Sop sekengkel yaitu, kaki lembu atau sapi dijadikan sop.

Resep:
Cara masak:
Komposisi Soup Aceh: Lada Pala dan Ketumbar
sumber: http://dapurdistronida.blogspot.co.id/2011/02/sup-tulang-masak-aceh.html
Langsa – Jika liburan ke Kota Langsa -Aceh jangan lupa memanjakan lidah dengan singgah ke warung sederhana Mbak Mis di Desa Asam Petik, Kecamatan Langsa Lama, Kota Langsa, jaraknya hanya sekitaran 7 kilometer dari pusat Kota Langsa.
Warung Mbak Mis selalu menyajikan Sop Sekengkel yang menjadi menu andalannya. Setiap hari warung Mbak Mis tidak pernah sepi dari pengunjung yang datang dari berbagai penjuru, baik dari wilayah Kota Langsa maupun dari luar kota.
Salah seorang pengunjung Hedian (56) warga Kampung jawa Kecamatan Langsa Kota Minggu (23/10/2016) lalu pada juangnews.com, mengatakan untuk orang yang hoby kuliner, datang ke warung Mbak Mis ini sangat cocok karna Sop Sekengkelnya sangat menggoyang lidah.
Mungkin semua masih bertanya tanya apa sih sop sekengkel itu.
Sop sekengkel yaitu, kaki lembu atau sapi dijadikan sop, namun sop sekengkel racikan Mbak Mis sangat lembut dan aromanya sangat mengundang selera.
“Saya bersama keluarga hampir setiap ahir pekan datang untuk menyantap sop sekengkel Mbak Mis.Namun jika hari libur jangan coba datang di atas jam 4 sore anda tidak akan ke bagian lagi sop sekengkelnya,” ujar Herdian.
Sementara itu Mbak Mis pada media ini bersedia mengisahkan asal mula sop sekengkelnya.
“Warung ini sudah turun temurun, awalnya nenek lantas diturunkan ke ibu saya dan sekarang saya yang meneruskan sop sekengkel ini, namun walau sudah turun temurun namun cita rasanya tidak pernah berubah,” katanya.
Sambung Mbak Mis, jika hari libur akhir pekan seperti ini pukul 17.00 WIB sudah habis, karena ramainya pelanggan yang datang.
“Alhamdulilah pengunjung yang datang mulai kalangan menengah ke bawah hingga kalangan menengah keatas. Bahkan pejabat Kota Langsa kerap datang sekedar menikmati sop sekengkel,” ujar Mbak Mis sembari sibuk di meja kasir. [Roby Sinaga]
Editor & Publisher : Hamdani
Alamat dan Kontak Penjual:
Dapoe Aceh Melayu
JL. Jendral Sudirman Kav. 47, Gedung Plaza Sentral lantai Dasar P1, RT.5/RW.4, Karet Semanggi, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10220
(021) 57852218
http://www.juangnews.com/sop-sekengkel-mbak-mis-rasanya-menggoyang-lidah-mau/
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara