Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Bangunan Taman Jawa Barat Cirebon
Taman Sunyaragi
- 24 September 2014

Tamansari sebagai salah satu wujud warisan budaya, antara lain kita jumpai di Aceh, Bali, Lombok, Solo, Yogyakarta, dan Cirebon. Ditinjau dari bentuk, gaya dan fungsinya Tamansari Sunyaragi di Cirebon mempunyai keunikan sendiri. Nama Sunyaragi adalah nama asli yang diperuntukan bangunan itu, sedangkan desa Sunyaragi yang sekarang terletak di kawasan Tamansari dan sekitarnya di Kodya Cirebon adalah nama yang kemudian dan yang justru diambil dari nama Tamansari. Tamansari Sunyaragi mudah dikunjungi sebab letaknya hanya beberapa ratus meter disebelah kiri (utara) jalan by pass A.R. Dharsono ke jurusan Semarang.

Tata Letak Bangunan

Situs Tamansari Sunyaragi yang sekarang luasnya ± 2 ha.dikelilingi perkampungan dengan tanah kering berdebu itu dahulu terletak diatas perairan yang luas (± 350 ha.) sehingga dapat dibayangkan sebagai bukit karang yang muncul diatas laut.


Dari sisa-sisa unsur bangunan yang sekarang berhasil ditampakan kembali, maka secara vertikal dapat diamati adanya unsur kolam-kolam di bawah permukaan tanah, taman-taman dipermukaan tanah, bukit-bukit buatan dan bangunan-bangunan lain yang menjulang di atas permukaan tanah.


Taman-taman tersebut diantaranya adalah Taman Bujenggi Obahing Bumi, Puteri Bunyu, Perawan Sunti dan Keputren. Bangunan-bangunannya antara lain gapura, balai kambang, kupel, goa-goa, gedung Panembahan. Keputran, Keputren dan Pesanggrahan. Di dalam bukit-bukit itu terdapat ruang-ruang dan lorong-lorong yang disebut goa, diantaranya Goa pengawal, Peteng, Padang Ati, Kelanggengan, Lawa, Dapur, dan Goa Langse.


Untuk jelasnya agar struktur horizontal dapat ditelusuri urutaannya, sesuai dengan arah hadapnya yang biasa dilalui para pengunjung. Pertama-tama memasuki alun-alun timur melawati pintu gerbang masuk ke Gedung Jinem yakni ruang tunggu. Sambil menanti kita dapat menukmati pemandangan di sekitarnya seperti kolam Si Manyang, mulut Goa Pengawal dan Mande Kemasan. Selanjutnya ke taman Mande Beling, dari tempat itu dapat mengamati Taman Bujengi Obahing Bumi, Goa Lawa, Goa Dapur, Taman Perawan Sunti, Makara, dan tirai air. Berikutnya masuk Goa Peteng yang gelap dan sempit. Setelah keluar lalu memasuki ruang arca Puteri Cina, dimana terdapat banyak jendela. Diatas ruangan ini terdapat kupel kecil berukuran dengan 2 x 2 m dan berbentuk joglo, konon untuk tempat Penembahan, Keputran dan Keputren, pintu gerbang dan kolam-kolam air beserta taman,

kita menuju Balaikambang, sebuah bangunan joglo berdenah 4 x 4 m terletak diatas air. Setelah melewati rentangan jembatan kayu kita menuju komplek Arga Jumut yang terdiri atas bukit karang yang menjulang dengan banyak goa di dalamnya yang disusun bertingkat, dilengkapi dengan halaman/taman, gapura bentar dan dikelilingi air.


Dalam perjalanan kembali kita ambil jalan memutar lewat taman di sebelah utara Gedung Kaputren, mendaki bukit, tuturun ke taman Mande Beling kemudian keluar lewat pintu borotan (samping)

Fungsi dan Gaya Bangunan

Masyarakat setempat menyebut Tamansari ini sebagai Goa Sunyaragi. Sunyaragi tentunya berasal dari kata Sunya = sunyi, dan Ragi = raga, jadi dimaksudkan untuk tempat peristirahatan. Kata Goa yang mereka tambahkan itu rupanya karena kesan yang diperoleh dari bangunan ini adalah begitu banyak ruang dan lorong gelap serta sempit dengan mulut menganga seperti ga-goa di pantai Laut Selatan.


Di samping sebagai tempat peristirahatan, kemudian juga untuk tempat musyawarah, mengatur taktik dan strategi menghadapai musuh/penjajah, untuk benteng pertahanan melawan Belanda dll. Jadi termasuk bangunan serbaguna.

Tamansari Sunyaragi menggunakan bata dan batu karang sebagai bahan bakunya. Yang digambarkan memang bukit karang yang dikombinasikann dengan pengertian Mahameru yang diliputi oleh awan. Ragam hias bukit karang atau Wadus dan awan atau Megamendung ini kemudian menjadi ciri khas ragam hias Cirebonan yang tampak pada seni lukis, seni ukir, batik, dan pelbagai dekorasi.

Tamansari Sunyaragi dalam catatan Sejarah

Menurut buku Purwaka Caruban Nagari karangan Pangeran Arya Carbon (1720), Tamansari Sunyaragi dibangun oleh Pangeran Kararangen pada tahun 1703, tetapi menurut sumber-sumber lain ternyata bahwa pada awal abad ke-16 Tamansari itu sudah ada. Tadinya pesanggarahan terletak di gunung Sembung yang disebut Giri Nur Sapta Rengga, karena digunakan untuk pemakaman, pesanggrahan dipindahkan ke Sunyaragi. Kemudian ternyata bahwa yang dibangun tahun 1703 hanya sebagian dari Tamansari itu yakni komplek Arga Jumut.


Pada 1787 taman ini dihancurkan oleh Belanda. Pada 1852 yakni masa pemerintahan Sultan Adiwijaya dilakukan perbaikan. Jadi tamansari sepanjang sejarahnya sering mengalami penambahan atau perbaikan-perbaikan. Walaupun sudah berkali-kali mengalami kerusakan dan bahkan pernah terlantar, namun untunglah masih dapat kita selamatkan hingga sekarang.

 

Pembinaan dan Pendayagunaan

Seperti telah diterangkan, sejak zaman pemerintahan kesultanan pun Tamansari sudah sering diperbaiki dalam rangka pelestariannya. Perbaikan juga dilakukan oleh peemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1937-1938 yang dilaksanakan oleh Krijsman selaku petugas kebudayaan di Semarang. Bagian-bagian yang runtuh disusun kembali sedangkan yang rapuhn dikonsolidasi.


Pada masa Orde Baru, Pemerintah Indonesia telah melakukan serangkaian tindakan untuk pelestariannya seperti studi teknis, pengamanan, perawatan dan pemugaran. Pemugaran dilakukan sejak tahun 1976 hingga 1984. Bagian-bagian yang tertmbun tanah dan semak belukar dikupas, yang pecah atau patah disambung, dipagar, dibenahi lingkungannya, pertamanannya ditata dan diberi tanaman hias, beberapa sarana umum seperti jalan, ruang informasi, tempat istirahat dll dibangun sehingga layak untuk dinikmati kembali sebagai warisan budaya bernilai luhur.


Mengingat pentingnya tidaklah berlebihan kalau kita ajak seluruh masyarakat beserta Pemerintah yang terkait untuk bersikap dan berperilaku positif dalam membantu upaya pelestarian warisan busaya yang luhur itu dan sama-sama didayagunakan sebagai sasana wisata-budaya yang tertib, nyaman dan menguntungkan banyak pihak.

 

Sumber: http://kebudayaanindonesia.net/kebudayaan/995/tamansari-sunyaragi#photo[gallery]/0/

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku
Musik dan Lagu Musik dan Lagu
Maluku

Rasa Sayange: Filsafat Kebersamaan dalam Senandung Anak-Anak Maluku Bagaimana mungkin sebuah lagu yang kerap dinyanyikan anak-anak sambil bertepuk tangan dan bersantai di pekarangan rumah bisa mengandung cetak biru lengkap tentang etika lingkungan dan tata krama bermasyarakat? Rasa Sayange , warisan lisan dari Kepulauan Maluku (Sumber 1, Sumber 2, Sumber 3), ternyata bukan sekadar lagu permainan tradisional dengan melodi ceria yang mudah dihafal. Di balik bait-baitnya yang singkat, tersimpan sistem pengetahuan tentang hubungan manusia dengan sesama dan alam—sebuah bukti bahwa pendidikan karakter di Nusantara tidak selalu memerlukan kelas formal, melainkan bisa tumbuh dari ruang-ruang bersantai yang penuh keakraban. Warisan Lisan dan Ritual Penyambutan Di Maluku, Rasa Sayange bukan lagu asing yang hanya muncul dalam buku teks pelajaran seni budaya. Lagu ini telah diwariskan secara turun-temurun dalam kehidupan masyarakat, menjadi bagian tak terpisahkan dari ritus sosial seha...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes
Produk Arsitektur Produk Arsitektur
Sulawesi Selatan

Rumah Panggung Bugis: Arsitektur Kosmologis dari Tanah Celebes Mengapa sebuah komunitas memilih mengangkat huniannya dari permukaan bumi yang subur, membangun kehidupan di atas kayu-kayu kokoh yang menjulang? Bagi suku Bugis di Sulawesi Selatan, jawaban atas pertanyaan ini tidak terletak pada pertimbangan fungsional semata—seperti perlindungan dari banjir atau serangan hewan—melainkan pada keyakinan mendalam tentang tatanan alam semesta dan struktur sosial manusia. Rumah panggung Bugis, dengan material kayu yang kokoh (Sumber 1), bukan sekadar arsitektur tradisional yang unik, melainkan perwujudan kosmogoni, strata sosial, dan falsafah hidup yang kompleks (Sumber 2). Kosmogoni Terwujud dalam Kayu Dalam tradisi arsitektur Bugis-Makassar, rumah panggung berfungsi sebagai mikrokosmos yang merefleksikan pandangan kosmologis masyarakat tentang tiga tingkat alam semesta. Konstruksi yang mengangkat lantai hunian dari tanah menggunakan tiang-tiang kayu yang solid (Sumber 1) menciptakan...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Pamali:
Ritual Ritual
Jawa Barat

Pamali: Ketika Larangan Tak Tertulis Mengatur Kehidupan Mengapa sebagian masyarakat Indonesia yang telah mengenyam pendidikan modern dan hidup di tengah kemajuan teknologi masih enggan memotong kuku di malam hari, bersiul saat senja tiba, atau menanam pohon kelapa di depan rumah? Fenomena ini bukan sekadar sisa primitivisme yang tertinggal, melainkan manifestasi dari pamali —sistem norma yang secara mengejutkan masih eksis sebagai pengatur sosial yang efektif. Pada titik tertentu, pamali menghadirkan paradoks budaya yang menarik: ia adalah "hukum" tanpa tulisan, "polisi" tanpa seragam, namun memiliki kekuatan mengikat yang seringkali lebih efektif dari peraturan tertulis. Kearifan Ekologis dalam Selubung Larangan Di tataran praktis, pamali seringkali berfungsi sebagai mekanisme pelestarian alam yang diselimuti narasi mistis. Masyarakat Sunda, misalnya, mengenal berbagai bentuk pamali yang sejatinya merupakan bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan ekosiste...

avatar
Kianasarayu