Cah rimba merupakan tradisi masyarakat Aceh yang berkaitan dengan pembukaan lahan garapan. Lahan yang akan digarap tentu tidak dibuka secara liar, melainkan sudah diatur oleh adat yang berlandaskan agama Islam. Perangkat desa (geuchik) dan orang-orang yang mengerti masalah perhutanan atau yang biasa disebut petua utenjuga berperan aktif merundingkan dan memperhitungkan pemilihan lahan yang akan digarap. Sehingga, pembukaan lahan tidak mengganggu ekosistem dan merugikan masyarakat.
Tradisi yang telah lama mengakar dalam kebudayaan Aceh ini kemudian menginspirasi lahirnya tari kreasi dengan nama sama. Tari cah rimba coba menggambarkan kembali proses pembukaan lahan, mulai dari persiapan hingga pembagian lahan garapan. Di awal, tari cah rimba menceritakan masyarakat gampong (kampung) yang hidup harmonis. Para pria kemudian digambarkan tengah sibuk mempersiapkan alat-alat yang digunakan untuk keperluan membuka lahan. Sementara, para wanita mempersiapkan bekal makanan untuk mereka yang bekerja membuka lahan.
Sesampainya di hutan, petua uten memimpin doa. Mereka memohon kepada Allah agar pembukaan lahan berjalan dengan lancar. Setelah itu, dimulailah proses pembukaan lahan yang dilakukan secara bergotong-royong.
Untuk menambah unsur dramatis, garapan kreasi ini juga menggambarkan proses pembukaan lahan yang tidak berjalan mulus sesuai rencana. Di tengah pementasan, muncul seorang penari yang disimbolkan sebagai binatang buas. Binatang tersebut coba mengganggu jalannya proses pembukaan lahan. Seorang wanita kemudian berhasil mengusir binatang tersebut menggunakan rumput liar atau yang disebut seumalo.
Setelah lahan selesai digarap, geuchik bersama dengan petua uten membagi-bagikan lahan secara adil yang kemudian digunakan sebagai lahan berladang. Lahan-lahan yang sudah dibagi-bagikan tersebut dibatasi dengan menggunakan pelepah ing atau yang dikenal juga dengan nama gantung situek.
Tari cah rimba merupakan tari kreasi muda-mudi yang dipentaskan oleh 10 orang penari, yang terdiri dari enam orang pria dan empat orang wanita. Para penari mengenakan baju kurung berwarna cerah dengan ornamen bercorak khas Aceh. Busana pria dan wanita penari pada dasarnya sama, yang membedakan hanyalah pada bagian kepala. Jika wanita penari mengenakan penutup kepala, pria penari mengenakan ikat kepala.
Tari cah rimba mengambarkan kearifan lokal masyarakat adat Aceh dalam proses pembukaan lahan garapan. Lebih dari sekadar pertunjukkan tari, dalam garapan kreasi ini, tersimpan kekayaan budaya masyarakat nusantara. Tari cah rimba patut diapresiasi dan dilestarikan, agar kesenian tetap ada dan kebudayaan tetap terjaga. [AhmadIbo/IndonesiaKaya]
Sumber: https://www.indonesiakaya.com/jelajah-indonesia/detail/gerakan-menghentak-tari-ratoh-jaroe
cara hapus akun/data (#KrediOne) secara permanen kamu bisa hubungi pelanggan layanan resmi via WA di (+62.821-7553-746 atau 0898.4440.241). Jelaskan alasan permintaan penghapusan data atau akunnya lalu siapkan identitas diri seperti (KTP) untuk proses verifikasi dan ikuti instruksi petugas customer service untuk menyelesaikan laporan Anda.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Silahkan hubungi layanan PT Tri Usaha Berkat untuk proses pengembalian dana melalui WhatsApp di 0813-707-1392 atau 0813-707-2680 Kirim nomor pesanan atau transaksi yang ingin diajukan pengembalian dana. Jelaskan alasan refund atau pengembalian dana secara lengkap.
Di masa lalu, masyarakat Batak mengenal sebuah peti penyimpanan berharga yang disebut Huting-Huting. Huting-huting berfungsi sebagai tempat menyimpan benda-benda berharga milik raja atau keluarga bangsawan, seperti perhiasan, pusaka, hingga barang bernilai lainnya. Karena fungsinya yang penting, huting-huting sering disebut sebagai "brankas tradisional" dalam budaya Batak. Yang membuatnya istimewa adalah ukiran pada bagian tutupnya. Berbagai ornamen, termasuk motif bintang dan makhluk simbolis (pinatang), dipahat dengan sangat detail. Menurut kepercayaan masyarakat dahulu, ukiran-ukiran tersebut memiliki kekuatan magis sebagai penjaga isi peti. Konon, apabila seseorang berniat mencuri isi huting-huting, maka roh penjaga yang disimbolkan melalui ukiran pinatang akan melindungi harta yang tersimpan di dalamnya. Kepercayaan ini menunjukkan bagaimana seni ukir, spiritualitas, dan sistem keamanan tradisional berpadu dalam kehidupan masyarakat Batak. Karena nilai dan kesak...