Produk Arsitektur
Produk Arsitektur
Produk Arsitektur Jawa Barat Tasikmalaya
Situs Kaputihan
- 17 Februari 2015

 Situs Kaputihan terletak di Desa di daerah Karoman Desa Purwahayu Kecamatan Taraju Kabupaten Tasikmalaya. Nama Kaputihan diambil dari perubahan agama hindu dan perilaku orang-orangnya waktu itu yang dianggap kotor menjadi agama Islam sekaligus dapat merubah perilaku dan cara beribadat yang dianggap bersih atau putih.Sebelum dinamai Kaputihan daerah ini biasa disebut Pamujaan orang-orang hindu di tata Sukapura, sedangkan yang berkuasa saat itu adalah Prabu Sanghyang Adegan dengan para pembantunya Prabu Kalang Jajar, Prabu Kalang Manafa, Prabu Puhun Mangkubumi dan Prabu Bentang, pada waktu itu semua rakyat disaerah tersebut memeluk agama Hindu. 

Riwayat Singkat  Situs Kaputihan    Pada jaman kerajaan Hindu daerah Copo/Kaputihan berada dalam wilayah kerajaan Galuh yang konon dipimpin oleh seorang raja bernama CIUNG WANARA. Raja Galuh mengutus 3 penggawa kepercayaannya yakni PRABU SANGIANG ADEGAN dengan 2 (dua) orang hulu balang bernama PRABU KALANG JAJAR dan PRABU PUNUH MANGKUBUMI untuk meperluas daerah kekuasaanya sambil menyebarkan Agama Hindu untuk meningatkan kemakmuran kerajaan Galuh. Untuk mempercepat hubungan ke daerah keputihan Raja CIUNG WANARA mengangkat PRABU KALANG MANAP dan PRABU KALANG BENTANG. Berkat kelincahan PRABU SANGIANG ADEGAN perkembangan Hindu tersebut mencapai ke  daerah SUKAPURA.   Menurut hikayat, beberapa tahun kemudian ke daerah Copo/Kaputihan kedatangan seorang Waliyulloh yang diutus Kerajaan Demak untuk menyebarkan Agama Islam, yang bernama SEIKH HAJI SAKTI DARMAJATI MEDAL SAKING KUDRATULLOH, dengan membawa misi menaklukan pusat pemujaan Agama Hindu dan menyebarkan Agama Islam.

 Dengan kesaktian PRABU SANGHIANG ADEGAN seakan-akan daerah Copo bergoyang dan labil, namun SEIKH HAJI telah dibekali sebuah Cepuk yang dinamai CUPU MANIK untuk melawan kesaktian orang Hindu. Khasiat dari Cepuk tersebut apabila dilemparkan, maka Tanah yang bergoyang dan labil kembali seperti semula. Adu kesaktian tersebut memakan waktu berbulan-bulan dan akhirnya seluruh penganut Agama Hindu takluk kemudian masuk islam termasuk PRABU SANGIANG ADEGAN dan Hulu balangnya.   Peninggalan yang masih ada sampai sekarang, adalah :   - BATU SANGIANG ADEGAN, posisi Berdiri Tegak, tinggi ± 170 cm dan Garis Tengah ± 42 Cm.  - BATU PANGKON, posisinya Berbaring, memiliki panjang ± 70 Cm dan Garis Tengah ± 31 Cm. konon Batu ini dibuat oleh Prabu Kalang Manap,  - BATU ALAM, posisinya Berbaring, memiliki panjang ± 120 Cm. Garis Tengah ujung yang besar ± 20 Cm dan Ujung yang kecil ± 10 Cm. konon batu ini dibuat oleh Prabu    Kalang Bentang, dan berkhasiat untuk menentukan alam sampai alam ke 12 maksudnya hari Qiamat dan sampai sekarang sudah menjadi 5 keping.   - KURSI dan MEJA dari Batu 1 Stel, tempat musyawarah para Prabu,  - BATU BAKI tempat menyimpan sesajian, berukuran Panjang ± 35 Cm, Lebar ± 20 Cm. memiliki 4 (empat) kaki tingginya ± 15 Cm.

 - SANGHYANG BATU DATAR sebanyak 2 buah, berukuran tinggi ± 120 Cm. Dan lebar ± 170 Cm. Diperkirakan Batu tersebut merupakan Pintu Gerbang. - BATU MERIAM, sebanyak 2 buah dengan ukuran Panjang ± 110 Cm. - BATU JAMBANGAN AIR /JAHAS, ada 3 ( tiga ) Buah yang memiliki ukuran yang berbeda, yakni :

1. Batu Jahas yang berukuran Tebal ± 5 Cm, tinggi  ± 38 Cm dan Garis Tengah ± 67 Cm. 

2. Batu Jahal yang berukuran Tebal ± 4 Cm, tinggi ± 35 Cm dan Garis Tengah ± 50 Cm.

3. Batu Jahal yang berukuran Tebal ± 7 Cm, tinggi ± 35 Cm dan Garis Tengah ± 43 Cm.

Konon Batu jahas tersebut berisi air yang tidak pernah kering. Menurut Kuncen ( Penjaga Situs ), air dari masing- masing Jambangan / Jahas memiliki khasiat yang berbeda-beda yaitu:

1. Air Batu Jahas yang pertama untuk mencuci tangan agar manusia selalu bersih hatinya,

2. Air Batu Jahas yang Kedua, apabila diteteskan kemata dapat melihat hal-hal yang bermanfaat,

3. Air Batu Jahas yang ke Tiga, untuk menyuburkan tanaman padi atau tanaman lainnya.

Diskusi

Silahkan masuk untuk berdiskusi.

Daftar Diskusi

Rekomendasi Entri

Gambar Entri
Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau
Ornamen Ornamen
Sumatera Barat

Eksplorasi Seni Ornamen Rumah Gadang: Simbolisme dan Warisan Budaya Minangkabau Identitas dan Asal-Usul Seni ornamen Rumah Gadang merupakan manifestasi kebudayaan masyarakat Minangkabau yang berfungsi sebagai media penyampaian nilai-nilai filosofis dan tradisi leluhur [S1]. Ornamen ini bukan sekadar elemen dekoratif, melainkan representasi mendalam dari cara hidup dan pandangan dunia suku Minangkabau yang diwariskan secara turun-temurun [S1]. Keberadaannya menjadi jendela utama untuk memahami kekayaan warisan budaya yang melekat pada arsitektur tradisional di wilayah Sumatera Barat [S1]. Secara konseptual, eksplorasi terhadap seni ornamen ini merupakan upaya penyelidikan dan penemuan pengetahuan baru mengenai simbolisme yang terkandung di dalamnya [S2], [S5]. Kegiatan eksplorasi dalam konteks budaya ini melibatkan proses penjelajahan lapangan untuk memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai bentuk, makna, dan fungsi ornamen tersebut dalam kehidupan masyarakat [S4], [S...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Jawa Tengah

Cerita Rakyat dari Jawa Tengah: Kisah Timun Mas Lead Kisah Di balik rimbunnya hutan Jawa Tengah, tersimpan sebuah narasi tentang keberanian yang melampaui usia. Kisah ini berpusat pada sosok gadis kecil bernama Timun Mas, yang namanya kini tak hanya dikenal sebagai tokoh dalam buku cerita anak-anak, tetapi telah menjadi bagian dari ingatan kolektif masyarakat Indonesia [S2], [S3]. Ia bukan sekadar karakter fiktif, melainkan simbol perjuangan yang gigih melawan ancaman raksasa yang hendak merenggut kebebasannya [S3], [S4]. Sebagai bagian dari kekayaan tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun, legenda ini memiliki daya pikat yang tak lekang oleh waktu [S1], [S2]. Di wilayah Jawa Tengah, cerita ini sering pula disebut dengan nama Mentimun Emas, sebuah variasi penamaan yang menunjukkan betapa luasnya penyebaran kisah ini dalam berbagai versi di tengah masyarakat [S2], [S5], [S5]. Keberadaannya yang populer membuktikan bahwa narasi tradisional ini tetap hidup dan relevan, bahkan h...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka
Senjata dan Alat Perang Senjata dan Alat Perang
Jawa Tengah

Keris Jawa: Lebih dari Sekadar Senjata, Simbol Budaya dan Pusaka Identitas dan Asal-Usul Keris merupakan pusaka masyarakat Jawa yang memiliki bentuk khas dan makna filosofis mendalam [S1]. Senjata tradisional ini diakui sebagai simbol budaya Nusantara dengan nilai sejarah, seni, dan filosofi yang tinggi [S3]. Keris Jawa secara spesifik merupakan salah satu simbol budaya yang sangat penting dalam sejarah dan tradisi Jawa [S2, S7]. Pengakuan UNESCO terhadap keris sebagai warisan dunia menegaskan statusnya yang berasal dari zaman logam [S4]. Secara historis, keris tidak hanya berfungsi sebagai senjata tradisional untuk peperangan [S2, C2], tetapi juga sebagai benda pusaka warisan nenek moyang [C3]. Lebih dari itu, keris juga menjadi simbol spiritual, status sosial, dan warisan keluarga [C12]. Keris Jawa sendiri memiliki banyak jenis dengan fungsi dan makna yang berbeda, mencerminkan kekayaan tradisi yang menyertainya [C8]. Keberadaannya juga meluas sebagai alat perlengkapan dalam b...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan?
Naskah Kuno dan Prasasti Naskah Kuno dan Prasasti
Bali

Lontar Usada Bali: Warisan Pengobatan Nusantara yang Terlupakan? Identitas dan Asal-Usul Lontar Usada Bali adalah naskah klasik yang mengkategorikan diri dalam ranah pengetahuan dan praktik pengobatan tradisional (usada) di Nusantara [S1], [S3]. Naskah-naskah ini secara spesifik ditulis di atas daun lontar dengan menggunakan aksara dan bahasa Bali Kuna hingga Bali Tengahan [S1]. Kategorinya dalam sistem Warisan Budaya Takbenda Indonesia masuk dalam domain "Pengetahuan dan kebiasaan perilaku mengenai alam dan semesta," sejalan dengan penetapan praktik serupa seperti Pengobatan Tradisional Raksa Jasad [S2]. Asal-usul historisnya di Bali seringkali dilekatkan pada periode pengaruh Majapahit dan penyebaran agama Hindu, meskipun sayangnya, belum ada sumber dari daftar yang secara pasti mengungkap waktu dan tokoh awal penciptaan teks-teks ini. Salah satu versi mengaitkan proses kodifikasi dan pengembangan sistem pengobatan ini dengan peran Dang Hyang Nirartha, seorang tokoh...

avatar
Kianasarayu
Gambar Entri
Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo
Cerita Rakyat Cerita Rakyat
Sulawesi Selatan

Kedatuan Luwu: Salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan yang jejak sejarahnya berkelindan erat dengan mitolo Identitas dan Asal-Usul Kedatuan Luwu diidentifikasi sebagai salah satu peradaban tertua di Sulawesi Selatan, dengan jejak sejarah yang terjalin erat dengan mitologi, tradisi lisan, dan bukti arkeologis [C11]. Sejarah awal Luwu tidak terlepas dari kisah kosmologis mengenai kedatangan manusia pertama ke bumi, yang menjadi dasar pembentukan tatanan sosial dan kekuasaan di wilayah tersebut [C12]. Kedatuan ini merupakan salah satu dari tiga kerajaan Bugis pertama yang tercatat dalam epik I La Galigo , bersama dengan Wewang Nriwuk dan Tompotikka [S1]. Pendirian Kedatuan Luwu diperkirakan terjadi pada abad ke-14 [C4], dengan Tumanurung sebagai Datu Mappanjunge' ri Luwu pertama pada tahun 1300-an [C3]. Kedatuan ini berlanjut hingga sekarang [C1], meskipun tidak memiliki mata uang sendiri dan menggunakan sistem barter [C5]. Luwu bersama kerajaan-kerajaan lain diakui sebag...

avatar
Kianasarayu