Tarian
Tarian
Tari tradisi Jawa Barat Subang
Tari Dombret
- 23 November 2014

Dombret atau dongbret merupakan kesenian rakyat yang berkembang di daerah Pantai Utara Jawa Barat, khususnya di Pantai Blanakan Pamanukan, Kabupaten Subang. Selain berfungsi sebagai hiburan untuk para nelayan, dombret berfungsi pula sebagai bagian dari upacara nadran sebagai simbol kesuburan. Dombret sering ditampilkan ketika musim pelelangan ikan tiba, dan menjadi hiburan pelepas lelah bagi para nelayan. Selain itu, dombret pun menjadi hiburan bagi para pembeli ikan, sehingga mereka seringkali memilih membeli ikan di tempat tersebut.

Dombret populer sejak tahun 1930-an. Kesenian ini mempunyai kemiripan dengan seni ronggeng (Ketuk Tilu), baik dilihat dari struktur pertunjukannya, lagu-lagu yang digunakan, maupun musik pengiringnya. Istilah dombret sama halnya dengan doger atau ronggeng, yaitu penari wanita yang memiliki kemampuan menyanyi dan menari.

Tempat pertunjukan biasanya di arena terbuka, tanpa panggung khusus. Oleh sebab itu, para nayaga menggelar tikar, duduk sembari diterangi dengan colen (semacam obor terbuat dari bambu). Selain dipergelarkan di pantai Blanakan, dombret juga sering mengamen ke beberapa daerah di sekitar pantai seperti ke Ciasem, Patok Beusi, Jatiragas Hilir, Tegal Koneng, dan sebagainya. Di daerah-daerah tersebut mereka menggelar pertunjukan di tempat yang agak jauh dari rumah penduduk, misalnya di kebun-kebun dan di tempat terbuka lainnya.

Kadang-kadang ada juga masyarakat yang memberikan tempat di halaman rumah (bale). Pengunjung yang datang pada umumnya adalah kaum laki-laki.

Waditra (alat musik) yang digunakan dalam dombret adalah ketuk, kecrek, kendang, rebab, dan goong kecil. Musiknya sangat ceria, riang, sehingga bisa mengundang orang untuk datang ke arena tersebut dan ikut menari bersama dombret. Pertunjukannya diawali dengan tatalu (musik pembuka), sebagai tanda bahwa sajian akan dimulai. Para dombret masuk ke arena pertunjukan, kemudian salah seorang dari dombret menyanyikan lagu kidung yang difungsikan sebagai doa, agar semua yang hadir, baik seniman maupun penonton, diberi kelancaran dan keselamatan. Setelah itu, para dombret menari bersama. Para penonton yang hadir, bisa menari dengan dombret sesuai pilihannya, juga dapat meminta lagu sesuai dengan kesenangannya. Penari dombret dapat pula diajak ke luar arena pertunjukan oleh penari pasangannya ke tempat yang ―gelapâ€- untuk diajak bercengkrama. Tidak lama kemudian dombret kembali ke arena pertunjukan, lalu menyimpan uang pemberian penggemarnya ke dalam peti yang telah disediakan dekat para panjak (pemain musik). Dombret pun menari kembali sambil menunggu pasangan yang mau menari lagi bersamanya. Demikianlah suasana pertunjukan hingga berakhir. Lucunya, di arena pertunjukan kadang-kadang hanya tinggal para panjak saja karena para dombret ada yang membawa ke luar arena pertunjukan. Waktu pertunjukan bisa sampai dini hari, dan selesainya akan sangat tergantung kepada para penggemarnya. Pertunjukan bisa berakhir jika para penggemarnya kelelahan atau kehabisan uang untuk membayar dombret.

Adanya perilaku yang berlebihan dari para penggemar terhadap dombret, mengakibatkan munculnya dampak negatif, bahkan lama-kelamaan kesenian tersebut hanya dijadikan kedok untuk menutupi praktek-praktek prostitusi. Tahun 1950-an mulai muncul warung remang-remang yang menyediakan jasa layanan seksual yang berkedok dombret. Perkembangan kemudian, berubah menjadi sajian dangdut ala pesisir pantai utara Jawa Barat dengan gaya yang sangat khas. Perubahan itu juga sekaligus sebagai akhir dari keberadaan dombret. Kini kesenian tersebut telah hilang. 

Sumber: http://www.disparbud.jabarprov.go.id

 

Dombret atau dongbret merupakan kesenian rakyat yang berkembang di daerah Pantai Utara Jawa Barat, khususnya di Pantai Blanakan Pamanukan, Kabupaten Subang. Selain berfungsi sebagai hiburan untuk para nelayan, dombret berfungsi pula sebagai bagian dari upacara nadran sebagai simbol kesuburan. Dombret sering ditampilkan ketika musim pelelangan ikan tiba, dan menjadi hiburan pelepas lelah bagi para nelayan. Selain itu, dombret pun menjadi hiburan bagi para pembeli ikan, sehingga mereka seringkali memilih membeli ikan di tempat tersebut.
Dombret populer sejak tahun 1930-an. Kesenian ini mempunyai kemiripan dengan seni ronggeng (Ketuk Tilu), baik dilihat dari struktur pertunjukannya, lagu-lagu yang digunakan, maupun musik pengiringnya. Istilah dombret sama halnya dengan doger atau ronggeng, yaitu penari wanita yang memiliki kemampuan menyanyi dan menari.
Tempat pertunjukan biasanya di arena terbuka, tanpa panggung khusus. Oleh sebab itu, para nayaga menggelar tikar, duduk sembari diterangi dengan colen (semacam obor terbuat dari bambu). Selain dipergelarkan di pantai Blanakan, dombret juga sering mengamen ke beberapa daerah di sekitar pantai seperti ke Ciasem, Patok Beusi, Jatiragas Hilir, Tegal Koneng, dan sebagainya. Di daerah-daerah tersebut mereka menggelar pertunjukan di tempat yang agak jauh dari rumah penduduk, misalnya di kebun-kebun dan di tempat terbuka lainnya.
Kadang-kadang ada juga masyarakat yang memberikan tempat di halaman rumah (bale). Pengunjung yang datang pada umumnya adalah kaum laki-laki.
Waditra (alat musik) yang digunakan dalam dombret adalah ketuk, kecrek, kendang, rebab, dan goong kecil. Musiknya sangat ceria, riang, sehingga bisa mengundang orang untuk datang ke arena tersebut dan ikut menari bersama dombret. Pertunjukannya diawali dengan tatalu (musik pembuka), sebagai tanda bahwa sajian akan dimulai. Para dombret masuk ke arena pertunjukan, kemudian salah seorang dari dombret menyanyikan lagu kidung yang difungsikan sebagai doa, agar semua yang hadir, baik seniman maupun penonton, diberi kelancaran dan keselamatan. Setelah itu, para dombret menari bersama. Para penonton yang hadir, bisa menari dengan dombret sesuai pilihannya, juga dapat meminta lagu sesuai dengan kesenangannya. Penari dombret dapat pula diajak ke luar arena pertunjukan oleh penari pasangannya ke tempat yang ―gelapâ€- untuk diajak bercengkrama. Tidak lama kemudian dombret kembali ke arena pertunjukan, lalu menyimpan uang pemberian penggemarnya ke dalam peti yang telah disediakan dekat para panjak (pemain musik). Dombret pun menari kembali sambil menunggu pasangan yang mau menari lagi bersamanya. Demikianlah suasana pertunjukan hingga berakhir. Lucunya, di arena pertunjukan kadang-kadang hanya tinggal para panjak saja karena para dombret ada yang membawa ke luar arena pertunjukan. Waktu pertunjukan bisa sampai dini hari, dan selesainya akan sangat tergantung kepada para penggemarnya. Pertunjukan bisa berakhir jika para penggemarnya kelelahan atau kehabisan uang untuk membayar dombret.

Adanya perilaku yang berlebihan dari para penggemar terhadap dombret, mengakibatkan munculnya dampak negatif, bahkan lama-kelamaan kesenian tersebut hanya dijadikan kedok untuk menutupi praktek-praktek prostitusi. Tahun 1950-an mulai muncul warung remang-remang yang menyediakan jasa layanan seksual yang berkedok dombret. Perkembangan kemudian, berubah menjadi sajian dangdut ala pesisir pantai utara Jawa Barat dengan gaya yang sangat khas. Perubahan itu juga sekaligus sebagai akhir dari keberadaan dombret. Kini kesenian tersebut telah hilang. 


- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=912&lang=id#sthash.vRUYYOzR.dpuf

Dombret atau dongbret merupakan kesenian rakyat yang berkembang di daerah Pantai Utara Jawa Barat, khususnya di Pantai Blanakan Pamanukan, Kabupaten Subang. Selain berfungsi sebagai hiburan untuk para nelayan, dombret berfungsi pula sebagai bagian dari upacara nadran sebagai simbol kesuburan. Dombret sering ditampilkan ketika musim pelelangan ikan tiba, dan menjadi hiburan pelepas lelah bagi para nelayan. Selain itu, dombret pun menjadi hiburan bagi para pembeli ikan, sehingga mereka seringkali memilih membeli ikan di tempat tersebut.
Dombret populer sejak tahun 1930-an. Kesenian ini mempunyai kemiripan dengan seni ronggeng (Ketuk Tilu), baik dilihat dari struktur pertunjukannya, lagu-lagu yang digunakan, maupun musik pengiringnya. Istilah dombret sama halnya dengan doger atau ronggeng, yaitu penari wanita yang memiliki kemampuan menyanyi dan menari.
Tempat pertunjukan biasanya di arena terbuka, tanpa panggung khusus. Oleh sebab itu, para nayaga menggelar tikar, duduk sembari diterangi dengan colen (semacam obor terbuat dari bambu). Selain dipergelarkan di pantai Blanakan, dombret juga sering mengamen ke beberapa daerah di sekitar pantai seperti ke Ciasem, Patok Beusi, Jatiragas Hilir, Tegal Koneng, dan sebagainya. Di daerah-daerah tersebut mereka menggelar pertunjukan di tempat yang agak jauh dari rumah penduduk, misalnya di kebun-kebun dan di tempat terbuka lainnya.
Kadang-kadang ada juga masyarakat yang memberikan tempat di halaman rumah (bale). Pengunjung yang datang pada umumnya adalah kaum laki-laki.
Waditra (alat musik) yang digunakan dalam dombret adalah ketuk, kecrek, kendang, rebab, dan goong kecil. Musiknya sangat ceria, riang, sehingga bisa mengundang orang untuk datang ke arena tersebut dan ikut menari bersama dombret. Pertunjukannya diawali dengan tatalu (musik pembuka), sebagai tanda bahwa sajian akan dimulai. Para dombret masuk ke arena pertunjukan, kemudian salah seorang dari dombret menyanyikan lagu kidung yang difungsikan sebagai doa, agar semua yang hadir, baik seniman maupun penonton, diberi kelancaran dan keselamatan. Setelah itu, para dombret menari bersama. Para penonton yang hadir, bisa menari dengan dombret sesuai pilihannya, juga dapat meminta lagu sesuai dengan kesenangannya. Penari dombret dapat pula diajak ke luar arena pertunjukan oleh penari pasangannya ke tempat yang ―gelapâ€- untuk diajak bercengkrama. Tidak lama kemudian dombret kembali ke arena pertunjukan, lalu menyimpan uang pemberian penggemarnya ke dalam peti yang telah disediakan dekat para panjak (pemain musik). Dombret pun menari kembali sambil menunggu pasangan yang mau menari lagi bersamanya. Demikianlah suasana pertunjukan hingga berakhir. Lucunya, di arena pertunjukan kadang-kadang hanya tinggal para panjak saja karena para dombret ada yang membawa ke luar arena pertunjukan. Waktu pertunjukan bisa sampai dini hari, dan selesainya akan sangat tergantung kepada para penggemarnya. Pertunjukan bisa berakhir jika para penggemarnya kelelahan atau kehabisan uang untuk membayar dombret.

Adanya perilaku yang berlebihan dari para penggemar terhadap dombret, mengakibatkan munculnya dampak negatif, bahkan lama-kelamaan kesenian tersebut hanya dijadikan kedok untuk menutupi praktek-praktek prostitusi. Tahun 1950-an mulai muncul warung remang-remang yang menyediakan jasa layanan seksual yang berkedok dombret. Perkembangan kemudian, berubah menjadi sajian dangdut ala pesisir pantai utara Jawa Barat dengan gaya yang sangat khas. Perubahan itu juga sekaligus sebagai akhir dari keberadaan dombret. Kini kesenian tersebut telah hilang. 


- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=912&lang=id#sthash.vRUYYOzR.dpuf

Dombret atau dongbret merupakan kesenian rakyat yang berkembang di daerah Pantai Utara Jawa Barat, khususnya di Pantai Blanakan Pamanukan, Kabupaten Subang. Selain berfungsi sebagai hiburan untuk para nelayan, dombret berfungsi pula sebagai bagian dari upacara nadran sebagai simbol kesuburan. Dombret sering ditampilkan ketika musim pelelangan ikan tiba, dan menjadi hiburan pelepas lelah bagi para nelayan. Selain itu, dombret pun menjadi hiburan bagi para pembeli ikan, sehingga mereka seringkali memilih membeli ikan di tempat tersebut.
Dombret populer sejak tahun 1930-an. Kesenian ini mempunyai kemiripan dengan seni ronggeng (Ketuk Tilu), baik dilihat dari struktur pertunjukannya, lagu-lagu yang digunakan, maupun musik pengiringnya. Istilah dombret sama halnya dengan doger atau ronggeng, yaitu penari wanita yang memiliki kemampuan menyanyi dan menari.
Tempat pertunjukan biasanya di arena terbuka, tanpa panggung khusus. Oleh sebab itu, para nayaga menggelar tikar, duduk sembari diterangi dengan colen (semacam obor terbuat dari bambu). Selain dipergelarkan di pantai Blanakan, dombret juga sering mengamen ke beberapa daerah di sekitar pantai seperti ke Ciasem, Patok Beusi, Jatiragas Hilir, Tegal Koneng, dan sebagainya. Di daerah-daerah tersebut mereka menggelar pertunjukan di tempat yang agak jauh dari rumah penduduk, misalnya di kebun-kebun dan di tempat terbuka lainnya.
Kadang-kadang ada juga masyarakat yang memberikan tempat di halaman rumah (bale). Pengunjung yang datang pada umumnya adalah kaum laki-laki.
Waditra (alat musik) yang digunakan dalam dombret adalah ketuk, kecrek, kendang, rebab, dan goong kecil. Musiknya sangat ceria, riang, sehingga bisa mengundang orang untuk datang ke arena tersebut dan ikut menari bersama dombret. Pertunjukannya diawali dengan tatalu (musik pembuka), sebagai tanda bahwa sajian akan dimulai. Para dombret masuk ke arena pertunjukan, kemudian salah seorang dari dombret menyanyikan lagu kidung yang difungsikan sebagai doa, agar semua yang hadir, baik seniman maupun penonton, diberi kelancaran dan keselamatan. Setelah itu, para dombret menari bersama. Para penonton yang hadir, bisa menari dengan dombret sesuai pilihannya, juga dapat meminta lagu sesuai dengan kesenangannya. Penari dombret dapat pula diajak ke luar arena pertunjukan oleh penari pasangannya ke tempat yang ―gelapâ€- untuk diajak bercengkrama. Tidak lama kemudian dombret kembali ke arena pertunjukan, lalu menyimpan uang pemberian penggemarnya ke dalam peti yang telah disediakan dekat para panjak (pemain musik). Dombret pun menari kembali sambil menunggu pasangan yang mau menari lagi bersamanya. Demikianlah suasana pertunjukan hingga berakhir. Lucunya, di arena pertunjukan kadang-kadang hanya tinggal para panjak saja karena para dombret ada yang membawa ke luar arena pertunjukan. Waktu pertunjukan bisa sampai dini hari, dan selesainya akan sangat tergantung kepada para penggemarnya. Pertunjukan bisa berakhir jika para penggemarnya kelelahan atau kehabisan uang untuk membayar dombret.

Adanya perilaku yang berlebihan dari para penggemar terhadap dombret, mengakibatkan munculnya dampak negatif, bahkan lama-kelamaan kesenian tersebut hanya dijadikan kedok untuk menutupi praktek-praktek prostitusi. Tahun 1950-an mulai muncul warung remang-remang yang menyediakan jasa layanan seksual yang berkedok dombret. Perkembangan kemudian, berubah menjadi sajian dangdut ala pesisir pantai utara Jawa Barat dengan gaya yang sangat khas. Perubahan itu juga sekaligus sebagai akhir dari keberadaan dombret. Kini kesenian tersebut telah hilang. 


- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=912&lang=id#sthash.vRUYYOzR.dpuf

 

 

 
Dombret atau dongbret merupakan kesenian rakyat yang berkembang di daerah Pantai Utara Jawa Barat, khususnya di Pantai Blanakan Pamanukan, Kabupaten Subang. Selain berfungsi sebagai hiburan untuk para nelayan, dombret berfungsi pula sebagai bagian dari upacara nadran sebagai simbol kesuburan. Dombret sering ditampilkan ketika musim pelelangan ikan tiba, dan menjadi hiburan pelepas lelah bagi para nelayan. Selain itu, dombret pun menjadi hiburan bagi para pembeli ikan, sehingga mereka seringkali memilih membeli ikan di tempat tersebut.
Dombret populer sejak tahun 1930-an. Kesenian ini mempunyai kemiripan dengan seni ronggeng (Ketuk Tilu), baik dilihat dari struktur pertunjukannya, lagu-lagu yang digunakan, maupun musik pengiringnya. Istilah dombret sama halnya dengan doger atau ronggeng, yaitu penari wanita yang memiliki kemampuan menyanyi dan menari.
Tempat pertunjukan biasanya di arena terbuka, tanpa panggung khusus. Oleh sebab itu, para nayaga menggelar tikar, duduk sembari diterangi dengan colen (semacam obor terbuat dari bambu). Selain dipergelarkan di pantai Blanakan, dombret juga sering mengamen ke beberapa daerah di sekitar pantai seperti ke Ciasem, Patok Beusi, Jatiragas Hilir, Tegal Koneng, dan sebagainya. Di daerah-daerah tersebut mereka menggelar pertunjukan di tempat yang agak jauh dari rumah penduduk, misalnya di kebun-kebun dan di tempat terbuka lainnya.
Kadang-kadang ada juga masyarakat yang memberikan tempat di halaman rumah (bale). Pengunjung yang datang pada umumnya adalah kaum laki-laki.
Waditra (alat musik) yang digunakan dalam dombret adalah ketuk, kecrek, kendang, rebab, dan goong kecil. Musiknya sangat ceria, riang, sehingga bisa mengundang orang untuk datang ke arena tersebut dan ikut menari bersama dombret. Pertunjukannya diawali dengan tatalu (musik pembuka), sebagai tanda bahwa sajian akan dimulai. Para dombret masuk ke arena pertunjukan, kemudian salah seorang dari dombret menyanyikan lagu kidung yang difungsikan sebagai doa, agar semua yang hadir, baik seniman maupun penonton, diberi kelancaran dan keselamatan. Setelah itu, para dombret menari bersama. Para penonton yang hadir, bisa menari dengan dombret sesuai pilihannya, juga dapat meminta lagu sesuai dengan kesenangannya. Penari dombret dapat pula diajak ke luar arena pertunjukan oleh penari pasangannya ke tempat yang ―gelapâ€- untuk diajak bercengkrama. Tidak lama kemudian dombret kembali ke arena pertunjukan, lalu menyimpan uang pemberian penggemarnya ke dalam peti yang telah disediakan dekat para panjak (pemain musik). Dombret pun menari kembali sambil menunggu pasangan yang mau menari lagi bersamanya. Demikianlah suasana pertunjukan hingga berakhir. Lucunya, di arena pertunjukan kadang-kadang hanya tinggal para panjak saja karena para dombret ada yang membawa ke luar arena pertunjukan. Waktu pertunjukan bisa sampai dini hari, dan selesainya akan sangat tergantung kepada para penggemarnya. Pertunjukan bisa berakhir jika para penggemarnya kelelahan atau kehabisan uang untuk membayar dombret.

Adanya perilaku yang berlebihan dari para penggemar terhadap dombret, mengakibatkan munculnya dampak negatif, bahkan lama-kelamaan kesenian tersebut hanya dijadikan kedok untuk menutupi praktek-praktek prostitusi. Tahun 1950-an mulai muncul warung remang-remang yang menyediakan jasa layanan seksual yang berkedok dombret. Perkembangan kemudian, berubah menjadi sajian dangdut ala pesisir pantai utara Jawa Barat dengan gaya yang sangat khas. Perubahan itu juga sekaligus sebagai akhir dari keberadaan dombret. Kini kesenian tersebut telah hilang. 


- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=912&lang=id#sthash.vRUYYOzR.dpuf

Dombret atau dongbret merupakan kesenian rakyat yang berkembang di daerah Pantai Utara Jawa Barat, khususnya di Pantai Blanakan Pamanukan, Kabupaten Subang. Selain berfungsi sebagai hiburan untuk para nelayan, dombret berfungsi pula sebagai bagian dari upacara nadran sebagai simbol kesuburan. Dombret sering ditampilkan ketika musim pelelangan ikan tiba, dan menjadi hiburan pelepas lelah bagi para nelayan. Selain itu, dombret pun menjadi hiburan bagi para pembeli ikan, sehingga mereka seringkali memilih membeli ikan di tempat tersebut.
Dombret populer sejak tahun 1930-an. Kesenian ini mempunyai kemiripan dengan seni ronggeng (Ketuk Tilu), baik dilihat dari struktur pertunjukannya, lagu-lagu yang digunakan, maupun musik pengiringnya. Istilah dombret sama halnya dengan doger atau ronggeng, yaitu penari wanita yang memiliki kemampuan menyanyi dan menari.
Tempat pertunjukan biasanya di arena terbuka, tanpa panggung khusus. Oleh sebab itu, para nayaga menggelar tikar, duduk sembari diterangi dengan colen (semacam obor terbuat dari bambu). Selain dipergelarkan di pantai Blanakan, dombret juga sering mengamen ke beberapa daerah di sekitar pantai seperti ke Ciasem, Patok Beusi, Jatiragas Hilir, Tegal Koneng, dan sebagainya. Di daerah-daerah tersebut mereka menggelar pertunjukan di tempat yang agak jauh dari rumah penduduk, misalnya di kebun-kebun dan di tempat terbuka lainnya.
Kadang-kadang ada juga masyarakat yang memberikan tempat di halaman rumah (bale). Pengunjung yang datang pada umumnya adalah kaum laki-laki.
Waditra (alat musik) yang digunakan dalam dombret adalah ketuk, kecrek, kendang, rebab, dan goong kecil. Musiknya sangat ceria, riang, sehingga bisa mengundang orang untuk datang ke arena tersebut dan ikut menari bersama dombret. Pertunjukannya diawali dengan tatalu (musik pembuka), sebagai tanda bahwa sajian akan dimulai. Para dombret masuk ke arena pertunjukan, kemudian salah seorang dari dombret menyanyikan lagu kidung yang difungsikan sebagai doa, agar semua yang hadir, baik seniman maupun penonton, diberi kelancaran dan keselamatan. Setelah itu, para dombret menari bersama. Para penonton yang hadir, bisa menari dengan dombret sesuai pilihannya, juga dapat meminta lagu sesuai dengan kesenangannya. Penari dombret dapat pula diajak ke luar arena pertunjukan oleh penari pasangannya ke tempat yang ―gelapâ€- untuk diajak bercengkrama. Tidak lama kemudian dombret kembali ke arena pertunjukan, lalu menyimpan uang pemberian penggemarnya ke dalam peti yang telah disediakan dekat para panjak (pemain musik). Dombret pun menari kembali sambil menunggu pasangan yang mau menari lagi bersamanya. Demikianlah suasana pertunjukan hingga berakhir. Lucunya, di arena pertunjukan kadang-kadang hanya tinggal para panjak saja karena para dombret ada yang membawa ke luar arena pertunjukan. Waktu pertunjukan bisa sampai dini hari, dan selesainya akan sangat tergantung kepada para penggemarnya. Pertunjukan bisa berakhir jika para penggemarnya kelelahan atau kehabisan uang untuk membayar dombret.

Adanya perilaku yang berlebihan dari para penggemar terhadap dombret, mengakibatkan munculnya dampak negatif, bahkan lama-kelamaan kesenian tersebut hanya dijadikan kedok untuk menutupi praktek-praktek prostitusi. Tahun 1950-an mulai muncul warung remang-remang yang menyediakan jasa layanan seksual yang berkedok dombret. Perkembangan kemudian, berubah menjadi sajian dangdut ala pesisir pantai utara Jawa Barat dengan gaya yang sangat khas. Perubahan itu juga sekaligus sebagai akhir dari keberadaan dombret. Kini kesenian tersebut telah hilang. 


- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=912&lang=id#sthash.vRUYYOzR.dpuf

 
 

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
HUDON TANO (Periuk Tanah)
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692

avatar
Hokker
Gambar Entri
Benda Magis Masyarakat Batak Toba
Ornamen Ornamen
Sumatera Utara

Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
ILMU TAMBA TUA
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland

avatar
Hokker
Gambar Entri
Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen (Aksara dan Bahasa Batak Toba)
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Sumatera Utara

Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara

avatar
Hokker
Gambar Entri
PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Barat

PESAN INDUK TI KIDUNG LAKBOK Hikmah Karuhun Pikeun Kahirupan Ditulis ku: Henry Purwanto Kategori: Etika, Moral & Pepatah PENDAHULUAN Kidung Lakbok lain ukur carita baheula. Lian ti éta, ieu naskah kuno nyimpen pituduh anu jero pisan pikeun kahirupan urang di jaman kiwari. Karuhun urang teu ngan ninggalkeun carita, tapi ogé pangalaman, peringatan, jeung hikmah. Ieu pesan induk jadi pondasi pikeun urang hirup: ngajaga jati diri bari tetep maju ka hareup. Hayu urang bahas hiji-hiji. ULAH POHO KA ASAL-USUL (Jangan Lupa Pada Asalnya) Makna: Saha urang, ti mana asalna, naon sajarah karuhun urang – kabehna kudu dipikanyaho. Ulah isin ku sajarah sorangan, sabab dinya tempat urang tumuwuh. Kaitan jeung Lakbok: Karajaan Bandjarpatroman téh akar ti wewengkon ieu. Lamun urang poho sajarah, sarua jeung neangan leungit jati diri. Urang bakal gampang kaileng ku budaya deungeun anu teu saluyu jeung ajén-inajén lembur. Pesen: Sugema jeung bagja téh mimitina mah nya tina n...

avatar
Gulamerah