Satu persatu penari naik ke atas panggung. Lima orang penari bergerak melingkar, memutar, dan berbaris lurus dengan gerak dasar tumit, tangan dan pinggul. Kemudian mereka berpencar dan saling berhadapan satu sama lain dalam bentuk setengah lingkaran. Gerakan tari dilanjutkan dengan penari berjongkok seraya meragakan gerakan memetik padi. Inilah tari Petik Pari, tari khas Pacitan yang ditarikan untuk merayakan hasil panen padi.
Usai menampilkan gerakan utama, kemudian 5 penari melakukan gerak saling berangkulan, memainkan kaki, memutar putran kecil, dan berlanjut ke putaran besar. Empat orang penari mengelilingi 1 penari dan berhenti dengan posisi seolah-olah sedang menyambut penonton. Rupanya gerakan indah ini merupakan gerakan penutup dan para penari kembali ke belakang panggung.
Beberapa daerah masih memegang teguh tradisi penghormatan terhadap Dewi Sri. Figur Dewi Sri menjadi simbol dan kerangka acuan berpikir bagi orang Jawa khususnya petani Jawa di dalam prosesi siklus hidup yaitu perkawinan, memperlakukan rumah dan tanah pertaniannya. Di beberapa tempat mempunyai ritual adat petik pari berupa syukuran. Diciptakan tarian Petik Pari ini salah satu upaya mewacanakan kembali pentingnya prosesi petik padi dalam khasanah budaya Jawa dan nusantara.
Tari Petik Pari merupakan tarian kontemporer yang dikembangkan oleh Anang dari sanggar Blarak Pacitan. Anang dan istrinya dalam setahun terakhir mulai mengeksplorasi budaya lokal untuk diangkat menjadi tarian. Anang dan istrinya bekerja sebagai guru tari dan membina sekitar 500 anak dan remaja di Pacitan, Jawa Timur.
Di sanggar Blarak Pacitan, anak-anak sanggar banyak bereksplorasi gerakan-gerakan dasar tari. "Mereka anak sanggar yang telah menginjak remaja mulai berpotensi menularkan ilmunya, kita perintah untuk melatih adik-adik sanggar yang umurnya dibawahnya. Selain itu kita kirim ke sekolah-sekolah untuk melatik anak didik di SD, SMP dan SMA," tutur Anang dalam pementasan Seni Budaya Pacitan di Anjungan Jawa Timur, Taman Mini Indonesia Indah (TMII), 2 Agustus 2015.
Anang mengungkapkan, tugasnya menciptakan tontonan yang menarik. Dalam dunia tari kontemporer, selain menciptakan gerak-gerak tari, saya selalu mengiringi dengan tradisi dan budaya. "Jadi tari petik pari ini memang mengejawantahkan nilai positif masyarakat agraris di Jawa." ungkapnya. [AhmadSirojuddin/Indonesiakaya]
Sumber: https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/tari-petik-pari-simbol-budaya-masyarakat-agraris
cara hapus akun/data (#KrediOne) secara permanen kamu bisa hubungi pelanggan layanan resmi via WA di (+62.821-7553-746 atau 0898.4440.241). Jelaskan alasan permintaan penghapusan data atau akunnya lalu siapkan identitas diri seperti (KTP) untuk proses verifikasi dan ikuti instruksi petugas customer service untuk menyelesaikan laporan Anda.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...