Tahu gejrot merupakan salah satu kuliner tersohor di Indonesia. Makanan ini asli berasal dari Cirebon, Jawa Barat, dan telah menjadi jajanan yang disukai oleh begitu banyak orang. Hal yang menjadi ciri khas dari tahu gejrot ini adalah bahan yang digunakan untuk membuatnya, yakni tahu gembos yang digoreng dan dipotong kecil-kecil, dilengkapi dengan kuah kecap, cabai rawit, bawang merah, juga gula merah. Cara penyajiannya pun menggunakan alat makan tradisional; piring gerabah lazim dipakai sebagai alas, dan biting (tusuk kecil dari bambu atau kayu) dipakai sebagai alat santap. Bahan serta alat ini lah yang memberikan tahu gejrot cita rasanya yang unik.
Hidangan tradisional ini pun tak sembarang saja mendapatkan namanya. Sejak dulu, tahu gejrot biasa dijajakan oleh para pedagang keliling kampung dengan menggunakan keranjang khusus yang dipikul. Dalam keranjang ini lah pedagang-pedagang tersebut menyimpan bahan pembuatan tahu gejrot, yakni air gula merah dalam botol yang telah diberi lubang kecil-kecil, serta bumbu-bumbu lain yang baru akan digerus ketika ada pembeli. Untuk mengucurkan air gula merah itu ke piring tembikar, pedagang harus menghentakkan botolnya sehingga akan menimbulkan suara jrot-jrot-jrot yang khas. Sejak saat itu lah, nama tahu gejrot tercipta di kalangan masyarakat dan terus melekat hingga momen ini.
Berdasarkan data yang telah dikumpulkan, terlihat bahwa tahu gejrot banyak diproduksi di Desa Jatiseeng, Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon. Pembuatan makanan ini telah berjalan dari generasi ke generasi, bermula bahkan dari zaman prakemerdekaan. Pemilik usaha saat itu didominasi oleh penduduk keturunan China. Kondisi ekonomi yang masih belum stabil kala itu mengharuskan banyak penduduk pribumi untuk bekerja apa saja, salah satunya sebagai pembuat dan penjaja tahu gejrot.
Ketika keadaan mulai membaik, orang-orang yang memiliki modal besar dan berkecukupan mulai meninggalkan usaha tahu gejrot ini, alih-alih memilih untuk membuka usaha yang lain. Pada kesempatan tersebut, para penduduk pribumi mulai mengambil alih produksi dan distribusi tahu gejrot secara total. Usaha tahu gejrot pun terus berkembang dan dilestarikan, hingga menjadi kuliner legendaris Indonesia yang dikenal oleh masyarakat luas kita sekarang.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara