Sayur Pindang Gombyang Khas Indramayu
Sayur Pindang Gombyang adalah salah satu makanan khas dari Indramayu. Ya, namanya mungkin sedikit asing bagi anda pembaca sekalian. Karena memang kurang popular di mata masyarakat. Bila anda berkunjung ke Indramayu pun, cukup sulit untuk menemukan makanan khas yang satu ini. Makanan ini termasuk makanan rumahan, oleh karena itu jarang orang menemukannya di rumah makan di Indramayu.
Sayur Pindang Gombyang ini memiliki cita rasa yang penuh rempah rempah, salah satu ciri dari kekayaan kuliner nusantara. Rasanya didominasi oleh rasa asam yang menyegarkan dari asam muda dipadu dengan rasa gurih dari santan segar membuat nafsu makan menjadi meningkat. Ikan yang dipakai di sayur ini adalah ikan Manyung, mungkin anda jarang mendengarnya dan lebih familiar degan ikan jambal roti. Pada dasaranya jambal roti adalah ikan manyung yang diasinkan. Bila sayur ini dimakan dengan sepiring nasi putih hangat, dijamin anda akan ketagihan. Tanpa basa-basi lebih lanjut, ini bahan-bahan dan cara membuat Sayur Pindang Gombyang :
Siapkan bahan-bahan berikut ini ya :
1 kg Ikan Manyung atau ikan jenis lainnya, potong beberapa bagian
2 buah jeruk nipis, lalu peras airnya
1 sdm garam
800 ml santan encer
700 ml santan kental
100 gram asam muda
3 sdm minyak, untuk menumis
Untuk bahan bumbu Sayur Gombyangnya, siapkan bahan berikut ya:
3 cm kunyit, haluskan
6 butir kemiri sangrai, haluskan
8 butir bawang merah, iris tipis
5 siung bawang putih, iris tipis
10 buah cabai merah keriting, iris halus
2 lembar daun salam
3 cm lengkuas, memarkan
4 buah temu kunci
1 sdm garam
1 sdm gula pasir
Kita lanjut ke cara membuatnya, perhatikan tahap-tahapnya:
Negara kita tercinta ini kaya akan keragaman kuliner yang tanpa batas dari Sabang sampai Merauke. Kita boleh menikmati kuliner modern yang beredar saat ini, namun jangan sampai melupakan warisan kuliner Negara kita ini. Ayo kita mulai mencintai kembali makanan tradisional Indonesia yang sangat beragam ini. Kembali bernostalgia di setiap suapan yang anda makan, sambil mengingat kasih saying orangtua dahulu. Cinta Kuliner Indonesia, Cinta tanah air Indonesia. Salam satu Indonesia!
sumber : wawancara dengan ibu
Kidung Lakbok atau Wawacan Kidung Lakbok adalah karya sastra lama berbentuk wawacan yang berasal dari Kecamatan Lakbok, Kabupaten Ciamis. Naskah ini diterbitkan kembali dan disusun rapi oleh M. Karso Prawiraatmadja di Bandjar pada tanggal 31 Agustus 1956. Karya ini menyimpan nilai sejarah dan kearifan lokal masyarakat setempat. Dokumentasi digital dan data ini disusun serta disumbangkan oleh Henri Purwanto.
HUDON TANO (Periuk Tanah) Di bawah ini merupakan foto tua (foto jaman dulu) penjual Hudon Tano (Periuk Tanah) di Onan (Pasar) Tarutung di tahun 1930. Masyarakat Batak yang tinggal di Sipoholon, Tarutung, dahulu kala terkenal sebagai "Sitopa Hudon" (pembuat periuk tanah). Dahulu, Hudon Tano ini digunakan secara meluas di Tanah (Tano) Batak sebagai alat masak tradisional. Bisa dibayangkan betapa enak dan nikmat rasanya melihat dan menikmati arsik atau menggulai Ikan Mas atau Ikan Batak (Ihan Batak), Porapora (Ikan Air Tawar), Haruting (Ikan Gabus), SIbahut (Ikan Lele), dan Incor (Ikan Air Tawar Kecil) yang dimasak menggunakan Hudon Tano ini... Sumber Foto : KITLV 28692
Benda Magis Masyarakat Batak Toba : Pagar Jabu - Sahan - Pohung 3 benda magis ini termasuk kategori Ilmu Putih yang berfungsi sebagai pelindung dari sihir dari niat orang jahat. PAGAR JABU (Bahasa Batak Karo : Bekam-bekam), berbentu tanduk hewan berisi sibiangsa (ramuan magis) yang berfungsi sebagai pelindung rumah dari serangan sihir jahat. SAHAN, terbuat dari gading atau tanduk tempat menyimpan pupuk (abu jenazah) yang memiliki kekuatan magis sebagai pagar (pelindung) dan konon dapat diminta untuk membinasakan musuh. POHUNG, sejenis ukiran yang dibungkus ijuk lalu diisi ramuan magis. Pohung ditempatkan di dalam rumah dan / atau di kebun yang memiliki fungsi mencegah niat jahat / pencuri hasil kebun dan harta di rumah. Sumber Koleksi : Museum Negeri Provinsi Sumatera Utara
Ilmu Tamba Tua adalah Elmo Kuno Batak (Ilmu Putih), dahulu ilmu ini dipercaya jika diamalkan akan mendatangkan kemakmuran serta kekayaan. Transliterasi (alih aksara) : ahu debata ni raja di bindu jao raja ni tam (ba) tua raja on di sim- bora di bulung hayu na denggan go- rar pe i do jadi lapi ni ta- taring ni ru- manta jadi tondolan ni balatuk ni rumah bea la... Rajah "gambar" di bawah bernama dewa "bindu jao". Rajah ini ditulis pada timah dan daun kayu (jenis yang bisa dituliskan). Rajah ini akan membawa kemakmuran bagi penghuni rumah apabila dibuat menjadi alas tungku perapian dan jika diletakkan sebagai alas tangga rumah. Sumber Foto : Verzeichnis der orientalischen handschriften in Deutschland
Surat Tulisan Tangan Ompu i Pendeta Dr I.L. Nommensen tahun 1871 dengan Aksara Batak Toba dan Bahasa Batak Toba Klasik (na robi). Nommensen, Apostel Orang Batak dan Ephorus HKBP Pertama tahun 1881 - 1918, sangat fasih berbahasa Batak Toba klasik dan kontemporer (na imbaru), Nommensen juga sangat mengusai tulisan dan / atau aksara Batak Toba. Surat yang ditulis tangan Ompu i Nommensen di Pearaja, Tarutung, tanggal 02 Agustus 1871 ini merupakan dokumen dan bukti sejarah yang sangat penting, yang menunjukkan betapa Beliau menguasai serta menghormati adat, budaya, tradisi, dan literasi masyarakat Batak Toba. Beliau tidak memaksakan bahasa Jerman dan aksara Latin, tetap justru menggunakan bahasa dan aksara asli masyarakat Batak Toba untuk berkomunikasi dan mendokumentasi pelayanannya. Sumber Foto : Sopo Nommensen, Pearaja, Taruutung Sumatera Utara