Tari Kipas Serumpun merupakan tari kreasi yang berasal dari Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Tari ini bercerita tentang jalinan persahabatan antar masyarakat. Banyuasin sebagai salah satu kabupaten di Sumatera Selatan dikenal sebagai daerah yang ditinggali oleh banyak suku dan agama. Tari kreasi kipas serumpun inilah yang kemudian diciptakan untuk menyatukan mereka dalam kegembiraan.
Tari kipas serumpun ditarikan oleh delapan orang penari yang semuanya perempuan. Sebagai tari kreasi, jumlah tersebut bukanlah patokan baku dalam tarian sehingga bisa ditambah atau dikurangi dan disesuaikan dengan besar kecil ukuran panggung.
Penari kipas serumpun mengenakan baju kurung yang didominasi oleh warna keemasan sebagai ciri khas adat Sumatera Selatan. Ciri tersebut juga terlihat dari penggunaan siger sebagai penutup kepala yang biasa dikenakan oleh mempelai perempuan dalam pernikahan adat. Sesuai dengan nama tarian ini, kipas menjadi properti utama dalam pementasan. Gerak tari kreasi kipas serumpun didominasi oleh gerakan tangan yang lincah. Gerak berpindah posisi untuk kemudian membuat formasi juga kerap terjadi dalam tarian, hal ini menggambarkan keriangan para perempuan Banyuasin dalam suatu pesta rakyat.
Sama halnya dengan kebanyakan tari kreasi dari Sumatera Selatan, tari kipas serumpun juga diiringi oleh musik yang berasal dari perpaduan berbagai alat musik tradisional, seperti kendang, perkusi, dan akordion sebagai ciri khas musik melayu Sumatera. Penggunaan gitar dan bass elektronik menjadi pelengkap untuk menghasilkan musik pengiring yang ciamik.
Tari kipas serumpun mengandung makna tentang pentingnya sikap gotong-royong antar sesama manusia. Sikap gotong-royong tersebut menyatu dalam kegembiraan yang tergambar dalam sebuah pesta rakyat. Sikap gotong-royong dalam kebersamaan ini menjadi penting bagi wilayah Banyuasin yang kian heterogen dan memiliki banyak perbedaan dalam latar belakang kebudayaan melayu yang satu. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]
Sumber: https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/tari-kipas-serumpun-wujud-kebersamaan-dalam-kegembiraan
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...