Berikut adalah resep sop buntut dan cara memasak Sop Buntut/Iga khas padang: Bahan: 1. 750 gram iga/buntut sapi 2. 250 gram daging sapi 3. 4 buah wortel 4. 4 buah kentang 5. 5 batang daun bawang 6. Air Bahan bumbu: 1. 4 butir kapulaga 2. 3 buah peka 3. 5 buah cengkih 4. ¼ pala, digeprek 5. 5 cm kayu manis 6. 3 cm jahe, digeprek 7. 2 sdm minyak goreng/margarine 8. Penyedap rasa kaldu sapi bila perlu Bumbu halus: 1. 8 siung bawang merah 2. 6 siung bawang putih Bahan pelengkap: 1. Krupuk emping 2. Bawang goreng 3. Irisan daun seleri 4. Jeruk nipis 5. Sambal Langkah-langkah memasak sop buntut/iga: 1. Buat kaldu sapi dengan merebus tulang iga atau buntut dengan air lalu tunggu hingga kurang lebih selama 2,5 jam. Jika air menyurut tambahkan airnya 2. Setelah iga atau buntut empuk, masukkan daging sapi, garam, peka, kapulaga, cengkih, kayu manis, pala, jahe, dan penyedap rasa kaldu. Masak daging kurang lebih selama 1 jam hingga daging empuk 3. Sementara menunggu daging empuk, tumis bumbu halus. Lalu masukkan kentang dan wortel dan bumbu halus yang sudah ditumis kedalam rebusan daging lalu tunggu hingga sayur dan daging matang 4. Setelah matang, masukkan daun bawang lalu diaduk, matikan apinya. Memasak daging sapi memang membutuhkan teknik dan metode khusus serta kesabaran karena waktu yang lama agar daging empuk. Ketika memilih iga, pilihlah yang banyak dagingnya menempel di tulangnya dan lebih banyak tulang muda. Sumsum yang terdapat di dalam tulang akan memberikan citarasa gurih tersendiri bagi kuah sop. Sedangkan untuk daging sapinya pilih yang banyak uratnya sehingga lebih cepat empuk. Jika Anda telah berencana akan memasak sop iga, akan lebih baik jika mulai merebus daging dan iga 3 hari sebelumnya, masing-masing selama 1 jam. Dengan cara ini maka pada hari H Anda tidak perlu menunggu waktu yang berjam-jam hanya untuk menunggu daging empuk. Selain itu dengan memberikan waktu yang optimal untuk mengempukkan daging, sumsum di dalam tulang juga akan lebih melunak sehingga kuah sop bisa lebih gurih. Iga sapi juga memiliki kandungan nutrisi yang baik bagi manusia. Mengkonsumsi iga sapi secukupnya dapat menagatasi kurang darah atau anemia, menjaga kesehatan otak, meningkatkan sistem kekebalan tubuh, dan baik bagi ibu hamil dan menyusui. Namun bagi Anda yang memiliki penyakit harap berhati-hati karena iga sapi juga mengandung kolesterol tinggi. Jika ingin mengkonsumsinya sebaiknya konsultasikan kepada dokter Anda. Bagi yang masih sehat mengkonsumsi iga sapi sah-sah saja seperti yang sudah disebutkan, dikonsumsi secara wajar. Bagaimanapun juga kolesterol dalam jumlah yang normal baik untuk tubuh termasuk sebagai sumber energi.
Alamat dan Kontak Penjual:
Sop Tulang Dan Stengkel Sapi Mangunsangkoro
Jl. Kis Mangunsarkoro, Jati Baru, Padang Tim., Kota Padang, Sumatera Barat 25129
0821-7040-6979
Sumber: http://caramemasakanekaresepmasakannusantara.blogspot.com/2015/04/cara-memasak-sop-buntutiga-khas-padang.html?m=1
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara