Ada dua pendekar yang gagah perkasa bernama si Pahit Lidah dan si Mata Empat. Sayangnya, mereka selalu bersaing dan merasa dirinya yang paling hebat.
Hingga suatu hari, mereka bertarung untuk menentukan siapa yang paling hebat. Pertarungan berimbang. Untuk menentukan siapa yang menang, akhirnya mereka memutuskan salah seorang dari mereka untuk bertelungkup di bawah pohon aren dan lawannya akan menjatuhkan tandan bunga aren dari atas pohon secara bergantian. Dan siapa yang terkena tandan bunga aren dinyatakan kalah.
Si Mata Empat mendapat giliran pertama. Si Mata Empat memiliki empat mata, yaitu dua di depan dan dua di belakang kepalanya. Dengan gesit, si Pahit Lidah memanjat pohon aren dan berhasil memotong bunganya. Sementara, si Mata Empat bertelungkup di bawah pohon aren. Karena memiliki empat mata, si Mata Empat pun berhasil menghindari bunga aren yang dijatuhkan dari pohon oleh si Pahit Lidah. Selamat lah si Mata Empat.
Kini, giliran si Mata Empat memanjat pohon aren. Sedangkan si Pahit Lidah bertelungkup di bawah pohon aren. Dengan cepat si Mata Empat memotong bunga aren dan menjatuhkannya ke tubuh si Pahit Lidah. Si Pahit Lidah tidak bisa menghindar. Akibatnya, tubuh si Pahit Lidah terkena bunga aren yang tajam. Seketika itu juga ia tewas.
Si Mata Empat menjadi pendekar paling sakti. Namun, si Mata Empat masih penasaran dengan lidah yang dimiliki si Pahit Lidah. Apakah lidahnya benar-benar pahit seperti namanya? Dibukalah mulut si Pahit Lidah. Kemudian ia tempelkan telunjuknya ke lidah si Pahit Lidah. Lalu, ia jilat jari telunjuknya yang terkena liur si Pahit Lidah itu.
“Ups! Benar-benar rasanya sangat pahit.” Memang benar rasa pahit itu adalah racun mematikan yang ada di lidah si Pahit Lidah. Akhirnya, si Mata Empat pun tewas seketika.
Kini, tidak ada lagi pendekar yang terkenal saat itu. Mereka tewas sia-sia akibat kesombongannya sendiri.
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara