandung, lahirlah seorang bayi laki-laki yang sangat tampan dan gagah. Putera itu diberi nama Kasainta. Namun, anak itu tidak lama merasakan kasih sayang ayahnya karena pada usia dua tahun, ayahnya telah meninggal dunia.
Sepeninggal ayahnya, ibu Kasainta selalu bersedih. Ibu itu merasa bahwa ia tidak akan mampu memelihara Kasainta dan sekaligus mengurus harta kekayaan suaminya seorang diri. Ia membutuhkan orang lain untuk menemaninya. Oleh sebab itu, ia memanggil kakak laki-lakinya untuk tinggal di rumahnya. Waktu itu sang kakak telah mempunyai dua orang putera yang umurnya sedikit lebih tua dari umur Kasainta.
Sejak saat itu Kasainta dipelihara bersama-sama saudaranya. Dalam pergaulannya sehari-hari, Kasainta selalu sopan, penurut, rajin dan suka menolong orang lain. Sebaliknya, tabit kedua saudara sepupunya sangat bertentangan dengan tabit Kasainta. Mereka suka mengganggu orang lain. Di rumah mereka sering pula mengejek Kasainta sebagai seorang anak yang tak berayah.
Karena sudah tidak tahan lagi, Kasainta melaporkan pada ibunya tindakan saudara sepupunya itu. Ibunya menasehati agar hal itu dihadapi saja dengan penuh kesabaran. Mendengar nasihat ibunya, Kasainta hanya diam saja, dan sejak itu ia sering bermain bersama teman-temannya di luar rumah dan jarang bergaul atau bermain bersama kedua saudara sepupunya.
Dari pergaulan dengan teman-teman yang tinggal tidak jauh dari rumahnya, Kasainta mengetahui bahwa paman dan kedua anaknya itu sebenarnya baru beberapa tahun tinggal di rumah Kasinta. Mereka memiliki rumah sendiri di desa lain. Setelah mendengar penjelasan itu, Kasainta pulang dan langsung bertanya pada ibunya, mengapa mereka ditemani oleh pamannya. Ibunya menjelaskan bahwa rumah yang mereka tinggali itu adalah rumah ayah Kasainta. Begitu pula harta yang diurus oleh pamannya. Kasainta masih terlalu muda untuk mengurus harta ayahnya. Rumah dan harta warisan itu nantinya akan diserahkan pada Kasianta setelah dewasa.
Percakapan tadi secara tidak sengaja terdengar pula oleh kedua saudara sepupu Kasainta. Mereka akhirnya tahu bahwa selama ini mereka tinggal di rumah Kasainta dan harta kekayaan yang diurus oleh ayah mereka sebenarnya adalah harta Kasainta. Singkat cerita, timbullah niat mereka untuk menguasai harta itu dengan cara menyingkirkan Kasainta. Apabila Kasainta telah tiada, tentu harta itu akan menjadi milik mereka berdua.
Kedua orang itu kemudian berunding mencari cara yang paling baik untuk menyingkirkan Kasainta. Dan, dalam perundingan itu dicapailah kesepakatan bahwa Kasainta harus disingkirkan sejauh mungkin agar tidak dapat kembali lagi ke rumahnya. Caranya adalah dengan membawanya ke hutan yang terdapat di sebuah tanjung yang jauh dari Desa Lolambi, dengan alasan untuk mencari rotan. Hutan tersebut tidak berpenghuni dan apabila Kasainta yang masih kecil ditinggalkan di sana, maka ia akan kelaparan dan mati di sana.
Pada hari yang telah ditentukan, Kasainta dibujuk oleh kedua saudara sepupunya itu untuk pergi mencari rotan di hutan. Tanpa merasa curiga sedikit pun, Kasainta menuruti kemauan kedua saudaranya itu meskipun pekerjaan ini dapat mengancam keselamatan jiwanya. Mereka bertiga kemudian berangkat menaiki perahu menuju tanjung untuk mecari rotan. Perjalanan dengan perahu itu ditempuh dalam waktu sehari semalam.
Setelah sampai di tanjung itu, hari telah menjelang malam, sehingga Kasainta dan kedua saudara sepupunya segera mendirikan sebuah gubug untuk berteduh dan beristirahat di tepi pantai.
Keesokan harinya barulah mereka pergi ke dalam hutan hendak mencari rotan. Jarak hutan itu kira-kira 3 km dari tempat mereka membuat gubug untuk beristrahat di pinggir pantai. Setelah menebang dan mengumpulkan rotan, sore harinya mereka pulang kembali ke gubug mereka di pantai.
Pada hari yang kedua, pagi-pagi sekali mereka sudah berangkat ke hutan untuk mencari rotan lagi. Dalam perjalanan menuju hutan itu, tanpa sepengetahuan Kasainta, kedua saudara sepupunya merundingkan bagaimana caranya menipu Kasainta agar tertinggal di hutan. Dalam perundingan itu mereka sepakat untuk membuat 4 ikat rotan, padahal mereka hanya bertiga. Rontan yang keempat nanti akan diambil dan dibawa sendiri oleh Kasainta.
Setelah sampai di hutan, mereka kemudian mengumpulkan rotan dan mengikatnya menjadi 4 ikatan. Saat rotan selesai diikat, maka setiap orang membawa seikat menuju pantai tempat mereka berdiam sementara. Sedangkan rotan yang masih tersisa mereka tinggalkan di hutan. Kasainta menduga bahwa rotan yang tersisa itu nanti akan diambil lagi dan dibawa bersama-sama dengan kedua saudara sepupunya. Ia sama sekali tidak menduga bahwa rotan itu hanyalah siasat dari kedua saudaranya agar ia tertinggal di hutan dan tidak kembali lagi ke rumahnya.
Setelah tiba di pantai, Kasainta disuruh kakaknya untuk pergi sendiri mengambil rotan yang masih tertinggal di hutan. Tanpa membantah Kasainta segera pergi ke tempat di mana rotan itu disimpan. Dalam perjalanan mengambil ikatan rotan yang keempat itu, Kasainta masih tidak merasa bahwa ia akan ditinggalkan oleh saudara-saudaranya.
Ketika Kasainta sudah masuk ke dalam hutan, kedua orang saudara sepupunya itu langsung mendorong perahu mereka ke laut dan segera berlayar meninggalkan tempat itu. Perahu yang mereka kayuh meluncur laksana awan ditiup angin menuju Lolambi. Mereka gembira sekali karena tipu muslihatnya dapat dilaksanakan dengan baik. Mereka mengira Kasainta pasti mati dalam hutan itu karena semua makanan dan parang telah mereka bawa. Tidak mungkin Kasainta dapat hidup di hutan yang mengerikan itu. Demikianlah pikir mereka dalam perahu di tengah laut itu.
Beberapa jam kemudian, Kasainta pun tiba di tepi pantai dengan membawa rotan yang keempat. Ia heran sekali melihat gubug telah kosong. Saudara-saudaranya tidak ada lagi dan perahu pun juga tidak ada. “Barangkali mereka sudah pergi,” pikir Kasainta. Ia berusaha mencari kedua saudaranya di sekitar tempat itu, namun tidak berhasil.
Kasainta akhirnya sadar bahwa tujuan kedua saudaranya mengajak ke hutan mencari rotan itu semata-mata hanya ingin membunuhnya secara halus. Kasainta menyesal mengapa ia mau diajak pergi ke tempat itu. Ia menangis di atas sebuah karang. Sambil menangis ia menyebut nama Tuhan, dan memohon agar dilindungi serta diselamatkan dari bahaya yang mungkin mengancam jiwanya.
Saat ia menangis itu, tiba-tiba di atas permukaan laut muncul dua ekor ikan besar mendekati Kasainta. Seekor di antaranya ialah ikan yu. Ikan itu kemudian berbicara pada Kasainta: “Hai, manusia, apakah yang engkau susahkan sehingga menangis dan meratap di tempat yang sunyi ini?”
Kasainta berhenti menangis, lalu menjawab: “Saya sedih karena di tinggalkan oleh saudara saya di sini.
“Tak usah sedih, nanti kami antar kau kembali ke desamu,” kata ikan yu.
“Bagaimana caranya kalian mengantar saya pulang?” tanya Kasainta.
“Naiklah di punggung saya,” kata ikan yu, “nanti teman saya yang akan menjaga engkau dari gangguan ikan lainnya.”
Kemudian Kasainta naik di atas punggung ikan yu itu. Pada saat itu juga ikan itu meluncur bagaikan sebuah kapal. Kebetulan pada waktu itu matahari sedang bersinar terik sehingga Kasainta merasa kepanasan. Ikan yu itu sadar akan hal ini sehingga Kasainta disuruh berpegang erat-erat. Kemudian ikan itu menyelam sedikit sehingga badan Kasainta agak sejuk terkena air laut. Dan, tanpa disadarinya, Kasainta telah melewati perahu kedua saudara sepupunya.
Ia tiba di pantai Lolambi kira-kira jam empat sore. Sebelum ia ke darat, Kasainta berkata pada kedua ekor ikan yang telah menolongnya: “Saya akan berpesan pada turunan saya untuk tidak memakan jenis ikan seperti kalian ini. Kalau ada di antara turunan saya yang memakannya, maka mereka akan terkena kutukan saya.”
Setelah mendarat, Kasainta langsung pulang ke rumahnya. Di sana ia melihat paman dan ibunya sedang duduk di serambi depan. Mereka bertanya: “Di mana saudaramu? Mengapa hanya kau sendiri yang kembali?”
Kasainta menjawab: “Kalau bukan karena kuasa Tuhan, saya tidak akan kembali lagi.”
Mendengar ucapan anaknya itu, ibu Kasainta menjadi heran dan mendesak pada anaknya untuk menceritakan apa yang sebenarnya telah terjadi. Akhirnya Kasainta menceritakan pengalamannya sejak ia berangkat mencari rotan sampai ia dapat kembali ke Lolambi karena diselamatkan ikan. Ibunya menangis tanda bersyukur pada Tuhan, karena anaknya selamat tiba di rumah. Ia memeluk anaknya dengan suka cita.
“Rupanya saudaramu itu hendak membunuhmu, ya,” kata pamannya. “Saya tunggu mereka datang baru ditanyakan tentang kebenaran kata-katamu itu.”
Keesokan harinya saudara sepupu Kasainta baru tiba dengan selamat di pantai Lolambi. Ayah dan bibi mereka sudah menunggu sejak malam hari. Masyarakat Lolambi pun ikut pula menunggu kedatangan kedua anak itu untuk membuktikan kisah Kasainta yang telah tersiar di seluruh desa. Pada waktu kedua anak itu telah mendarat, Kasainta sengaja disembunyikan.
Ketika kakak beradik itu telah sampai di rumah, mereka langsung ditanya oleh ayahnya, mengapa mereka hanya berdua saja dan dimana Kasainta. Mereka menjawab dengan mengatakan bahwa Kasainta hilang di hutan dan tidak diketahui ke mana perginya. Mereka telah mencarinya hingga berjam-jam, namun Kasainta tidak ditemukan juga. Akhirnya mereka pulang untuk melaporkan bahwa Kasainta telah hilang di hutan.
Mendengar jawaban kedua anaknya yang dibuat-buat itu ayahnya sangat marah. Ia yakin bahwa puteranya mempunyai maksud yang jahat terhadap kemenakannya. Ayahnya mengancam akan membunuh kedua anaknya itu. Untunglah dapat dicegah oleh para tetangga yang pada saat itu sedang berkerumun di rumah Kasainta. Pada saat itu Kasainta dikeluarkan dari tempat persembunyiannya.
Melihat Kasainta tiba-tiba ada dihadapan mereka, kedua saudara sepupunya itu menjadi pucat, takut dan malu. Mereka tidak menyangka kalau Kasainta sudah lebih dahulu ada di rumah. Kedua kakak beradik itu sangat malu atas perbuatan dan kebohongan mereka yang telah diketahui oleh seisi rumah dan seisi kampung. Tak lain yang mereka lakukan hanyalah meminta ampun pada Kasainta atas segala perbuatan mereka yang keji dan kejam itu.
Sejak kejadian itu, oleh penduduk Desa Lolambi, Kasainta diberi julukan baru yaitu “Tau Niulaya Nu Bau” yang artinya “orang yang dibawa oleh ikan”.
Referensi:
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
Pengenalan Bekam, yang dalam bahasa Arab dikenal sebagai hijamah, adalah terapi tradisional yang sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu. Terapi ini dilakukan dengan cara mengeluarkan darah kotor dari dalam tubuh melalui pemvakuman kulit. Di Bali, bekam menjadi salah satu metode pengobatan alternatif yang populer, dengan berbagai manfaat kesehatan yang dipercaya oleh masyarakat setempat. Terapi ini bukan hanya dianggap sebagai metode penyembuhan, tetapi juga memiliki nilai budaya yang dalam. Sejarah Sejarah bekam dapat ditelusuri hingga ke zaman Mesir Kuno, namun penggunaannya telah menyebar ke berbagai belahan dunia, termasuk Asia Tenggara. Di Indonesia, termasuk Bali, bekam telah menjadi bagian dari praktik pengobatan tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam konteks masyarakat Bali, bekam sering kali dipadukan dengan spiritualitas dan ritual adat, menjadikannya lebih dari sekadar terapi fisik. Beberapa sumber menyebutkan bahwa terapi bekam telah digunakan di Bali s...
NEGERI ANTARA: JEJAK PUTRO ALOH dan MANUSIA HARIMAU Karya: Mahlil Azmi Di pagi yang cerah, saat embun masih menempel di daun-daun dan suara burung hutan bersahut-sahutan, aku bersama seorang teman bernama Jupri memulai perjalanan menuju Gunung Alue Laseh, tujuan kami sederhana menangkap si kicau, burung cempala yang terkenal lincah dan bernilai mahal di kampung kami. Bekal kami pun tak seberapa: nasi, sedikit ikan asin, dan air secukupnya. Namun jarak yang jauh dan medan yang berat tak membuat semangat kami luntur. “Lil, kalau dapat cempala besar, kau traktir kopi ya,” kata Jupri sambil tertawa, memikul tasnya yang tampak lebih besar dari isinya. “Kau tenang saja, asal jangan kau makan burungnya duluan,” balasku. Kami tertawa, tawa ringan khas dua pemuda kampung yang belum tahu apa yang menanti di depan. Gunung kami memang bukan gunung biasa. Ia bagian dari hutan pegunungan Leuser di barat selatan Aceh. Di sana hidup binatang buas, termasuk sang raja hutan—harimau. Tapi ba...
Genggong merupakan alat musik tradisional khas Bali yang termasuk dalam jenis alat musik tiup. Alat musik ini terbuat dari bahan dasar bambu atau pelepah aren dan dimainkan dengan cara ditempelkan ke mulut, lalu dipetik menggunakan tali yang terpasang pada bagian ujungnya. Suara yang dihasilkan oleh genggong berasal dari getaran lidah bambu yang dipengaruhi oleh rongga mulut pemain sebagai resonator. Oleh karena itu, teknik memainkan genggong membutuhkan keterampilan khusus dalam mengatur pernapasan dan posisi mulut. Dalam kebudayaan Bali, genggong sering digunakan dalam pertunjukan seni tradisional maupun sebagai hiburan rakyat. Selain memiliki nilai estetika, alat musik ini juga mencerminkan kearifan lokal dan kreativitas masyarakat Bali dalam memanfaatkan bahan alam sekitar.
1. Rendang (Minangkabau) Rendang adalah hidangan daging (umumnya sapi) yang dimasak perlahan dalam santan dan bumbu rempah-rempah yang kaya selama berjam-jam (4–8 jam). Proses memasak yang sangat lama ini membuat santan mengering dan bumbu terserap sempurna ke dalam daging. Hasilnya adalah daging yang sangat empuk, padat, dan dilapisi bumbu hitam kecokelatan yang berminyak. Cita rasanya sangat kompleks: gurih, pedas, dan beraroma kuat. Rendang kering memiliki daya simpan yang panjang. Rendang adalah salah satu hidangan khas Indonesia yang paling terkenal dan diakui dunia. Berasal dari Minangkabau, Sumatera Barat, masakan ini memiliki nilai budaya yang tinggi dan proses memasak yang unik. 1. Asal dan Filosofi Asal: Rendang berasal dari tradisi memasak suku Minangkabau. Secara historis, masakan ini berfungsi sebagai bekal perjalanan jauh karena kemampuannya yang tahan lama berkat proses memasak yang menghilangkan air. Filosofi: Proses memasak rendang yang memakan waktu lama mela...