Nama sudang lepet memang jarang didengar oleh kebanyakan orang, untuk menemukannya hanya dapat di temui di kota Singaraja atau Buleleng. Sudang lepet sendiri merupakan sejenis ikan asin yang memiliki bentuk sangat tipis, sehingga memiliki tekstur yang renyah dengan rasa asin menyelimutinya. Sebagai makanan dari orang-orang pesisir utara pulau Bali, sangat tepat rasanya bila sudang lepet dibuat dari ikan, mengingat Buleleng dan Singaraja memiliki warga yang bermata pencaharian sebagai nelayan.
Penamaan sudang lepet terkesan memiliki arti yang aneh, karena sudang yang berarti ikan asin, ditambah lagi dengan kata lepet dengan arti sial. Sehingga kalau digabung jadi ikan asin sial. Entah bagaimana masyarakat menamainya seperti itu, namun beberapa sumber mengatakan bahwa nama tersebut diberikan pada makanan ini karena ikan harus diolah dengan cara dipukul-pukul sampai tipis.
Pembuatan ikan asin ini terbilang rumit, mengingat setelah menangkap ikan, ikan segar langsung dijemur pada teriknya sinar matahari, lalu dipanggang dengan bara api. Agar bentuknya tipis, ikan harus rela dipukul-pukul agar melebar, bahkan bila digoreng garing akan mirip dengan kerupuk, namun berasa asin dan lebih renyah. Untuk memasaknya, sudang lepet hanya perlu digoreng lalu diberi bumbu berupa minyak kelapa, perasan jeruk nipis, dan ditambah sambal matah atau sambal nasi. Sudang lepet sangat cocok bila dimakan bersama nasi panas, yang ditambah jukut undis, dan plecing kangkung.
Rumah makan yang menyediakannya adalah Rumah Makan Pondok Asri di Buleleng atau pasar-pasar di daerah tersebut. Bahkan di Desa Sengit, Sawan, Buleleng menjadi sentra pembuatan sudang lepet dengan harga 10 ribu per 6 sudang lepet besar atau 10 buah yang kecil.
Sumber: http://makananoleholeh.com/makanan-khas-bali/
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara