Situs/Lokasi khas ziarah Joglo (Seikh Zaenudin) dan Gua Sarongge berlokasi di Desa Bantarkalong Kecamatan Cipatujah. Berjarak sekitar 60 Km dari pusat kota Tasikmalaya, luas area sekitar 1 Ha. Seikh Zaenudin adalah murid Sekh Abdul Muchyi Pamijahan yang menyebarkan Agama Islam di wilayah Jawa Barat Selatan. GUA SARONGGE, LINGKUNGAN, DAN KARAKTERISTIKNYA Gua Sarongge menurut Aja ( Juru pelihara) mungkin telah ada sebagaimana aslinya sejak bumi diciptakan Allah SWT. Untuk mencapai gua dari jalan raya bisa ditempuh dengan jalan setapak naik ke Makam Syekh Zaenuddin kurang lebih 100 meter kemudian bagi yang senang bertualang gua dapat dicapai dengan menaiki mobil atau sepeda motor, melalui lingkungan topograf naik turun. Diatas Gua Sarongge sendiri sebagian ditumbuhi oleh kebun hak milik warga masyarakat, dan sebagian lagi tanah milik desa, dengan lingkungan sekelilingnya adalah kebun dan sawah. Bagi para pengunjung Gua, sebelum masuk gua diharuskan mengikuti tata tertib yakni harus mempunyai Wudhu dan seseorang dari rombongan harus melantunkan adzan didepan pintu gua, dan membaca bacaan-bacaan lain yang ditentukan. Gua Sarongge mempunyai karakteristik yang unik yang bisa kita saksikan didalam gua, profil berikut ini.
Nama Gua : Sarongge/Gua Sunan Rahmat Letak
Kordinat : 108º 04’ 52.7” BT 07º 39’ 29.4”
LS Ketinggian : 228 meter DPL
Kampung/Dusun : Cirangkong/Sarongge
Desa/Kecamatan : Bantarkalong/Cipatujah
Kabupaten/Provinsi : Tasikmalaya/Jawa Barat
Laut/Gunung terdekat : Hindia/Pasir Langit
Bentuk mulut gua : Segiempat(amorf)
Ukuran mulut gua : 1,8 x 0,8 meter
Panjang lorong gua : 112 meter(lorong utama)
Lebar lorong gua : 08 - 34 meter
Letak mulut gua/lorong : Tebing/horizontal
Kapasitas memuat : 10 – 100 orang
Derajat kesulitan : Mudah Kepemilikan tanah-tanah Desa
Juru kunci saat ini : Dedi Abdullah, Drs.
Pemanfaatan gua saat ini : untuk kegiatan wisata ziarah
Tempat lainnyadalam gua, yang diyakini masyarakat sekitar merupakan tempat bersejarah, antara lain :
1. Batu Harum. Batu sebesar batu asahaan menempel di dingding gua. Bila dicium atau hidung kita cukup dekat maka bau harum akan terasa.
2. Paimbaran. Mimbar tempat berkhotbah termasuk lapangan yang rata dan cukup luas untuk menampung 100-200 para pendengar khotbah atau shalat berjamaah. Sekarang sering dipergunakan oleh perorangan atau rombongan untuk bertawakal.
3. Kubah Mesjid. Kubah ini merupakan lobang diatas langit-langit gua, yang diameter bawahnya kurang lebih satu meter, makin keatas makin Sumber : Disparbud Kab. Tasikmalaya.
Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng. Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng. Jipeng: Kombinasi Unik Tanji dan Topeng dalam Orkes Betawi Sebuah seni teater khas Betawi yang muncul dari kolaborasi antara Tanji dan Topeng.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland